Minggu, 29 Desember 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

OKTOBER TIGA TAHUN LALU

Masih sering menertawakan awal oktober tiga tahun (lalu)...
Pukul 10 petang kiranya saat itu. Aku mencoba tuk mengupas sisa-sisa perjalanan yang pernah kita lalui, kemarin... lucu, aneh, gila sepertinya, karna saat itu kau sudah punya kekasih dan aku mencoba mendekatimu dengan sikap diamku. Berjalan begitu saja seperti air yang mengalir. Hingga akhirnya sampai disatu tempat yang bernama hati, disanalah aku dan kamu mulai bermuara dalam situasi bernama cinta. Kedekatan kita saat itu tidak hanya sebatas adik dan kakak. Bahkan saat senior diatasku pun mendekatimu, kau tetap tunjukkan sikap yang berbeda yang tak kau tunjukkan terhadapku. Ada apa ini?
Akhir oktober hampir berlalu, dan kau berubah. Ya, tak ada alasan sedikitpun yang kau lontarkan saat itu. Kau berubah drastis dan aku sama sekali tak mengerti apa yang sedang kau rencanakan dan kau lakukan. Aku berusaha mengolah pikiran agar tak selalu tertuju padamu, tapi gagal. Aku diam-diam menengok ke sosial media milikmu, berharap ada sepucuk kabar baik darimu dan kau tak perlakukan ku sedingin kemarin. Tapi nihil hasilnya. Aku kebingungan.
November datang, selepas aku pulang dari Bali saat itu, aku merasa ada yang tak seperti biasanya, aku mulai merindumu, kehadiranmu, suaramu, ah ada apa ini? Aku mulai jatuh cinta padamu. Hey! Ini bukan hanya sekedar sayang, tapi cinta.
Minggu kedua dibulan yang sama. Kau mulai kembali hadir disini, kita berbincang, kita saling menatap, kita saling melempar senyum satu sama lain. Ingatkah juga tentang “kasay dan desay”? hahaha, itu lucu ya! Dibalik panggilannya tersembunyi rasa yang tak pernah kita sangka hingga akhirnya kita menyatu ditanggal yang cantik. Tanggal 11, bulan 11, tahun 2011 dan semalam sebelumnya, aku sempat berharap, kau pasti tau itu.
Kembali lagi ke pesan itu. Pesan itu selalu jadi peninggalan awal kita memulai semuanya. Walau singkat, namun itu sangat berarti untukku, ntah untukmu bagaimana. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur, dengan santainya aku membuka halaman demi halaman pesan oktober tiga tahun lalu darimu. Aku mulai terkekeh, dan bertanya “bagaimana bisa akhirnya kami menyatu didalam percakapan sesederhana itu?”. Aku mulai menggelengkan kepala. Cinta tak bisa diartikan sesempit percakapan sederhana kemarin. Aku sign out dari sosmed yang kumiliki. Lalu otakku mulai menerjemahkan keberadaanmu saat itu. Kau yang selalu kulihat selepas ba’da Dzuhur dan Ashar untuk menunaikan shalat, kau yang selalu kulihat sering terlambat masuk sekolah dan dihukum dilapangan. Ahh, ternyata aku diam-diam memerhatikanmu. Sudahlah cukup. Aku tak ingin kembali menjatuhkan airmataku hanya untuk orang yang jarang menoleh padaku.
Di pesan oktober tiga tahun itulah aku mengungkapkan semuanya, termasuk perasaan yang sudah cukup lama tersimpan. Di pesan oktober tiga tahun itulah yang membawa kita sampai ditempat dimana kita berada sekarang. Dan di pesan oktober tiga tahun itulah, aku sering menertawakan “kita” yang menyatu karna obrolan singkat di pesan oktober tiga tahun yang lalu.

Dariku yang masih menyimpanmu diruang yang bernama,
Hati...
Selamat Malam, untukmu...
Rabu, 25 Desember 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

AKHIR TAHUN TANPAMU


malam semakin larut, bunyi petasan dan bercak kembang api mulai terdengar dan terlihat. malam ini adalah malam tahun baru, dan esok 2014. tahun baru, bulan baru, hari baru, harapan baru, tapi sama sekali tak ada yang baru dihidupku. aku masih saja menetap pada yang sama sejak bulan sembilan itu berlalu.
aku berdiam diri di kamar, tak ada yang berubah sedikitpun, semua tetap pada posisinya, tapi akankah kesamaan ini masih tetap sama seperti kesamaan kita dihari kemarin?

aku beranjak dari tempat tidur, mengobrak-abrik kenangan disebuah kotak dan ponsel yang selama ini menemaniku. ya, kenangan itu masih tersimpan dengan baik bersama mimpi dan harapan yang tak terwujud. aku membukanya perlahan-- pedih rasanya. melihatmu pergi begitu saja seakan tak pernah terjadi apa-apa diantara kita, dan seketika aku tahu dengan mudahnya aku tergantikan, itu semakin membuat lukaku lama untuk mengering.

ku buka pesan-pesan yang masih menetap diponselku, membacanya dan aku melihat waktu, ohhh betapa manisnya kita dihari kemarin. aku diam, menatap tiap sudut kamar dengan mata berkaca-kaca, lalu hati bicara "ada apa dengan kita dihari ini?"
sekali lagi, kenangan ini masih melekat jelas difikiranku sejak kamu melangkah pergi semakin jauh, semakin jauh, dan semakin sangat jauh hingga aku tak dapat mendefinisikan keberadaanmu saat ini.

masih melekat didalam memory, kita yang merasa sempurna saat kita saling melengkapi, masih terasa hembusan nafasmu saat kau ungkapkan sayang ditelingaku, segalanya masih terasa hingga jelas dan aku menyadari bahwa ternyata kini aku sendiri.
ingatkah? kita pernah merasa bahagia saat kita saling mencintai, saling mengungkapkan cinta walaupun itu hanya lewat ponsel. lalu, jika benar ini adalah kebahagiaan, mengapa kita berpisah begitu saja?

disini, dikamar ini, aku masih saja asyik mengobrak-abrik kenangan tentang kita. kotak dan ponsel itu seakan jadi satu-satunya tempat untuk menyimpan kenangan kita selama 21 bulan lebih kita bersama. pukul 12 malam berlalu. sekarang tahun baru 2014, "selamat tahun baru untukmu disana". ucapku dalam hati dan aku melanjutkannya dengan do'a.
dimalam ini, didalam jarak yang tak begitu jauh, tapi tetap pada satu langit yang sama, aku berharap tentang kita ditahun yang akan datang. berharap tentang hal-hal yang mungkin esok tak bisa kita lakukan bersama. semoga kamu disana merasakannya.

ingin sekali aku berharap bahwa semua ini adalah mimpi buruk yang terjadi dalam tidurku, dan aku akan menguncimu dan menutup hatiku rapat-rapat hingga kau tak benar-benar pergi dari sini. tapi kenyataan berucap bahwa ini adalah sebuah realita pahit.


selamat malam tahun baru tanpamu :)
02 September 2013 - 31 Desember 2013
Jumat, 06 Desember 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

INI TULISANKU, BERDIRI SENDIRI TANPAMU


itu kata yang terucap dibibir sore ini.
tapi lihatlah apa yang ku tulis sekarang.
lagi-lagi tentangmu yang tak pernah bisa ku hilangkan.
bukan tak bisa katamu, tapi aku yang tak pernah mau mencoba.

ya, aku memang tak pernah mau mencoba.
tak akan pernah! bahkan untuk sekalipun.
bukan karna aku tak mampu, aku ingin bahkan sangat ingin melupakanmu.
tapi hati dan logika berbalik lagi ke arahmu setelah aku mencoba pergi dan hilangkan mu dari sini!
aku terperangkap, dalam ruang yang bernama hati.

hari ini, kamu kembali.
menoleh lagi padaku, untuk mengulang apa yang pernah terjadi.
tapi lihat, aku sama sekali tak melihat hatimu menoleh lagi kesini.
apa yang sebenarnya terjadi dengan kita saat ini?
kamu menjelaskan semuanya, aku diam, kamu mulai genggam tanganku, lalu aku menangis.
itu hal yang jarang, bahkan tak pernah lagi terjadi saat bulan sembilan itu berlalu.
itu salah satu hal yang ku rindukan, sayang.
genggaman tanganmu yang buatku merasa tenang.
aku menangis sejadi-jadinya saat semua yang ada disini tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata lagi.

"maaf, jika perhatianku ini salah"

begitu katamu, lalu kamu beranjak dan melangkah pergi.
aku mulai angkat bicara, bicara semua yang aku rasa selama ini. selama kamu tak ada disini tepatnya.

"aku gak bisa"

Kamu genggam tanganku, dan raih tubuhku untuk kamu dekap.

"aku kangen. aku kangen kita yang dulu. yang suka jalan bareng, keluyuran gajelas, ngobrol bareng, yang tiap malam kalo aku kebangun aku recokin kamu, mimpi bareng. aku capek, aku pengin kamu ada untuk sms aku tiap pulang kuliah, temenin aku ngobrol sampe larut malam."

kamu genggam tanganku lagi.

"pernah gak sih kamu merasa kaya gini?"

pernah jawabmu.

"kamu fikir aku gampang melupakanmu? ini gak mudah, dhiah. kamu perempuan yang nyakitin aku tapi aku dengan bodohnya masih terima kamu."

aku diam.

"kemarin, teman-teman baca blog ku, aku posthing puisi-puisi yang pernah kamu kasih sama aku, mereka tanya aku "ini setiap anniv dikasih, mar?" ku jawab ya. lalu dia pujimu, Zuhri romantis ya.. sambil membayangkan kalo lelaki yang mereka punya sekarang sepertimu. lalu kapan kamu buat puisi untukku lagi?"

"hatiku sudah mati"

aku hanya diam.
dan waktu berlalu begitu saja.
begitu cepat mengupas semua kenangan yang pernah terjadi antara kita.
lalu kamu pulang.

"kapan kita bisa jalan lagi? jangan lupa makan, jangan nakal, sekolah yang bener, rambutnya potong biar rapi, jangan lupa shalat!"

dan, lagi-lagi adanya perpisahan antara kita..

"It's late at night and neither one of us is sleeping, I can't imagine livin' my life after you gone. I keep on searching for the reason "why we went wrong? where is our yesterday?" you and I could use it right now"

ini lagu yang kamu beri untukku, Just Take My Heart.
Jumat, 15 November 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

INI...

terkadang harus ada kata terlambat,
untuk bisa benar-benar sadar tentang semua.
harus ada kata penyesalan,
untuk bisa merasa sesal tentang apa yang terjadi.
harus ada kata terlanjur,
untuk akhirnya penolakan secara halus.

hihi, manusia..
semua serba terlambat,
semua serba menyesal,
semua serba terlanjur,
dan baru bisa engeh, kalo semuanya sudah hilang.

menunggu pun mungkin percuma,
ia takkan menoleh (lagi) kesini,
yang ada hanya harapan dibalik kemungkinan yang tidak pasti.
sangat tidak pasti, ya.. karna terlambat.

menyesal? pasti.
sayangnya, penyesalan SELALU datang diakhir kejadian,
sedikitpun, ia tak pernah berganti posisi didepan,
begitulah penyesalan.
maka, fikirkanlah sebelum melakukan sesuatu.

terlanjur? iya..
terlanjur buat semuanya pergi dengan keterlambatan dan penyesalan,
padahal, semua masih bisa terselamatkan, dan punya akhir yang bahagia.
jika kita tak terlanjur melakukan kecerobohan.

hihi, andai dapat terulang..
itu yang kemudian terucap dari bibir,
namun, ini kehidupan nyata,
bukan HarPot atau Doraemon,
tak ada jam pemutar waktu di kekehidupan ini,
lagi-lagi semua terlambat dengan penuh penyesalan,
dan yang terlontar lagi hanya...
"maaf, ini sangat terlambat dan aku... menyesal."
Kamis, 14 November 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

KAMI, BADAI, DAN PELANGI KEBAHAGIAAN

hallo!
namaku awan, aku hidup bersama langit.
kami tidak pernah terpisah,
bahkan untuk sekalipun :)
siang dan malam kami selalu bersama.
Tuhan sudah takdirkan kami berdua,
bahkan untuk selamanya.
langit sangat setia kepadaku,
biarpun ada matahari yang selalu meneranginya,
dia akan tetap disini bersamaku.
dia tidak pernah berpaling, sekalipun.
biarpun ada bulan yang menggoda dengan keindahannya,
dia tak pernah lupa kepadaku.
langit sosok yang ideal untukku.
langit adalah kekasih sejatiku :)
namun suatu pagi,
badai datang mengganggu kami.
badai merusak, bahkan memisahkan jarak antara aku dan langit.
badai membuat semuanya kacau balau.
hingga aku menangis, dan turunlah hujan.
aku takut,
sangat takut jika langit tak lagi ada untukku.
aku mencintai langit, dan sangat mencintainya :(
langit takkan pernah bisa tergantikan oleh apapun.
hingga siang menjelang,
tiba-tiba badai berlalu,
dan langit kembali padaku,
langit membawakan sejuta senyum untukku,
langit... oh langit,
aku tak bisa berkata lagi...
hujan pun berhenti dan Tuhan memberi hadiah untuk kami,
untuk kami yang saling bertahan biar badai menerjang,
lukisan ini... lukisan indah dari Tuhan.
kebahagiaan yang Tuhan beri takkan pernah tertandingi,
ini dia.. Pelangi.
terimakasih Tuhan.
Minggu, 22 September 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Bumi Cinta (Part 17)

Bumi Cinta Part.17 Harapan
Karya : Habiburrahman El Shirazy

Yelena dan Bibi Margareta sedang makan pagi ketika Ayyas tiba. Yelena nampak senang dengan kedatangan Ayyas, demikian juga Bibi Margareta.
"Kau sudah makan, malcik?" Tanya Bibi Margareta yang kini sudah berpakaian sangat rapi dan bersih. Siapa pun yang melihatnya tidak akan
mengira kalau dia sebelumnya adalah seorang gelandangan berpakaian kumal tanpa rumah tinggal tetap di Moskwa.
"Hari ini saya puasa, Bibi." Jawab Ayyas.
"O puji Tuhan. Kau orang yang taat beragama."
"Bagaimana keadaanmu Yelena?" Sapa Ayyas pada Yelena yang sedang menikmati sup Borsh yang masih mengepulkan uapnya.
"Dokter Tatiana menjelaskan besok sore saya bisa pulang." Jawab Yelena dengan mata berbinar.
"Syukurlah."
"Saya ingin Bibi Margareta ini terus menemaniku. Dia akan aku ajak tinggal di apartemen. Satu kamar denganku. Bagaimana menurutmu? Apa kamu keberatan kalau Bibi Margareta masuk kamar kita?"
"Sama sekali tidak. Justru itu sangat baik untukmu dan untuknya."
"Aku pikir juga begitu."
"Bahkan kalau kau mau. Kau bisa ambil kamar saya untuk Bibi Margareta."
"Maksudmu!?"
"Beberapa hari lagi saya mau pindah. Ada orang Indonesia, seorang guru di Sekolah Indonesia Moskwa yang memintaku untuk tinggal bersamanya.
Kamarku bisa dipakai Bibi Margareta, sehingga kau tetap nyaman."
"Kenapa kau akan pergi secepat ini? Berilah aku kesempatan membalas kebaikanmu." Kata Yelena agak sedih.
"Aku sudah bilang bahwa aku merasa tidak berbuat apa-apa kepadamu, selain aku hanya melakukan sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku."
"Jadi dasarmu adalah perintah Tuhan?"
"Ya. Di dalam Islam diajarkan, bahwa menyelamatkan satu nyawa anak manusia itu sama saja dengan menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia. Allahlah sendiri yang mengatakan hal itu di dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al- Quran."
Bibi Margareta menyela, "Ajaran yang sangat indah."
Ayyas tidak lama menjenguk Yelena, yang penting ia sudah tahu keadaannya. Tak lebih dari sepuluh menit Ayyas duduk di kamar VIP tempat Yelena dirawat. Ketika Ayyas pamit Bibi Margareta nampak masih menginginkan Ayyas duduk dan berbincang-bincang di situ. Begitu juga Yelena.
"Maaf, saya harus ke kampus sekarang. Masih banyak hal yang belum saya selesaikan. Kalau saya banyak menunda-nunda pekerjaan saya, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya dapatkan." Ayyas tetap bersikukuh harus pergi.
"Baikah kalau begitu. Selamat jalan Bogatir! Tuhan menyertaimu!" Kata Bibi Margareta penuh pujian dan doa.
"Ya selamat jalan, Bogatir!'"Yelena ikut menyanjung Ayyas seperti Bibi Margareta.
Ayyas yang disanjung malah menghentikan langkah. Sebab ia tidak tahu apa maksud mereka berdua menyebutnya bogatir.
"Maaf, saya tidak paham. Apa itu Bogatir? Apa makna dan maksudnya?" Tanya Ayyas.
"Jelaskanlah Yelena!" Pinta Bibi Margareta.
"Bogatir adalah sebutan untuk kesatria zaman dulu yang sangat masyhur dalam folklor Rusia dan keperkasaannya menjadi pujaan orang Rusia.
Saya sendiri sekarang jarang mendengar sanjungan model ini. Tapi generasi Bibi ini menggunakannya secara luas. Dan itu sanjungan yang luar biasa. Ketika Bibi menyanjungmu begitu, saya rasa tepat." Jelas Yelena dengan wajah lebih cerah.
"Baik terima kasih atas pujiannya. Da svidaniya! (Sampai jumpa)” Kata Ayyas sambil melambaikan tangan dan bergegas pergi.
"Zhelayu uspekha!" (Semoga sukses) Sahut Yelena dengan senyum mengembang.

***

Tidak ada tanda-tanda Doktor Anastasia Palazzo telah datang ketika Ayyas memasuki ruang Profesor Tomskii. Ruang itu tidak dikunci tapi pastilah Bibi Parlova yang membukanya.
Jika Doktor Anastasia Palazzo telah tiba, biasanya palto tergantung di salah satu sudut ruangan itu. Ayyas langsung mengambil buku tentang sejarah
hubungan diplomasi pemerintah Uni Soviet dengan Iran.
Satu bulan setengah pertama di Moskwa memang ia jadwalkan untuk membaca literature sebanyak-banyaknya. Sesekali ia mencatat hal-hal
penting dalam catatan kecil. Ia juga pasti akan melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang pernah hidup pada zaman komunis Uni Soviet, utamanya zaman Lenin dan Stalin, jika masih ada sebagai saksi sejarah. Atau
orang yang benar-benar tahu persis kondisi social pada masa itu. Imam Hasan Sadulayev berjanji akan banyak membantu.
Sampai pukul setengah dua siang Doktor Anastasia Palazzo belum juga datang. Ayyas sama sekali tidak menghiraukannya. Terkadang ia malah merasa lebih senang jika Doktor Anastasia tidak datang menemuinya sehingga ia bisa lebih konsentrasi dan lebih banyak membaca.
Ayyas melihat jadwal waktu shalatnya. Hari ini Zuhur datang pukul 12.50, lalu Ashar pukul 14.31, Maghrib pukul 16.41, dan Isya akan tiba pada pukul 18.00. Berarti sudah tiba waktu shalat Zuhur. Ayyas tanpa ragu mengambil air wudhu lalu berdiri tegak takbiratul ihram dan hanyut dalam kenikmatan berdialog dengan Tuhan Yang Maha Pencipta.
Doktor Anastasia Palazzo telah duduk di sofa ketika Ayyas selesai shalat.
"Sebenarnya aku sudah sampai sejak pagi tadi. Begitu sampai aku dikontak Profesor Lyudmila Nozdryova, untuk mendampinginya menemui tamunya, orang penting dari Yunani. Tamunya itu tidak bisa bahasa Rusia, dan bahasa
Inggrisnya kurang lancar. Aku terpaksa yang menjadi penerjemah, sebab tamu itu bicara dalam bahasa Yunani." Kata Doktor Anastasia pada Ayyas.
"Berarti semuanya sukses." Sahut Ayyas sambil bangkit dari duduknya di atas lantai.
"Puji Tuhan. Tapi masih ada satu masalah yang harus aku selesaikan. Di Fakultas Kedokteran akan ada seminar tentang ketuhanan. Sampai kemarin soal pembicara tidak ada masalah. Dari kalangan Islam kami minta seorang intelektual muda dari Kazan University. Sayangnya tadi pagi ada telpon dari Kazan, dia tidak bisa karena dengan sangat mendadak harus terbang ke Timur Tengah menemani kunjungan Mufti Rusia. Padahalseminar tinggal empat hari lagi."
"Saya ada kenalan seorang Imam lulusan Syiria kalau kau mau?"
"Boleh. Kau ada nomor kontaknya?" "Ada."
"Coba saya minta. Biar saya hubungi sekarangjuga. Namanya siapa?"
"Namanya Imam Hasan Sadulayev. Ini nomornya." Ayyas menyodorkan ponselnya yang menyala. Doktor Anastasia mencatat ke ponselnya lalu menghubunginya. Beberapa saat kemudian terjadilah pembicaraan antara Doktor Anastasia dengan Imam Hasan Sadulayev. Wajah Anastasia nampak kurang cerah.
"Bagaimana?" Tanya Ayyas.
"Dia tidak bisa. Dia sudah ada jadwal penting yang tidak bisa digeser. Atau..." Tiba-tiba wajah itu berbinar.
"Atau apa?"
"Kau saja yang jadi pembicara. Kau bisa. Bahasa Inggrismu bagus, bahasa Rusiamu juga lumayan. Dan kau sarjana dari Madinah. Yah, kau saja ya?"
"Jangan saya Doktor, yang lain saja kan masih banyak."
"Ini waktunya mendesak. Sudah, aku putuskan kau saja yang jadi pembicara menggantikan intelektual dari Kazan University itu. Kau ingat, empat hari lagi seminarnya di Fakultas Kedokteran. Aku juga jadi pembicara di seminar itu. Jadi nanti kau ke sini dulu, kita berangkat ke sana bersama. Kau bisa nulis makalah?"
"Dokter ini sangat mepet waktunya."

"Baik tidak apa. Kalau kau bisa membuat makalah akan lebih baik. Temanya, 'Tuhan Bagi Manusia di Era Modern."
"Baiklah."
"Spasiba balshoi. E, kau sudah makan siang?"
"Belum."
"Aku traktir makan siang di Yolki Palki mau?"
"Apa itu Yolki Palki?"
"Restoran di daerah Kropotkinskaya."
"Tidak, ah."
"Kenapa?"
"Letaknya jauh, akan banyak membuang waktu."
"Kita pakai mobil. Aku tahu jalan pintas."
"Maaf Doktor, saya tidak bisa. Saya ingin benar-benar menghemat waktu yang ada.' Ayyas mengucapkan kata-katanya dengan rasa percaya diri yang penuh dan tegas. Doktor Anastasia Palazzo sedikit kecewa mendengarnya. Tapi ia
segera menguasai dirinya dengan baik.
"Tak apa. Aku bisa memahami. Kalau begitu kita ke stobvaya seperti biasa?"
Ayyas hampir saya mengiyakan. Ia hamper lupa kalau dirinya sedang berpuasa.
"Maaf Doktor. Tidak juga ke stobvaya. Maaf, saya sedang puasa. Saya hampir lupa kalau saya hari ini berpuasa."
"Oh ya sudah tidak apa-apa. Kau puasa apa?"
"Puasa untuk menjaga kesucian diri."
"Menjaga kesucian diri bagaimana?"
"Dari godaan syahwat dan godaan setan."
"Jadi puasa itu jadi semacam benteng di dalam jiwa dari godaan syahwat dan perbuatan jahat begitu?"
"Kira-kira begitu. Apalagi saya masih muda. Pemuda normal yang belum menikah. Dan sekarang sering bertemu dengan perempuan Rusia yang Doktor tahu sendiri seperti apa perempuan muda Rusia. Kalau saya tidak membentengi diri dengan benteng yang kuat, iman saya bisa roboh, saya bisa melakukan dosa besar yang dilarang agama saya."
"Dosa besar itu apa misalnya?"
"Melakukan hubungan haram dengan lawan jenis, alias zina, misalnya."
"Jadi kau belum melakukan yang seperti itu sama sekali?"
"Saya berlindung kepada Allah dari zina. Semoga sampai akhir hayat Allah menjauhkan saya dari perbuatan dosa itu. Saya ingin menjaga kesucian diri saya. Kalau pun melakukan hubungan dengan lawan jenis, saya ingin yang berlandaskan kesucian, yaitu menikah. Dengan menikah saya ingin memuliakan istri saya, saya ingin setia padanya sampai akhir hayat. Saya
ingin menjaga kesuciannya. Saya berharap istri saya juga melakukan hal yang sama. Pernikahan itu menjadi hubungan saling mencintai dan mengasihi yang ditaburi rahmat Allah. Dari percintaan yang harmonis dan indah itu saya ingin lahir anak turun yang juga bersih, dan terjaga kesuciannya. Maka saya berusaha mati-matian menjaga kesucian saya, sebab saya ingin memiliki istri yang juga terjaga kesuciannya."
"Sampai sedetil itu, Islam mengaturnya?"
“Iya.”
"Berarti kau sudah memiliki calon?"
"Dulu pernah, sekarang tidak." "Maksudmu?"
"Dulu saya pernah melamar seorang gadis yang baik. Kami bertunangan. Kemudian suatu hari gadis itu membebaskan saya dari ikatan pertunangan. Jadi statusnya, saya ini tidak lagi bertunangan dengannya."
"Apa gadis itu kini sudah menikah?"
"Saya tidak tahu."
"Kau mencintainya?"
"Saya telah berjanji untuk hanya mencintai perempuan yang menjadi istri saya. Siapa pun dia. Kalau ternyata yang menjadi istri saya adalah gadis itu, maka dialah orang yang akan saya limpahi segenap cinta dan kasih yang saya miliki."
Hati Doktor Anastasia Palazzo bergetar mendengar ucapan Ayyas. Belum pernah ia mendengar kalimat yang sedemikian kesatria dari seorang pemuda mana pun sebelumnya. Tiba-tiba ia ingin menjadi seorang perempuan yang
mendapat kemuliaan cinta dari seorang lelaki yang begitu menjaga cintanya seperti Ayyas.
Tetapi apakah masuk akal kalau dia mengharapkan Ayyas sebagai orang yang akan melimpahinya dengan segenap cinta dan kasih yang murni itu? Bukankah ia berbeda keyakinan dengan Ayyas? Tapi entahlah, di dunia ini serba mungkin-mungkin saja. Ia berdoa dalam hati, suatu saat Ayyas bisa menaruh hati padanya.
Oo... tak hanya menaruh hati, tapi keyakinannya pun bisa sama dengannya. Akankah doa Anastasia dikabulkan Tuhan? Kita lihat saja nanti bagaimana
sang waktu merekam perjalanannya. Yang jelas, sampai saat ini Anastasia belum melihat tanda-tanda bahwa Ayyas menaruh hati padanya. Kalau Ayyas sangat menghormati dirinya dan sangat menjaga sikap kepadanya, ia telah
membuktikan dan merasakannya. Itu ia rasa karena posisi dia sebagai orang yang dimintai Profesor Tomskii untuk membimbingnya.
Beberapa kali ia mengajak Ayyas makan malam di rumahnya juga belum pernah dipenuhi.
Dan baru saja Ayyas menolak ajakannya untuk makan di Yolki Palki dengan alasan puasa. Itulah kesimpulan Doktor cantik nan cerdas, Anastasia Palazzo saat ini. Entah esok nanti. Melihat dan mengamati ketinggian pribadi
Ayyas, kini dalam hati Doktor Anastasia terpantik sebuah asa di dalam dada; kalau ada seorang pemuda Rusia yang memiliki pandangan tentang kesucian cinta seperti Ayyas, ia pasti siap melabuhkan segenap cintanya pada pemuda itu.
Sejak remaja ia telah berkenalan dengan banyak lelaki. Dan di matanya hampir semua lelaki yang ia kenal itu tidak bisa dikatakan sebagai lelaki yang setia. Budaya berganti-ganti pasangan telah melanda anak-anak muda Rusia saat ini. Yang ia cari bukan yang terbiasa gonta-ganti pasangan.
Ia mencari orang yang mau hidup dengan hanya saru pasangan, dan setia sampai mati. Persis seperti yang dikatakan Ayyas. Adakahpemuda Rusia yang seperti itu? Kalau ada, di manakah dia sekarang?
Sejauh ini, sudah banyak lelaki terpandang yang melamar Doktor Anastasia untuk dijadikan istri, tetapi belum ada satu pun yang ia terima, karena ia tahu mereka terbiasa gonta-ganti pasangan. Ia tahu jika telah menikah dengan salah satu di antara mereka, lelaki yang menikahinya itu pasti, ya, pasti masih akan tidur dengan banyak perempuan selain dirinya. Itu hal yang sangat
dibencinya. Itulah tabiat lelaki Rusia. Dan karena itulah kenapa ia menolak semua lelaki yang datang kepadanya.
Ia ingin lelaki yang setia padanya sampai tua, sampai ajal tiba. Maka wajarlah jika hatinya bergetar hebat ketika ia merasa mendapatkan konsep kesetiaan yang dahsyat itu dari mulut Ayyas. Kalau saja Ayyas tahu, bahwa saat ini, seluruh isi hati Doktor Anastasia dipenuhi pesona dirinya.
Ah, kalau saja Ayyas tahu...
"Setelah sekian hari kau tinggal di Moskwa, maaf apakah ada terlintas di pikiranmu bahwa kau akan memperistri perempuan Rusia?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Doktor Anastasia. Ia sendiri agak kaget kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja. Mengalir. Alami. Tanpa beban.
Tak hanya Doktor Anastasia yang kaget.
Rupa-rupanya Ayyas juga kaget mendengar pertanyaan itu. Namun ia segera menyembunyikan kekagetannya itu dalam palung hatinya dalam dalam.
Sungguh, sejak menginjakkan kaki di Moskwa, ia sama sekali tidak berpikir tentang jodoh. Yang ia pikirkan adalah bagaimana melakukan penelitian dengan baik dan secepat mungkin menyelesaikan tesisnya.
Adapun jodohnya, ia berharap tetaplah Ainal Muna, penulis muda sarat prestasi yang berwajah manis itu. Tetapi masalah jodoh sebenarnya sudah diatur Allah, Siapakah yang kelak akan jadi istrinya kalau ia berumur panjang, juga sebenarnya telah tercatat di Lauhul Mdhfudh. Maka ia merasa tidak perlu menanggapi pertanyaan Doktor Anastasia itu dengan sangat serius. Ia malah
menjawabnya dengan bercanda,
"Sebenarnya saya tidak pernah berpikiran menemukan jodoh saya di sini. Jodoh saya sudah diatur Tuhan. Kalau Tuhan menentukan jodoh saya ternyata adalah perempuan Rusia yang cerdas, setia dan menjaga kesucian, seperti Doktor Anastasia kenapa tidak? Hahaha!"
Jawaban Ayyas membuat merah wajah Doktor Anastasia. Ia merasa tersanjung. Namun, Doktor Anastasia bukanlah gadis remaja yang tidak menguasai dirinya. Ia langsung tersenyum dan berkata,
"Jadi kau menilai aku sebagai perempuan yang cerdas, setia dan menjaga kesucian?"
"Begini Doktor, di dalam kaidah hokum Islam, ada kaidah yang berbunyi al ashlu baqau ma kaana ala maa kaana. Maksudnya, hukum sesuatu itu pada pokoknya dilihat dari asalnya. Seorang gadis pada asalnya adalah cerdas, sebab ia adalah manusia yang diberi akal. Pada asalnya adalah setia, sebab setia adalah salah satu watak utama nurani manusia. Dan pasti pada asalnya
dia suci, sebab semua manusia pada asalnya lahir dalam keadaan suci. Ini konsep Islam. Mungkin berbeda kalau dalam konsepnya agama Nasrani
yang Doktor peluk. Menurut kaidah hokum Islam, selama kita tidak menemukan hal-hal yang merubah dari hukum asal, maka yang dipakai adalah hukum asalnya. Karena selama ini saya tidak melihat misalnya Doktor Anastasia berzina atau melakukan perbuatan cabul dan yang sejenisnya, ya saya anggap Doktor masih menjaga kesucian.
Kecuali kalau di kemudian hari ada fakta dan kenyataan yang lain, maka penilaian itu bisa berubah."
"Kau ternyata bisa lebih bijak dari Aristoteles. Alangkah bahagianya gadis yang kelak menjadi istrimu." Sanjung Doktor Anastasia tulus, tanpa pretensi.
"Siapa pun dia yang jadi istriku, semoga kelak aku bisa membahagiakannya, dan menggenggam tangannya erat-erat memasuki pintu surga, tempat paling indah untuk orang-orang yang memadu cinta semata-mata karena mencari ridha Allah Subhanahu Wa Taala."
"Semoga Ayyas," sahut Doktor Anastasia,
"Dan semoga yang kelak menjadi istrimu itu adalah aku, Anastasia Palazzo," lanjutnya dalam hati. Seuntai senyum terbersit dari bibir Doktor Anastasia. Senyum yang manis sekali, yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mencintai dengan hati. Sayang, Ayyas tak melihat senyum itu. Ia sedikit menundukkan wajahnya untuk menjaga pandangan.

***

Bumi Cinta (Part 37)

Bumi Cinta Part. 37 Kalimat Syahadat
Karya : Habiburrahman El Shirazy

Hari itu hari Jumat. Musim dingin masih bertahan. Salju sudah dua hari tidak turun, tetapi di mana-mana salju masih nampak membungkus apa saja. Masjid Prospek Mira penuh sesak oleh jamaah shalat Jumat. Nampak wajah-wajah dari pelbagai bangsa. Ada Rusia, Tatar, Kazakh, Kirgis, Turkmen, Chechnya, Azerbaijan, Kirgish, Melayu, dan Arab.

Sebelum khutbah Jumat dimulai, takmir masjid mengumumkan akan adanya seorang perempuan muda Rusia yang akan mengucapkan dua kalimat syahadat siang itu. Prosesi pengucapan kalimat syahadat akan dipimpin oleh Imam Hasan Sadulayev. Juga diumumkan setelah shalat Jumat akan ada prosesi akad nikah antara perempuan Rusia yang baru masuk Islam dengan seorang pemuda Muslim dari Indonesia. Jamaah diminta untuk tidak bubar dulu setelah shalat Jumat.

Kumandang takbir dan tahmid seketika membahana di dalam masjid setelah jamaah mendengar pengumuman itu.

Takmir masjid juga mengumumkan hal-hal penting lainnya. Setelah itu sang takmir mempersilakan perempuan muda Rusia bernama Yelena Aleksandrovna untuk maju ke barisan paling depan di bagian shaf perempuan.

Seorang perempuan muda bergerak maju dari barisan ketiga menuju barisan pertama di bagian perempuan. Kaum perempuan yang mengikuti shalat Jumat memang tidak terlalu banyak. Perempuan muda itu nampak anggun dibalut oleh pakaian serba putih, juga jilbab putih. Imam Hasan Sadulayev memberikan pidato singkat sebelum membimbing Yelena mengucapkan dua

kalimat syahadat.

Setelah pidato Imam Hasan Sadulayev menanyakan kepada Yelena, untuk meyakinkan bahwa dia masuk Islam bukan karena ada paksaan atau karena keadaan yang memaksanya masuk Islam.

Yelena menjawab bahwa dia masuk Islam sama sekali bukan dipaksa seseorang, bukan juga karena ada keadaan tertentu yang memaksanya masuk Islam. Ia masuk Islam sungguh-sungguh karena kesadaran dan keinsyafan, serta karena panggilan-jiwanya yang cenderung kepada Islam.

Mendengar jawaban Yelena, takbir dan tahmid kembali menggema di dalam masjid.

Di bagian pria, tepatnya di barisan pertama tidak jauh dari Imam Sadulayev berdiri, seorang pemuda berkaca mata dan berwajah Asia Tenggara nampak duduk menunduk dengan mata berkaca-kaca. Teringat masa lalunya yang kelam ia menangis dalam istighfar. Dan teringat akan kasih sayang Allah yang memberinya petunjuk untuk bertobat dan membersihkan jiwanya dengan ibadah. Ia terisak dalam keharuan dan kesyukuran. Allah kembali melimpahinya dengan kasih sayang tiada terkira. Sebentar lagi ia akan mendengar perempuan yang telah dilamarnya untuk dijadikan pendamping hidupnya mengucapkan kalimat syahadat.

Imam Hasan Sadulayev, kemudian meminta kepada adiknya yaitu Aminet Sadulayevna untuk membimbing Yelena Aleksandrovna mengucapkan dua kalimat syahadat. Seluruh jamaah yang hadir shalat Jumat akan menjadi saksi masuk Islamnya Yelena. Dengan suara yang jernih dan berwibawa Aminet membimbing Yelena mengucapkan kalimat syahadat kata perkata.

"Asyahadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah."

Aminet membimbing Yelena mengucapkan dua kalimat syahadat itu tiga kali. Setelah itu Aminet membimbing Yelena untuk mengucapkan arti dua kalimat syahadat itu dalam bahasa Rusia.

Begitu Yelena selesai mengucapkan syahadatnya.

Imam Hasan Sadulayev seketika bertahmid dan mengumandangkan takbir dengan kedua mata basah oleh airmata. Seluruh jamaah mengikutinya.

Tak sedikit di antara mereka yang meneteskan airmata karena tersentuh suasana yang agung itu. Prosesi seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah prosesi yang sangat agung, lebih agung dari terbitnya matahari menyinari dunia.

Imam Hasan kemudian mengajak jamaah berdoa bersama untuk Yelena yang baru masuk Islam, agar diberi tambahan kekuatan oleh Allah untuk teguh memegang hidayah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.

Pemuda berkaca mata yang tak lain adalah Devid, mengangkat kedua tangannya dan mengamini setiap kalimat yang diucapkan Imam Hasan Sadulayev dengan airmata terus meleleh di pipinya. Di sampingnya, Ayyas juga tidak bisa menahan harunya. Ia tahu persis siapa Devid dan siapa Yelena sebelumnya. Devid kini telah menjadi ahli rukuk dan sujud.

Dan Yelena yang pernah tidak mengakui adanya Tuhan, kini bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Yelena menjadi manusia baru yang bersih dan fitri. Seluruh dosa dan masa lalunya

yang kelam terhapus oleh dua kalimat syahadat yang ia ucapkan dengan tubuh bergetar.

Selesai berdoa, Imam Hasan Sadulayev naik ke mimbar. Azan dikumandangkan. Lalu khotbah Jumat dimulai. Sang Imam menjelaskan tentang keajaiban tobat. Menurut Sang Imam, setiap anak manusia pasti pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, kecuali para nabi dan rasul yang sudah pasti dijaga oleh Allah dari dosa dan kesalahan. Dan jalan terbaik bagi orang yang memiliki dosa adalah bertobat, memohon ampun kepada Allah. Orang-orang yang mau bertobat dengan sebenar-benar tobat adalah manusia-manusia yang dipilih dan dikasihi oleh Allah.

Imam Hasan Sadulayev kemudian menceritakan seorang pendosa yang ada pada umat terdahulu, yang mendapat kemuliaan dari Allah yang luar biasa karena mau bertobat. Imam Hasan Sadulayev menjelaskan,

"Termasuk dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah adalah perbuatan zina. Para nabi dan rasul juga murka pada orang-orang yang melakukan perbuatan keji itu. Alkisah, pada umat terdahulu ada seorang perempuan yang menjadikan zina sebagai profesinya. Dia mendapatkan uang dengan melacurkan dirinya. Kecantikannya yang menawan sangat terkenal dan membuat dirinya terkenal ke pelbagai daerah. Banyak lelaki yang tergila-gila padanya dan ingin menikmati kecantikannya. Di saat yang sama ada seorang

pemuda ahli ibadah. Pemuda itu juga mendengar pesona perempuan itu dan hati pemuda itu juga condong kepadanya. Pemuda itu juga berangan-angan ingin menikmati kecantikan perempuan itu. Karena bayaran perempuan itu sangat mahal, pemuda itu bekerja keras siang malam demi mendapatkan uang agar nanti bisa membayar perempuan itu. Setelah berbulan-bulan bekerja

pemuda itu mendapatkan uang yang cukup banyak.

Uang yang cukup untuk membayar kecantikan perempuan itu. Pemuda itu lalu

mendatangi perempuan itu.

"Tentu saja perempuan itu senang didatangi pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tampan. Ia merasa bangga bahwa kecantikan dan pesona dirinya ternyata mampu mengalahkan kezuhudan dan keteguhan iman seorang pemuda ahli ibadah. Ia menyambut pemuda itu dengan sebaik-baik sambutan. Ketika mereka berdua sudah berada di sebuah ruang yang sangat nyaman. Jendela telah ditutup dan pintu telah terkunci rapat, dan pemuda itu bisa melakukan apa yang telah dilakukan banyak lelaki pada perempuan itu, tiba-tiba pemuda itu teringat kepada Allah. Bahwa Allah melihatnya. Bahwa Allah memurkai perbuatan maksiat yang sedang dan yang akan dilakukannya.

Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sangat takut kepada Allah. Perempuan itu kaget melihat wajah pemuda itu yang tiba-tiba pucat pasi seperti tidak dialiri darah. Perempuan itu menduga bahwa pemuda itu sangat gugup karena tidak pernah

memiliki pengalaman berduaan dengan seorang perempuan. Maka perempuan itu berusaha menenangkan pemuda itu.

"Akan tetapi pemuda itu justru semakin pucat, tubuhnya mengigil dan bergetar hebat. Dengan terbata-bata pemuda itu berkata kepada perempuan itu, 'Ini, di kantong ini ada ratusan dinar, yang aku kumpulkan dengan bekerja mati-matian berbulan-bulan. Aku bekerja keras demi bisa menikmati dirimu. Kini aku sudah ada di hadapanmu, kalau aku mau aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Akan tetapi jika aku melakukannya maka Allah

akan murka kepadaku, dan Allah pasti menyiapkan nerakanya yang menyala-nyala untukku. Aku takut kepada Allah. Aku tidak mau kenikmatan sesaat yang semu akan menghancurkan kenikmatan abadi di surganya Allah. Ini ambillah uang ini. Dan biarkan aku meninggalkan tempat ini sebelum Allah murka dan mencabut nyawaku dalam keadaan syuul khatimah'

"Pemuda itu meletakkan kantong uangnya di hadapan perempuan jelita itu, lalu melangkah ke pintu. Sang perempuan duduk terpaku di pinggir ranjangnya. Ia kaget bercampur takjub dengan sikap dan apa yang didengarnya. Selama ini tidak ada lelaki yang bisa mengendalikan kesadarannya jika sudah berduaan dengannya. Tetapi pemuda itu bisa bersikap dan berkata setegar itu. Rasa takut pemuda itu kepada Allah

mengalahkan segala sihir pesona kecantikan yang dimilikinya. Dirinya samasekali tidak ada harganya di mata pemuda itu.

"Sang pemuda melangkah meninggalkan tempat itu dengan airmata berderjinlerai. Ia menangis takut kepada Allah. Pemuda itu malu pada dirinya

sendiri. Ia lalu pergi meninggalkan kota itu dan kembali ke kampung asalnya. Di kampungnya siang malam ia beribadah, karena merasa telah melakukan dosa besar meskipun belum sampai zina. Tetapi ia merasa telah melakukan

dosa yang sangat besar, sebab telah mendekati zina. Bahkan ia sempat berazam untuk zina dengan pelacur cantik itu. Ia bahkan sampai bekerja berbulan-bulan demi mendapatkan uang agar bisa berzina dengan perempuan itu. Pemuda itu terus menangis penuh penyesalan. Ia beribadah sebanyak-banyaknya karena ingin menghapus dosanya. Dan pemuda itu akhirnya meninggal dunia dalam keadaan menangis dan beribadah kepada Allah Swt.

"Perempuan itu, sejak kejadian itu ia sadar. Bahwa dirinya selama ini telah melakukan dosa besar yang dimurkai oleh Allah. Pemuda itu menyadarkan dirinya akan adanya Allah yang memurkai orang-orang yang berbuat maksiat.

Pemuda itu menyadarkan dirinya bahwa ada neraka yang disediakan untuk orang-orang yang menantang Allah. Pemuda itu menyadarkan bahwa ada kehidupan yang sesungguhnya setelah kehidupan di dunia ini. Perempuan itu sejak itu bertobat. Siang malam ia menangis kepada Allah. Ia lalu berazam dan bertekad kuat untuk mencari pemuda itu. Ia ingin menjadikan pemuda itu sebagai suaminya yang akan membimbingnya beribadah kepada Allah.

"Berbulan-bulan ia mencari pemuda itu, tapi tidak bertemu. Setelah sekian lama ia akhirnya tahu bahwa pemuda itu telah pulang ke kampong halamannya. Perempuan itu langsung menyusulnya.

Dan alangkah sedihnya ketika ia tahu bahwa pemuda itu telah meninggal dunia dalam keadaan bertobat penuh penyesalan kepada Allah.

"Pemuda itu memiliki saudara yang juga ahli ibadah. Perempuan bekas pelacur yang kini telah jadi ahli ibadah itu akhirnya menikah dengan ahli ibadah, saudara pemuda tadi. Perempuan itu telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh tobat. Tobat yang mampu membuat pintu langit terbuka

untuk doa dan zikirnya. Dari pernikahan dengan ahli ibadah itu, perempuan bekas pelacur itu melahirkan banyak anak yang semuanya diangkat oleh Allah menjadi nabi. Dari rahim perempuan itu yang kini berisi kalimat-kalimat thayyibah lahir manusia-manusia mulia yang dipilih oleh Allah sebagai nabinya.

"Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada umat terdahulu. Menjelaskan kepada kita bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, jika ia mau bertobat dengan sungguh-sungguh seperti perempuan itu, maka Allah akan menerima orang itu dengan penuh pengampunan dan kasih sayang. Bahkan Allah akan tetap memuliakan hamba-hamba-Nya yang mau bertobat kepadanya.

"Maka kepada siapapun yang merasa pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, juga kepada diri saya sendiri, saya wasiatkan untuk segera bertobat dengan sebenar-benar tobat. Dengan tobat dan kembali kepada Allah sepenuh jiwa dan raga, kita berharap Allah senantiasa menyelimuti kita dengan selimut rahmat dan kasih sayang-Nya. Amin"

Khutbah Imam Hasan Sadulayev sangat menyentuh. Terutama bagi Devid dan Yelena.

Juga bagi banyak orang yang merasa sedang memikul dosa yang tidak ringan. Bagi mereka, khutbah itu seperti air penyejuk bagi orang yang kehausan di padang sahara. Dengan airmata meleleh Devid berdoa agar tobatnya diterima Allah dan agar dirinya diberi keberkahan seperti keluarga perempuan yang jadi ahli ibadah setelah bertobat itu. Yelena lebih deras airmatanya, ia merasa dirinya nyaris sama dengan perempuan yang dikisahkan oleh Imam Hasan Sadulayev. Ia bertekad dalam hati akan berislam sebaikbaiknya.

Ia akan belajar tentang Islam sekuat tenaga, dan ia akan menjaga kesuciannya dan terus beribadah kepada Allah seperti perempuan itu, agar kelak anak-anak yang ia lahirkan dari rahimnya jika dikehendaki oleh Allah menjadi

manusia-manusia yang baik dan dikasihi Allah.

Selesai shalat Jumat, akad pernikahan dilangsungkan. Yang dinikahkan adalah Devid mendapatkan Yelena. Ayyas dan beberapa pejabat KBRI Moskwa menyaksikan prosesi akad pernikahan itu. Ayyas tidak kuasa menahan airmatanya ketika melihat Devid menangis tersedu-sedu dalam pelukan Imam Hasan Sadulayev setelah akad. Ayyas mendoakan teman lamanya itu agar benar-benar menjadi orang beriman sejati. Ia juga mendoakan agar dosa teman lamanya itu benar-benar diampuni oleh Allah.

Ayyas juga terharu ketika sekilas melihat Yelena dengan penampilan yang jauh berbeda dengan yang pernah dilihatnya dulu. Yelena kini berpakaian putih anggun tertutup auratnya.

Sama sekali tidak ada bekas atau kesan bahwa Yelena pernah menjadi pelacur kelas atas di Moskwa. Kini Yelena nampak bercahaya seumpama kapas putih yang tidak dinodai apa-apa.

Ayyas berdoa agar Yelena yang pernah menjadi tetangga kamarnya itu benar-benar mampu menjadi Muslimah yang baik, dan menjadi ibu yang salehah yang nanti akan melahirkan keturunan yang saleh, keturunan yang meninggikan kalimat Allah di atas bumi Allah, bumi cinta orang-orang saleh yang menjadikan hidupnya sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah.




***




Untuk sementara Devid tinggal bersama Yelena di apartemen Yelena. Bibi Margareta masih menyertai mereka. Mereka tetap memperlakukan Bibi Margareta layaknya bibi sendiri.

Keyakinan yang berbeda sama sekali tidak memengaruhi keharmonisan hubungan mereka dengan Bibi Margareta.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Yelena merasakan keindahan menghirup udara sebagai manusia. Ia merasa benar-benar terlepas dari belenggu-belenggu berhala dan perbudakan yang selama ini menjeratnya. Ia merasa benar-benar merdeka. Ia merasa menjadi manusia yang sempurna kemanusiaannya dengan hanya menyembah kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Ia telah menemukan jalan hidup yang dicarinya. Dan kini, dengan statusnya sebagai seorang istri, ia mendapatkan kehormatannya kembali sebagai perempuan yang memiliki harga dan nilai yang sesungguhnya. Lebih dari itu ia seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Bunga-bunga kini bermekaran di dalam hatinya. Musim semi belum tiba, tetapi ia merasa suasana yang ia rasakan adalah suasana musim semi paling indah yang belum pernah ia rasakan. Setiap kali shalat bersama suaminya, lalu ia mencium tangan suaminya, ia merasakan kenikmatan cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Untuk sementara sampai Devid menyelesaikan kuliahnya mereka berdua akan tinggal di Rusia.

Bisa di Moskwa bisa juga di St. Petersburg. Akan tetapi setelah Devid menyelesaikan kuliahnya ia berjanji dalam hati akan mengikuti suaminya ke

mana pun ia pergi. Ia rela jika kemudian suaminya memutuskan harus hidup di Indonesia.

Bagi orang-orang yang beriman, di mana pun ia bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta ala. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu surganya Allah.

Sementara Devid juga merasakan hal yang hampir sama dengan yang dirasakan Yelena.

Mendapatkan istri seperti Yelena, ia seumpama mendapatkan bidadari yang selalu merindukannya dan selalu tersenyum kepadanya. Ia telah melupakan semua masa lalunya dan masa lalu istrinya. Dengan menggenggam erat tangan istrinya, ia ingin terus maju melangkah dalam pengembaraan mencapai ridha Allah yang tertinggi di bumi cinta ini.

Ia tahu bahwa Yelena telah memiliki seorang anak dengan suami terdahulunya. Ia tahu bahwa istrinya sangat merindukan anaknya itu. Maka ia tidak segan untuk membahagiakan istrinya, dengan mengantarkannya menemui anaknya yang ada di kota Kazan, yang letaknya ribuan kilometer di sebelah timur kota Moskwa.

Yang membuat Devid bahagia, anak istrinya itu ternyata , juga Muslim. Setelah tahu persis kisah hidup Yelena, ia semakin bertambah keimanannya akan kekuasaan Allah. Suami Yelena yang pertama ternyata adalah seorang Muslim yang baik. Yelenalah yang sebenarnya tidak baik sampai harus diusir suami yang pertama.

Setelah menyelesaikan S1 Sastra Inggris dari St. Petersburg, Yelena bekerja di sebuah agen wisata di kota Kazan, ibu kota Tatarstan yang masih dalam kekuasaan Rusia. Di sana Yelena berkenalan dengan seorang anak muda pemilik sebuah restoran. Anak muda itu bernama Majidov. Singkat cerita Yelena menikah dengan Majidov. Saat itu Yelena mengaku brrjanji siap mengikuti keyakinan Majidov setelah menikah.

Ternyata Yelena mengingkari janjinya, ia tetap tidak mau mengikuti keyakinan Majidov. Bahkan Yelena malah mau masuk agama Budha.

Berkali-kali Majidov mengingatkan janjinya. Yelena tetap saja mengingkari janjinya.

Bahkan Yelena akhirnya suatu pagi mengatakan kepada suaminya bahwa ia mulai meragukan adanya Tuhan. Suaminya kaget dan marah. Yelena tidak mau mengalah, ia lalu berterus terang bahwa ia merasa dikungkung oleh

banyak aturan yang dibuat suaminya. Suaminya kemudian memberinya pilihan yang tidak bisa ditawar, yaitu mengikuti aturan mainnya dan

Yelena memenuhi janjinya, atau Yelena keluar dari rumahnya yang berarti telah diceraikannya dan boleh hidup semaunya. Yelena memilih cerai

dan keluar dari rumah itu.

Yelena merasa seperti diusir suaminya, padahal sesungguhnya ia sendiri yang menentukan pilihannya.

Yelena mengadu nasib ke Moskwa, dan sejak itu Yelena hidup dengan memperturutkan hawa nafsunya. Sampai akhirnya ia hidup dalam genggaman Olga Nikolayenko dan tidak bisa keluar darinya sampai Olga Nikolayenko binasa. Yelena merasa ada yang salah dalam hidupnya. Dan ia mulai mendapatkan pencerahan pelan-pelan secara tidak langsung dengan datangnya Ayyas yang tinggal satu apartemen dengannya. Puncaknya adalah ketika ia nyaris mati kedinginan dan ditolong Ayyas.

Sejak itu ia merasakan kasih sayang Tuhan, dan ia mulai mencari tahu cara terbaik berbakti kepada Tuhan. Ia terus merenung dan mengumpulkan informasi, juga banyak belajar diam-diam.

Sampai akhirnya ia yakin cara terbaik adalah dengan berislam. Hanya ia belum menemukan waktu yang tepat. Ia sempat kembali ke Kazan dan diam-diam mencari tahu keadaan mantan suami dan anaknya. Ternyata suaminya

telah menikah lagi dengan putri seorang imam masjid kota Kazan, maka ia merasa tidak mungkin lagi kembali kepada suaminya.

Yelena sempat bingung harus bagaimana menentukan langkah. Ia sempat berpikiran mau menemui Ayyas dan meminta saran darinya. Belum sampai ia menemui Ayyas, Devid datang mengulurkan tangannya untuk menikah dan berjalan bersama di jalan yang lurus. Maka tak ada keraguan sedikit pun bagi Yelena untuk menyetujuinya.

Devid tidak ragu mengajak Yelena menemui keluarga mantan suaminya. Devid datang sebagai seorang Muslim yang terhormat dan disambut oleh Majidov, mantan suami Yelena dengan penuh penghormatan. Majidov nampak kaget dengan penampilan dan perubahan Yelena. Majidov nampak menjaga sekali pandangannya. Demikian juga Yelena. Di ruang tamu rumah Majidov,

Devid duduk di samping Yelena dan Majidov duduk di samping istrinya yang bernama Fatheya.

Kepada Devid, Majidov berkata, "Tuan Devid, Anda sungguh lelaki yang beruntung. Tidak seberuntung diri saya. Dulu saya menikahi Yelena dengan tujuan bisa mendapat pahala karena akan bisa mengajaknya berjalan di jalan yang diridhai Allah, yaitu memeluk Islam. Saya berani menikahinya sampai saya menolak tawaran guru saya untuk menikahi putrinya karena saya yakin

bisa mendapatkan pahala agung itu, apalagi Yelena berjanji akan mengikuti jalan hidup saya sepenuhnya setelah menikah. Ternyata saya gagal.

"Sampai punya anak satu, tetap saja saya tidak bisa mengajaknya berjalan di jalan yang benar. Setelah beberapa tahun bersabar saya tetap juga gagal. Akhirnya, karena ditambah sebab lain yang tidak termaafkan, saya bersikap tegas memberinya dua pilihan. Bertobat dan mengikuti aturan main saya atau cerai dan keluar dari rumah.

Dia memilih yang kedua. Saya sangat sedih karena merasa gagal berumah tangga dan berdakwah.

"Setelah sekian lama-terpuruk dalam kesedihan, guru saya membangkitkan semangat hidup saya, bahkan tetap menawari saya untuk menikahi putrinya. Bagi saya tak ada pilihan lain kecuali menuruti nasihat dan tawaran guru saya.

Ternyata jodoh saya adalah putri guru saya.

"Dan sungguh di luar prasangka saya, akhirnya Yelena menemukan jalan yang lurus itu, justru di tangan orang asing, yaitu di tangan Anda Tuan Devid. Sungguh Anda sangat beruntung.

Hidayah Allah memang mutlak wewenang Allah untuk diberikan kepada siapa, dan dengan cara bagaimana. Hanya Allah yang tahu.

"Saya turut bahagia atas pernikahan kalian di jalan Allah, semoga Allah senantiasa memberkahi rumah tangga kalian. Adapun Omarov, setelah saya mengetahui ibu kandungnya kini mengagungkan nama Allah, maka saya tidak

khawatir jika Omarov akan memilih tinggal dengan ibu kandungnya yaitu Yelena."

Kalimat Majidov sangat menyejukkan Devid dan Yelena. Tak lama kemudian si kecil Omarov yang lahir dari perkawinan Yelena dengan Majidov pulang dari sekolah. Anak kecil itu tidak begitu memerhatikan siapa yang ada di ruang tamu. Ia kelihatannya sudah mulai lupa dengan ibu kandungnya. Akan tetapi dengan sangat bijak Majidov menjelaskan kepada Omarov bahwa ibu kandungnya, yaitu Yelena, datang menjenguknya.

Omarov nampak agak bingung. Ia memerhatikan Yelena dengan seksama dari ujung kepala dari ujung kaki. Yelena memandangi anaknya dengan mata berkaca-kaca. Tiga tahun lebih ia berpisah dengan Omarov. Saat Omarov masih bingung, Yelena tidak kuasa untuk tidak menghambur dan memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang dan dengan deraian airmata.

Semua yang ada di ruangan itu melihat kejadian itu dengan hati basah dan mata berkaca-kaca.

Awalnya Fatheya, istri Majidov agak cemburu mengetahui yang datang Yelena. Akan tetapi kelembutan dan ketulusan sikap Yelena telah menyingkirkan rasa cemburu Fatheya dan menggantinya dengan simpati yang mendalam.

Keberadaan Yelena bukan untuk dicemburui, apalagi Yelena sudah menikah dan punya suami. Keberadaan Yelena justru untuk didukung dan disambut hangat sebagai saudara dan keluarga.

Karena dipeluk Yelena dengan sepenuh jiwa dengan deraian airmata, dan suara haru terisak-isak,

Omarov menangis juga. Jiwa murni anak itu merasakan getaran rindu dan cinta yang disalurkan oleh ibu kandungnya. Beberapa saat kemudian, keluarlah dari mulut Omarov,

"Oh Mama!"

Seketika Yelena tambah terisak mendengarnya. Omarov masih memanggilnya

"Mama". Yelena lalu menciumi anaknya itu sejadi-jadinya dengan airmata terus meleleh.

"Kau sudah bisa shalat Nak?" Tanya Yelena sambil terisak. Omarov menganggukkan kepala.

"Kau sudah bisa membaca Al-Quran?" Si Kecil Omarov kembali menganggukkan kepala.

"Bagus. Kau anak yang baik. Teruslah mengaji. Berbaktilah pada ayahmu dan ibumu yang satu lagi ya." Omarov mengangguk.

Yelena memutuskan agar Omarov tetap bersama Majidov. Ia tidak khawatir samasekali Omarov akan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Sebab ia yakin Fatheya akan melimpahkan cinta dan kasih sayang yang melimpah kepada Omarov. Ia bisa merasakan dari wajah anaknya yang cerah dan tubuhnya yang sehat berisi.

Yelena hanya meminta agar Omarov diberi kesempatan berkunjung ke rumahnya jika menghendakinya. Majidov dan Fatheya berjanji akan memenuhi keinginan Yelena. Fatheya bahkan berjanji, minimal satu tahun sekali ia, akan mengajak Omarov mengunjungi Yelena selama Yelena masih tinggal di Rusia. Jika Yelena akhirnya tinggal di Indonesia bersama Devid, maka ia tidak bisa menjanjikannya.

Yelena dan Devid meninggalkan rumah Majidov dengan mata berkaca-kaca. Terutama Yelena. Ia merasa masih ingin berlama-lama bersama anaknya. Tetapi ia tahu bahwa ia tetap harus berpisah dengan Omarov. Ia berdoa agar

Omarov selalu dijaga oleh Allah dan diberkahi langkah hidupnya, sehingga akhirnya kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan bermanfaat bagi dunia serta diridhai Allah Ta'ala.




***




Dalam perjalanan menuju Moskwa, di atas pesawat Devid bertanya kepada Yelena,

"Istriku, tadi Majidov mengatakan bahwa akhirnya ia menceraikanmu karena kau tidak memenuhi janjimu dan karena ditambah sebab lain yang tidak termaafkan. Dia tidak menjelaskan sebab lain yang tidak termaafkan. Kalau boleh tahu apa itu sebab lain yang tidak termaafkan?"

Mendengar pertanyaan Devid, Yelena malah terisak-isak.

"Kenapa kau malah menangis? Apakah aku menyinggung perasaanmu? Kalau aku tidak boleh tahu tidak apa-apa. Aku tidak memaksa. Itu masa lalumu, kau boleh menyimpannya untuk dirimu saja."

Yelena menyeka airmatanya dan menjawab dengan suara serak,

"Tidak, kau tidak menyinggungku. Aku sudah berjanji tidak akan menutupi apa pun darimu. Aku tidak mengkhawatirkan apa pun. Itu adalah masa lalu. Kalau pun dikenang kembali adalah untuk diambil pelajarannya. Sesungguhnya ketika Majidov tadi mengucapkan kalimat itu, aku juga tersentak. Sebab, dulu saat dia memberikan pilihan, kalimat itu samasekali tidak ia ucapkan. Aku merasa bahwa perbuatanku tidak diketahuinya. Ternyata dia mengetahuinya. Sebab lain yang tak termaafkan adalah aku berselingkuh dengan orang lain. Aku sangat rapat menjaga hubunganku dengannya. Aku mengkhianati Majidov. Kukira Majidov tidak tahu.

Ternyata tahu. Karena ia tahu maka ia memberikan ultimatumnya, agar aku mengikuti segala aturan mainnya. Itulah yang terjadi."

"Jadi ketika Majidov memberimu dua pilihan, sebenarnya dia masih memaafkan kamu selama kamu memenuhi janjimu dan mengikuti aturannya."

"Iya. Tetapi diriku memang telah buta saat itu. Aku menganggap ultimatum Majidov sebagai arogansi kelelakiannya dan kesewenang-wenangannya. Maka aku terima tantangannya, aku memilih cerai dan kabur."

"Apakah kau menyesal?"

"Tentu saja. Itu adalah dosa yang harus disesali untuk tidak diulangi."

"Apakah kau menyesal menikah denganku?"

"Justru aku akan sangat menyesal kalau tidak memenuhi ajakanmu untuk menikah. Percayalah, Yelena yang jahiliyyah telah binasa, dan kini yang menjadi istrimu adalah Yelena yang lain. Yelena yang siap mati-matian menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya."

Devid tidak kuasa untuk tidak mencium kening istrinya dengan penuh cinta. Bagi orang yang saling cinta-mencintai tidak ada yang lebih indah dari pernikahan suci di jalan yang diridhai Ilahi.

Demikian Rasulullah pernah menjelaskan dalam sebuah hadisnya. Pernikahan adalah jalan paling indah untuk ditempuh bagi lelaki dan perempuan yang saling mencintai. Itu adalah yang ditempuh oleh para rasul dan para shalihin yang suci.

Yelena menerima ciuman suaminya dengan rasa bahagia yang luar biasa. Ciuman itu kini ia rasakan bukan sebagai sesuatu yang mengotori jiwanya, justru kini ia rasakan sebagai sesuatu yang membersihkan dan menguatkan jiwanya.

Sebab itu adalah ciuman yang halal yang mendatangkan datangnya rahmat dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Minggu, 14 Juli 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Jingga dan Ungunya

kapan lagi kau lihat?
inilah waktunya...
saat-saat kau melihat jingga dengan ungunya
coba kau bayangkan,
kita bisa bersama seperti mereka
lalu malam menjemput
memisahkan kita ditengah dinginnya kegelapan
"oh, jingga.. aku merindukanmu..." katanya.
cepatlah berakhir malam ini
agar esok kita bisa dipertemukan dalam dekap Kuasa-Nya
agar esok kita bisa bersenda gurau dalam kasih Sayang-Nya
sampai kita terpisahkan lagi,
dengan segala rindu yang menggebu dihati.
jingga dan ungunya..
Sabtu, 13 Juli 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Dear You...

dear, you.

aku gapernah tau apa yang terjadi (lagi) sama kita sekarang.
ya, aku mengaku salah.
aku.. ntahlah, seperti ada yang menusuk jantung ini.
ini seperti aku pertama kali melihat dan membacanya.
seketika, aku terbawa ceritamu. dan aku mulai menitikkan air mataku.
pikiranku keluar dari jalan sebelumnya.
aku mengikuti bagaimana cara kalian saling mencintai, dan itu.. indah :')
hihi, seharusnya aku sudah harus terbiasa dengan itu.
aku melihatnya setiap hari. bahkan tak pernah lupa.
hanya untuk sekedar menanamkan dihati

"lihat ini, mardhiah! dia bisa jadi yang terindah untuknya, mengapa kamu tak bisa? perempuan bodoh! payah!"

aku kembali menangisi diriku sendiri.

"itu waktu dimana aku benar-benar membencimu" katanya.

aku diam. pikiranku tetap melayang.

"kenapa aku ini? mau dimengerti tapi tak pernah mau mengerti. menuntut peka hati orang lain, tapi aku sendiri tak pernah peka. aku payah! egois!"

aku kembali terisak. "aku menyesal" itu yang terakhir keluar dari mulutku saat itu.

tak ada yang bisa kubuat lagi. lihat sekarang! mungkin dia mulai kembali membenciku.
padahal kemarin kita sangat baik. Ya Tuhan... :'(

aku sign out dari social network'nya.
dengan penuh keegoan dan kebodohanku.
aku menulis ini di social network milikku.

"kenangan gue udah berbatu nisan, tapi lo masih simpen cerita "kalian"!"

lalu ponselku mati, battery'nya habis.
ku charge ponselku, sementara untuk menunggunya, aku tidur.

malam itu, malam aku benar-benar merasa bahagia :'D sangking bahagianya aku tidak tidur untuk menyempatkan sedikit waktu membangunkannya untuk sahur, tapi ponselnya tidak aktif :(

pukul 10.00 pagi aku baru bangun.
ku aktifkan ponselku. beberapa sms masuk darinya.
dia bertanya ada apa denganku?

pagi itu, aku merasa lebih baik.
sedihnya sudah tak kurasakan lagi.
lalu ku membalas pesan darinya, meminta maaf karna terlambat membalas, lalu menjelaskan apa yang terjadi padaku. kubilang tidak apa-apa. aku hanya kaget melihat notemu tentangnya.

tidak ada balasan.

1 jam kemudian,
2 jam kemudian,
3 jam kemudian,

"ah, kalo seperti ini aku yang bisa gila sendiri! nunggu sms ga dateng-dateng". gumamku.

aku mengambil ponselku, mengetik pesan "hay" padanya. lalu mengirimnya.
dia membalas "apa?". hanya apa, dan dingin rasanya.
ada yang tidak beres.
aku bertanya lagi, terus bertanya sampai akhirnya dia bilang "kamu ini kenapa yah? nanya-nanya mulu"
tanganku gemetar, aku tak berani membalas pesannya lagi. kalo sudah begitu, kau biasanya sedang menahan amarah. aku menunggu.

tak berapa lama, dia mengirim pesan teks padaku.
"sudahlah, aku tak mau marah lagi."
aku hanya membalas "iya..."
lalu dia bertanya sedang apa, aku balas melamun.
aku...masih takut saat itu, tak berani bicara lebih padamu. aku takut kau semakin marah.

lalu, kau ceritakan hal konyol yang ku buat untukmu, tidak mau mengertimu, tapi saat kau ingin pergi, aku malah menahanmu dengan alasan sayang. ya, memang benar.
aku senang buatmu gakaruan. senang buatmu sakit hati dengan sikap konyolku, tak mengerti mu, tak pernah peka dengan hatimu. intinya, aku senang buatmu marah-marah.
tapi ini malah buatmu pergi dariku :'D hihihi. aku memang bodoh ya, ri.
jelas-jelas kau sudah banyak mengertiku, tapi aku masih tetap mengujimu u_u maaf untuk itu.

setelah itu, kau flashback tentangnya "Isma" yang hampir bahkan mungkin sudah berhasil merebutmu.
kau benar, aku gondok sebenarnya..
tapi, aku tak mau bilang. cukup kau tau dari caraku membalas pesanmu.
sebenarnya aku ingin berteriak "HENTIKAN!"
tapi aku urungkan niat itu, sepertinya kau senang buatku panas dengan ceritamu tentangnya, haha :D

aku tetap pada dinginku saat membalas smsmu.
lagi-lagi, aku melamun. terbawa tentang ceritamu.
yaampun, hari ini otakku benar-benar tak karuan.
sebegini cintanyakah aku sampai aku tak ingin kau diganggu siapa-siapa lagi :/ bahkan dengan ceritamu-ceritamu itu.. huh, itu menyebalkan pasti untukmu, ri u_u maaf sekali lagi...

lalu kau bilang "udahan ngobrolnya"
aku tak membalas.
aku diam, berfikir "untuk apa lama-lama kaya gini? mending diselesaiin"
aku ambil ponselku lagi.
tadinya ku fikir, masalahnya bener-bener udah selesai, tapi nyatanya kau tetap bersama dinginmu.
diakhir pembicaraan, waktu aku gatau lagi harus apa, smsku juga gak dibalas-balas, dan ditambah signalnya yang buruk sekali kau bilang
"yaudah. gua juga lagi bete sama lu."

DEG!
nyess banget rasanya dapet sms kaya gitu.
kita sempet debat sebentar, lalu kau tak membalas pesanku lagi.
"maafin aku" itu yang ku kirim kemudian.

Aku...

air mata ini, menetes lagi
seiring turunnya hujan yang tak kunjung reda
semoga hujan ini membawaku ke dalam peluknya

mata ini, tak dapat lagi menahan
terkadang, perihnya hati bisa menjebolkan semuanya
lalu terciptalah aliran deras dipipi

hati ini, sebenarnya sangat rapuh
dia bisa hancur layaknya puing puing bangunan
tapi tetap kokoh pondasinya, karena kasih sayang

aku,
atas nama cinta
mewakili hati, raga dan jiwaku...

sakit ini...

sakit ini...
sakit yang selalu aku rasa,
waktu aku kembali melihat kebelakang,
ada dirimu, ada dirinya,
tidak ada aku

sakit ini...
sakit yang selalu aku rasa,
saat semua kembali terulang,
cerita indahmu, cerita indahnya,
menyatu jadi satu yang dinamakan "cinta"

sakit ini...
sakit yang selalu aku rasa,
saat berusaha bangkit dan tidak terpuruk,
tersenyum untukmu, untukku,
tapi bukan kita

sakit ini...
sakit yang selalu aku rasa,
atas seluruh kenanganku yang kubuang percuma,
untuk kita dihari ini,
tapi kau masih menyimpan kenanganmu.

terimakasih..
Kamis, 04 Juli 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Yunita, Dana dan "Bey"

YUNITA, DANA, dan “BEY”
20102012

“Muharommi Eky Perdana” panggil aja dia Dana.
Adalah orang pertama dan terakhir yang Yunita sayang. Dia, enggak mau bohong lagi sama mamanya. Dia pernah bilang :
“kalau, Dana ditakdirkaan bersama lama sama gue, gue berterimakasih tapi kalau enggak juga enggak papa. hidup, itu pasti ada senang dan sedih.”
Yang dia ambil hikmahnya aja dari pengalaman yang pernah dia alamin. Katanya :
“intinya, belajar dari pengalaman.”
*20102012 19:31*
Yunita titipkan hati, cinta dan kasih sayangnya buat dia, Dana_bey. ya, dia berharap Dana bisa simpan itu semua dengan baik.
Yunita terima Dana bukan karna dia mau ngebuktiin ke Alfi (temannya) kalau dia masih bisa suka sama cowo. tapi, karena cinta yang mengalir secara perlahan yang ngebuat Yunita memilih untuk bersama Dana.
Alasan Yunita nerima Dana juga bukan karna wajahnya yang emang cakep tapi karna Dana bisa ngebuktiin ke Yunita kalau Dana bener cinta dan sayang sama dia. belaian dan usapan tangan ke kepala Yunita udah buat dia menilai Dana serius.
sejujurnya, Yunita itu salah satu cewe yang paling risih kalau tangannya dipegang sama cowo, dirangkul apalagi. tapi, enggak kalo sama Dana.
Yunita inget banget pas tanggal 20 juga. Dana, senderan dibahunya, dan itu bikin Yunita kaget. enggak lama pipinya Dana nyentuh pipi Yunita dan dia cuman bisa diem disitu.


“pas lagi cerita tentang bali dia duduk samping gue. gue senderan pas di dadanya dia. ckckck, dia deg-degan tenyata. Gue cuma bisa ketawa dalam hati. dia, ngelingkarin tangannya ke pinggang gue. dan untuk sekian kali gue kaget. tapi, jujur dalam pelukannya gue nyaman banget. rasanya gue nyaman dan aman dalam pelukan dia. dia pegang tangan gue, anehnya gue enggak sama sekali risih. ya ampun begitu cintakah gue sama dia ..” begitu kata Yunita.


*31 Oktober 2012*
yunita bilang jujur ke Dana, kalau Yunita kangen Dana. Selama Dana di Bali, mereka jarang smsan. Bukan bermaksud Yunita atau Dananya gak ada pulsa, atau Yunita sibuk dan Dana mau happy-happy. Tapi Yunita Cuma ngga mau ganggu wisata dia ke Bali. Dan karna alasan itulah Yunita kangen sama dia. Hahaha, lucu yah :D
“sekarang gini, siapa sih yang enggak kangen sama pacar kalau ditinggal jauh, ke Bali lagi. dan, disitu kita enggak sms dia padahal sms adalah cara satu-satunya kita lepas kangen.” Gitu curhat Yunita. :P
secuek-cueknya Yunita sama pacarnya, dia masih punya rasa kangen. Yunita pernah ngungkapin kalau dia kangen rasanya mau ketemu si Bey, ngobrol sama Bey, dan kalau dia berani, dia mau peluk Bey.
Sebenernya Yunita orangnya romantis kok (ROkok MAkaN graTIS) *eh. Tapi, masing-masing ngga ada yang mau ngalah buat ungkapinnya. Sama-sama keras kepala :D kaya gue dong sama OM ZUHRI :p berantem mulu ujungnya akur, wkakakaka. Yunita bilangnya sih emang karna kita berdua sayang.
“kangen itu nyiksa banget. gue, baru pertama kali ngerasain kangen yang berlebihan kaya gini .. hahaha malu sendiri. Kalau tadi pagi gue dicengcengin muka cerah gara-gara ayangnya dah mau pulang, gue seneng. gue, emang seneng dia pulang. tapi, dia pulang ke Jakarta pun gue juga enggak bakal ketemu dia. Dia, langsung pkl selama 6 bulan. oh my god, dah enggak ketemu 9 hari, terus enggak ketemu 6 bulan rasanya apa coba. galau banget pasti .. haha, enggak juga sih ,,, aku sayang kamu dana_bey. ” Yunita jujur nih.


Yunita ini, orangnya tulus, biarpun dikata Tomboy. Dia ngga pernah mau nyakitin orang lain. Menurutnya, lebih baik dia yang sakit daripada orang lain, apalagi orang yang dia sayangin.
Gak cuma tulus, Yunita kalo udah mencintai bakal jadi orang terlebay sedunia loh! Percaya gak? Gue sih percaya~ dia pernah nangis seg-segukan sampe terbayang beberapa kenangan bersama si Dana. dari waktu mos dan terakhir waktu dia jalan sama gue ke KFC.
“selama 2 bulan ini enggak ada yang spesial. karna, selama gue sama dia. gue, enggak pernah ketemu dia. 6 hari kemarin adalah hari terakhir gue ketemu dia. lumayanlah .. ehm, hari ini adalah hari dimana gue enggak ketemu dia selama 20 hari. dari tanggal 13 kemarin ..”
Ini beberapa catatan yang gue temuin di buku coret-coretan gue :D hahahaha...
*20 Oktober 2012*
“adalah tanggal yang enggak bakal pernah gue lupain . karnaa, itulah kado terindah selama gue hidup di tahun 2012.”
*27 Oktober 2012*
dia pergi ke Bali selama 8 hari. wow
*17 November 2012*
gue jemput dia pkl .. tanggal itu pas gue enggak ketemu dia selama 20 hari. dan, akhirnya ketemu. gue seneng bisa ketemu dia, dan gue seneng gue bisa meluk dia selama perjalanan ke rumah dia. *Dan sekarang gue enggak bisa meluk dia lagi. kalau, kata Mardhiah ironis memang. hahaa
*20 November 2012*
Anniv gue yang pertama. enggak ada yang spesial di tanggal. biasa aja.
Aduh, gue lupa tanggalnya pas dia libur pkl dateng ke sekolah. dan, akhirnya dia ikut nyelawat. inget banget gue ngomel" diboncengin dia, abis gaya"an lepas tangan. kan bikin orang ngejerit. pulang dari nyelawat kita pulang bareng naik 03.. hening tu disitu ngobrol juga semuanya aja. dia, nyuruh ikut pulang ke arah rumahnya. ya, emang bisa sih. tapi, gue nolak karna kakak gue ada di rumah. bisa mampus gue kalau pulang sore.
*6 Desember 2012*
hari pertama ujian. dia nungguin gue pulang. tapi, sayangnya gue kaga pulang".. akhirnya dia pulang duluan. haahaa, kasian yaa
*20 Desember 2012*
tanggal Anniv gue yang ke 2. disitu dia janji mau lebih perhatian lagi sama gue.. haha, omdo dia sama aja cuek" juga.
*30 Desember 2012*
semunyaa telah berakhir enggak ada kata Kita . tapi, hanya guee dan dia .
kalau dia tanyaa kenapa gue putus samaa dia, gue enggak bisa jawab. karna, gue juga binggung apa alasannya gue bisa putus ama diaa .
. engggak tau kenapaa gue punyaa instingg gue akan putuss sama dia hari itu . and, than gue putus .
. kalaau lo nanyain apa lo masih sayaang sama dia . yaa, gue masih sayang sama diaa . dia akan jadi orang pertama dan terakhir gue sayang sampai kapan pun .
. gue enggak tau apa yang terjadi . gue enggak pernah minta apa" dari dia, gue cuman minta dia ngasih kabarr ke gue doangg . gue, selaluu sms duluan ..
. apaa, gue terlaluu sempurna buaat dia . atau gue terlalu kurangg segalanya di mata dia .
. guee mimpii aneh sebelum semua tinggal kenangann . gue mimpi kalaau gue dipisahin samaa dia. dan, saat itu gue sadarr . semuanyaa akan berakhirr .
.. gue sayangg elo .
malem tanggal itu gue sms dia bey. dia jawab apa sayang. gue, sempet ketawa pas baca sms dari dia.
yunita: lama banget ya balesnya, memecahkan rekor. ehm, kemarin tidur jam berapa?
dia: Jam 1. emang kenapa?
yunita: jiahh, kenapa enggak tidur subuh aja sekalian.
dia disitu balesnya lama banget adalah 15 menit. terus, gue sms lagi : lama ya balesnya.
dia: ribet lo
yunita: ohh, gitu. ok, gue enggak bakal sms lo lagi. makan tu sayang lo.
dia: ciyus?
yunita: gue lagi enggak nafsu buat bercanda.
dia: lo kira gue bercanda apa. wow banget
yunita: kalau mau ngajak berantem bilang mumpung gue lagi emosi ni
dia: lo yang ngajakin berantem duluan
yunita: lo kali yang ngajakin berantem duluan. kalau, mau ngajak berantem. mendingan, enggak usah bales sms gue.
dia, enggak bales.
yunita: pikirin aja pkl lo. jangan mikirin gue.
gue tanya berani enggak lo mutusin gue.
dia: gue lagi males berantem.
dia: ok.deal
yunita: ok. deal maksudnya
dia : deal apaan?
yunita: mana gue tau elo yang sms ok.deal
dia enggak bales
yunita: lo masih sayang enggak sih sama gue. kamu, masih sayang enggak sih sama aku bey?
dia: maunya
yunita: serius romi
dia: serius bubar kaka yunita.
yunita : ohh, udah bubar. yaudah ..

......................................................................................................
dia: maafin gue ya ka. selama ini banyak kesalahan sama kaka. love you bey
yunita: ya enggak papa . nama tengah lo emang nyebelin. udah ah jangan buat gue nangis. love you too bey. met taun baruan tanpa gue ya.
dia: makasih buat semuanya yang udah lo kasih sama gue ka.. maaf kalo ada kata2 yang kurang berkenan selama ini..
yunita: gue seneng kok lo dah bisa marah. gue nyuruh lo mutusin gue karna gue enggak mau liat lo sakit kaya kemarin. gue dah janji ke Tuhan. kalau, lo akan jadi orang yang pertama gue sayang. udah, gih tidur. besok pkl juga.
dia: yaudah..
yunita: ehm

......................................................................................................
sebenernya gue masih sayang sama lo. dan, sampai kapan pun lo akan jadi orang yang gue sayang. love you so much dana_bey


lah, kenapa? kok gue jadi enggak nafsu makan gini. masa sih gara" dia doang. hahaa, drama deh.

tapi fakta yang ada ...
1. dia bisa buat orang yang ceria selalu ketawa jadi murung. dan, cuman bisa tersenyum ke orang lain.
2. dia bisa buat orang yang suka makan jadi enggak nafsu makan.
3. dia bisa buat gue tidur tanpa ada mimpi.
. 31 Desember .

Kalian tau gak? Tepat tanggal 1 Januari 2013. Dirumah gue. Pagi-pagi jam 10. Tiba-tiba Yunita ngerangkul gue, nangis diguling kesayangan gue, seg-segukan. Gue baru kali ini liat temen gue yang satu itu putus cinta. Ah, perasaan dia itu bener-bener tulus buat lo ya, Bey ?

Cinta Ini?

Hai hai, namaku Nita Wulandary. Sebut aja aku Nita. sekarang aku duduk disalah satu sekolah swasta di Jakarta. tempat yang jadi kisah awal perjalanan hidupku juga kisah cintaku.
Aku kelas X 1. Anak yang masih polos-polosnya karna baru keluar dari SMP. Aku ini salah satu siswi yang tenar karna ramah loh! hahaha, cuma modus doangan kok :P biar dikenal seantero sekolah. *eh
sangking tenarnya, aku sampe punya nama panggilan tersendiri. mereka selalu bilang aku 'Putri SMP' (Selesai Modusin Pergi) hadduh -_-
disini jugalah aku dapet yang namanya 'pembalasan'. mungkin karna sering modusin orang kali yah sampe cintaku bertepuk sebelah kaki. *eh tangan maksudnya :P

jadi gini, someday, waktu aku lagi ditatar (sekarang namanya MOPDB), aku disuruh buat surat cinta dihari akhir acara ini sama kakak-kakak OSIS yang menyebalkan itu.
huh, bayangin. masa surat cintaku yang pertama ini buat kakak-kakak OSIS yang nyatanya sama sekali gak ada yang kece badai ini sih? -_-
UNTUNGNYA, masih ada salah satu dari mereka yang menurutku, yaaah lumayan kece sih.
Namanya Rommy Adriansyah. Dia anak XI IPA 2, yang nggak tenar tapi terkenal disekolah (?)

So, waktu acara tatar menatar itu selesai, aku pulang sendiri. dengan kantong kresek dilingkar dibadanku, tangan kanan pegang sapu terbang, tangan kiri pegang tong sampah, dan kaos kaki yang setara dengan warna pelangi.
kalo dibayangin, aku ini seperti nenek sihir yang mau nyulik kucing tetangga. huh *usapkeringet
hari ini KEBETULAN (maaf caps jebol) cuaca sedang tidak ada toleransi sama aku. itu kondisinya lagi panas banget dan aku harus tenteng menenteng barang-barang ini sampe rumah *OMG
eeh, tiba-tiba pahlawan kesiangan datang dengan motor ninjanya *ngeeeengg dan menawarkan tumpangan ke Putri SMP *asyikasyik

"Nita, mau pulang bareng?" ajak Ka' Rommy waktu itu.
"Oh, boleh kak. tapi apa gak keberatan?" *ingetberatbadan.
"ah nggak kok. rumah kamu dimana dek?"
"kalo dirumahmu boleh gak kak? biar kita satu atap :P" buseet, kakak kelas juga di modusin loh!
"hahaha, bisa aja kamu ini. serius dimana?"
"di Sunter kak, yang sebelah-sebelahan sama kolam renang besar tuh!" (baca laut).
"oh, disitu. yaudah bareng aja. kita searah kok.." paksanya.

well, mumpung dia maksa, aku naikin aja motor ninjanya itu, dan ngeeeengg, sapu terbangku kalah cepet sama motornya:0 *plaakk
dalam waktu 15 menit aku bisa sampe rumah dengan motornya. sapu terbangku bener-bener kalah canggih sama motor pahlawan kesiangan ini -_-
dan.... lihatlah rambutku. sekarang aku bener-bener jadi nenek sihir yang siap menculik kucing anggora milik tetangga. HAHAHAHA.

"Assalamu'alaikum, maah.. aku pulaaang" *adeganbukapintu*
"Wa'alaikumsalam...(?)" *tetapberdiridepanpintu

sepertinya mamaku tercinta ini kagum liat anaknya yang sudah berubah jadi nenek sihir -_-

"mah, are you okay?" *sokinggris.
"yah, I wanna say. if your're so beautiful, my little angel!"
"what did you say, mom? I'm so beautiful with my clothes like this?!"
aku langsung berlari ke kamar dan meninggalkan mamah yang sepertinya akan menyukaiku dan mulai menciumku dengan berlebihan itu -_-

*Kriiiiiiiiingggg*

alarm pagi pun berbunyi. lebih awal dari ayam-ayam diluar rumahku yang masih molor itu. Aku langsung bergegas ke kamar mandi *bbbrrrr airnya melebihi air kulkas didapur ._.v
aku berangkat sekolah pukul 6 pagi. tak kusangka, pahlawan kesiangan yang kemarin mengantarku pulang sudah ngejogrok didepan rumahku.

"ngapain kak?" tanyaku.

pagi ini udara masih sejuk, masih pagi juga. jadi energi buat memulai modus masih belom kuat *eh

"mau jemput kamu lah, Nit. masa jemput ondel-ondel?" Katanya.
"maksud loh kak?!"
"hehe, justkid. jangan marah gitu dong. nanti cantiknya hilang"

loh? kok jadi dia yang modusin gue sih? -_-

"ah, ngomong sana lo kak sama tembok. jangan sama gue. gue mah marah ataupun gamarah tetep aja cantik" *pedemodeon.
"yaudah naik. kamu sukanya mengulur waktu."

akupun naik ke motor ninjanya itu. oke, kali ini dia jalan lebih lambat dari yang kemarin. mungkin, otak dia sedang waras 0.0

*Di Sekolah*

ntah ada angin apa, cewe-cewe seantero sekolah pada bengong liatin aku sama Ka Rommy boncengan motor. mungkin yang ada dipikiran mereka "kok bisa ya pahlawan kesiangan ini boncengin Putri PMS yang terkenal modusnya itu?"
huh. aku berusaha untuk positive thingking, dan well pertanyaan demi pertanyaan meluncur bagai rocket yang ingin terbang ke bulan.
seketika aku merasa jadi "Artis Sehari" yang lagi digosipin pacaran sama Pahlawan Kesiangan itu.

"lo jadian sama dia, Nit?
"jadian apaan sih?"
"itu, lo dianterin sekolah. lo dijemput sama dia kerumah kan?"
"iya, terus kenapa?"
"dia jemput lo kerumah? lo serius?"
"sejak kapan sih lo jadi wartawan kaya begini?"
"mulai hari ini gue yang bakal jadi wartawan yang hobbynya kepoin lo tiap hari"
"gak penting deh. mending urusin urusan lo sendiri daripada kepoin gue. tugas sekolah lo numpuk kaya cucian noh!"
"ah, terserah apa kata lo. pokoknya gue tetep akan kepoin lo tiap hari"
"huh, up to you lah" *ngeloyorpergi.
"eh eh, lo mau kemana?"
"toilet pria, mau ikut lo?"
"(?)"
aku hampir gapernah tau apa yang ada diotak mereka sampe bilang kalo aku ini jadian sama Pahlawan Kesiangan itu.
padahal, baru deket aja 2 minggu yang lalu. udah di gosipin kaya begini.
tiba-tiba ada yang berdiri percis depan congor ku.

"Temenin aku ke mall yuk?"
"Mau ngapain kak?"
"Beli kado untuk adik kakak"
"Oh, emang kapan ulang tahunnya?"
"15 April, kakak mau kasih dia kado istimewa, nanti kamu bantu milih yaa"
"hm, okke deh kak. asal asuransi ada ditangan kakak :P"
"hahaha, tenang aja. semua kakak yang bayarin deh kalo mau makan atau minum :P"
"yah, asal jangan bohong aja"
"ngga, sayangggg"

what? dia panggil aku sayang loh! duh, rasanya kaya terbang nembus langit deh. seorang Putri SMP yang tadinya suka modusin orang malah dimodusin sama orang. payah!

*Sebuah Toko Baju*

"adik kakak suka baju warna apa?"
"dia sih masih kelas X, Nit. jadi sukanya kalo ngga ping ya ungu"
"Wah, sama banget kaya aku, kak!" seruku.
"Kamu juga suka Ping dan Ungu?"
"Suka banget kak, itu warna favoritku malahan. kak, gimana kalo bajunya yang ini. bagus kak modelnya."
"oke deh."

Selesai membeli baju, kita pun makan sebelum balik kerumah. yah, maklum cacing-cacing diperut udah pada demo dari tadi.
kita pulang agak malem, sekitar jam 8 baru sampe rumah. kayanya kita terbawa suasana sampe lupa waktu.

*Di depan Rumah*

"Thanks ya, Nit udah temenin aku"
"Iya, kak. sama-sama"
"Besok, pulang bareng lagi ya. aku tungguin"
"Sip deh kak."
"Aku pamit dulu, Nit. byeeee"
"Daaah, hati-hati ya kak"

mulai dari situ. aku ngerasa ada yang aneh sama diriku. aku mulai cemburu sometimes kalo liat dia pulang atau berangkat sekolah bareng cewe lain.
aku mulai suka kepoin kehidupannya. kurasa, aku mulai jatuh cinta sama Pahlawan Kesiangan ini.
hah? jatuh cinta? tukang modus kok bisa jatuh cinta?




*Esoknya*

Makin lama aku makin dekat sama si Pahlawan Kesiangan itu. Bahkan, dia pernah bilang kalau aku ini segala-galanya untuk dia. *duhNitamasukjebakannih!
Sampai masalah keluarga pun tak tanggung-tanggung dia ceritakan kepadaku.
Huh, aku sampai berfikiran dia suka terhadapku. Kalian tahu? Perhatian Pahlawan Kesiangan itu mampu buat hatiku meleleh seperti es batu. *alaymodeon
Hari demi hari, aku semakin menyayanginya. Bahkan, aku sudah mulai merasa takut kehilangannya :'(
Sudahlah, aku tak boleh berharap lebih kepadanya. Belum tentu juga kan dia merasakan hal yang sama denganku.
Siangnya, aku menemuinya di Kantin Sekolah. Niatku untuk mengundangnya ke acara hari ulang tahunku yang diadakan seminggu lagi.

"Hey, kak!"
"Hey! Kirain siapa. duduk Nit."
"Hehe, lagi sibuk ya kak? Kayanya daritadi kuliatin ga lepas dari buku walaupun di Kantin?"
"Iya nih dek, deadline soalnya. Harus dikumpulin besok pagi."
"Oh.. Hm, kak?"
"Iya? ngomong aja dek."
"Hm, bisa dateng ke acara ultah ku gak?"
"kapan?"
"15 April"
"15 April? Hmm, kalo bisa, nanti aku dateng ya"
"Oke deh kak, aku tunggu ya. aku balik ke kelas dulu."
"udah cuma itu doang? kirain mau temenin kakak disini"
"heheh, iya.. ngga mau ah. nanti jadi kambing conge, ditemenin tapi ga diajak ngobrol."
"hahaha, kamu ini bisa aja. yaudah, sampai ketemu pulang nanti yah"
"oke kak, byeee"
"byeee"

*Seminggu kemudian*

Sikap Kak Rommy makin baik terhadapku. Hatiku dibuat mabuk karenanya, tiap bertemu Jantungku terasa berdebar, tanganku dingin, grogi, takut, senang, bercampur jadi satu.
Ntahlah, apa ini yang dinamakan cinta? Aku bingung.
Selepas pulang sekolah, aku kembali mengingatkan Kak Rommy tentang Birthday Party'ku nanti malam.

"Jangan lupa kak, nanti malam dateng. aku tunggu loh!"
"Iya, sayang. tenang aja, aku pasti dateng kok"
"Sayang? Oh my God, mimpi apa aku semalam sampai dia bilang sayang sama aku?" seruku dalam hati.

*Jam 20.00*

Aku menunggu si Pahlawan Kesiangan itu yang tak kunjung datang. Sedangkan pestaku sudah hampir mau dimulai.
Aku akan sangat kecewa bila orang yang kutunggu-tunggu kedatangannya benar-benar tidak hadir.
"Nit, kita mulai yuk pestanya, kasian teman-temanmu, sudah menunggu dari tadi" ajak mama.
"okey, ma" jawabku lemas.
"Happy Birthday to you, Happy Birthday to you, Happy Birthday Happy Birthday, Happy Birthday Nita"

Teman-teman menyanyikan lagu Selamat Ulang tahun untukku. Ini acara ultahku yang ke-16.
Hari dimana aku mulai beranjak dewasa.
Setelah 30 menit acara dimulai, tak ku sangka sosok yang ku tunggu pun muncul.

"Nit, Happy Birthday ya. Sorry aku telat" Sebuah kado dan pelukan menjadi hadiah istimewa untukku malam ini.
"Kadonya? ini bukannya kado yang dibeliin buat adik kakak kan?"
"kamu kan adik kaka, kakak gamau ngecewain kamu, ini surprize buat ultah kamu"
"makasih ya kak." aku tersenyum.
"Aku boleh ngomong berdua sama kamu?"
"Boleh, kak"
"Tapi ngga disini, ditaman sana"

*Di Taman*

"Kakak kesini sendirian?"
"ngga kok, kakak sama Lita. Lita, sini..." *Lita menghampiri keduanya.
"Kenalin, ini adik kelas aku yang sering aku ceritain ke kamu, Say."
"Say? dia pacarnya?" ucapku dalam hati.
"Nita, kenalin, ini Pacar aku. aku belom pernah cerita tentang dia ya ke kamu. lain kali aku cerita ya" *senyumlebar

Jantungku berdegub kencang. Kakiku seketika lemas, aku tak pernah menyangka orang yang kukasihi sudah mempunyai kekasih.
Ini seperti jatuh ketimpa tangga, ditambah lagi duren. Aku hanya terdiam, berdiri menatapi sosok perempuan disebelahnya.
inikah yang dinamakan "karma"? ini rasanya sakit hati? aku yang biasanya mempermainkan hati mereka, sekarang aku yang di permainkan?
Air mataku jatuh membasahi pipi. Ini rasanya sakit sekali, aku tidak pernah menyangka jika perasaanku harus berakhir seperti ini.
aku dipertemukan dengan sosok seorang perempuan ditengah acara pesta ulang tahunku, yang ternyata dia adalah kekasih dari seorang yang amat kusayangi.

"Jadi selama ini, aku hanya seorang adik? berarti selama ini juga cintaku tak pernah terbalas?" ucapku sambil menangis.
"Maksudmu, Nit?"

ntahlah, aku tak pernah bisa menahan diriku untuk menangis. aku pergi meninggalkan mereka berdua dengan harapan yang sirna.
aku berjanji, takkan pernah lagi mempermainkan hati seseorang, dan takkan pernah lagi menyimpan harapan kepada Pahlawan Kesiangan itu.
Setelah hari itu, aku pergi dari Kota Jakarta yang membosankan ini.
Aku pergi meninggalkan setumpuk harapan yang tak pernah dapat tergapai.
Ditempat neneklah sekarang aku tinggal. Aku tidak pernah ingin bertemu lagi dengan Pahlawan Kesiangan itu.
Bagiku, kejadian kemarin itu adalah hal yang sangat menyakitkan.


Sudah 2 tahun aku tinggal disini. HAHAHA, pergi menghilang begitu saja tanpa mengabari siapapun.
Dan kurasa, aku mulai membaik. Aku mulai mencoba untuk membuka akunku yang tak pernah lagi ku tengok sejak dua tahun lalu.
Ada ratusan pesan dari teman-temanku, dan ada 5 pesan mencurigakan dari "Pahlawan Kesiangan".
Seingatku, aku tak pernah mempunyai teman dengan nama "Pahlawan Kesiangan" di akunku ini.
Tapi yaudahlah, aku mencoba untuk melihat akun profilnya. Dia orang yang bersekolah disekolah yang sama denganku dulu.
Tapi, setahun lebih tua dariku, berarti dia adalah kakak kelasku. Profil ini semakin mencurigakan. Ini mengingatkan ku kembali dengan dia yang dulu kusebut Pahlawan Kesiangan.
Aku mulai membuka koleksi album fotonya, dan ternyata benar. Akun ini milik Rommy Adriansyah.

"untuk apa dia menghubungiku lagi?" gumamku dalam hati.

Aku menutup akunnya dan kembali ke profilku. Ku buka lagi pesan-pesan dari temanku yang menurutku penting.
Seketika, muncul keinginan untuk membaca dan membalas pesannya.
Well, kubuka lagi pesan darinya.

(30 April 2002)

"Dear, Nita.
Hay, maaf mengganggumu. Aku hanya ingin minta maaf padamu tentang kejadian dihari ulang tahunmu kemarin.
Aku benar-benar menyesal sudah membawa Lita kehadapanmu.
Ku fikir, kamu tak pernah menyimpan perasaan yang sama denganku saat itu.
Makannya, ku putuskan untuk menjadikan Lita kekasihku. Hanya untuk pelampiasan.

Rommy Adriansyah"

(31 Desember 2002)

"Dear, Nita.
Hay, kemana dirimu? Aku selalu menunggumu disekolah, berharap kau hadir dan kembali mengisi hari-hariku.
Baiklah, aku tau ini berat. Aku minta maaf padamu, benar-benar minta maaf.
Hubunganku sudah selesai dengan Lita. Sebulan setelah hari ulang tahunmu.
Nit, aku benar-benar menyayangimu..

Rommy Adriansyah"






(15 April 2003)

"Dear, Nita.
Hay, Happy Birthday yah ke-17. Sudah setahun kau menghilang tanpa kabar. Harus sampai kapan aku menunggumu lagi?
Aku benar-benar merindukanmu, maafkan aku, Nit..

Rommy Adriansyah"

(11 May 2003)

"Dear, Nita.
Hay Nit. apa kabarmu hari ini? Ini sudah ke 4 kalinya kamu tak membalas pesanku. Dimana kamu sekarang?

Rommy Adriansyah"

(15 April 2004)

"Dear, Nita.
Happy Birthday ke 18, Nit. Aku berharap baik untukmu. Semoga disana kau selalu sehat.
Aku tak pernah tahu bagaimana dan dimana kamu sekarang. Tapi kuharap, kita bisa dipertemukan lain waktu.
Maaf, baru sempat mengabarimu lagi. Aku sibuk dengan Kuliah ku. Jaga dirimu baik-baik yaa.
Aku menyayangimu..

Rommy Adriansyah"

Tak ada perasaan sama sekali yang kurasa setelah membaca pesannya. Perasaanku sudah benar-benar mati untuknya.
Baiklah, aku akan membalas pesannya.

(20 April 2004)

"Hay, terimakasih atas ucapan ulang tahunnya. Aku baik-baik saja.
Bagaimana denganmu, kak?"

"Alhamdulillah, kau membalas pesanku juga. Aku juga baik-baik saja Nit.
Dimana kamu sekarang?"

"Dirumah nenek"

"Kenapa menghilang begitu saja tanpa memberiku kabar?"

"Kakak bukan siapa-siapaku. Untuk apa aku mengabarimu?"

"Ya, benar. Aku memang bukan siapa-siapamu."

"ya"

hm, itu obrolan singkatku dengannya. Rasanya amat dingin. Ya, aku memang tak pernah mau obrolan kita menjadi hangat, seperti dulu.
Tahun ini tahun ajaran didik baru. Setelah aku lulus SMA, aku memutuskan untuk masuk disalah satu Universitas di Bandung dengan mengambil Jurusan Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu Bahasa dan Budaya).
Ini Universitas Impianku. Disini, aku akan belajar dan terus menekuni profesiku sebagai penulis. HAHAHA.*Penulisgadungantepatnya :P
Ternyata banyak orang-orang yang hijrah dari Jakarta ke Bandung hanya untuk menempuh pendidikan. Aku salah satu orang yang beruntung mendapat tempat duduk disini, yeeeahhh :D
Sekarang kuliah ku memasuki semester 3. Tepatnya akhir bulan di tahun 2005.
ntahlah, tiba-tiba aku merindukan Kota Jakarta yang sumpek itu. Kali ini aku memutuskan untuk berlibur tahun baru disana. Bersama Mama Papahku tercinta :D dan abang tersayangku.

Aku berangkat dari Bandung pukul 8 Pagi, sengaja dari sini pagi agar siang tidak kena Traffic Jam. Sampai jakarta kiranya pukul 11 Siang.
Ohh, my homeeeeeyyyy... I miss you puuuullll.
my badroom, sudah 3 tahun lebih kamar ini tak kutiduri.
Huh, aku melihat foto-foto MOS ku 3 tahun lalu di dinding. Aku berjalan sedikit lebih masuk kedalam kamar.
Masih tertata rapi seluruh Novelku, Tulisanku, bersama album ini?
Ku coba buka perlahan. Lembar demi lembar ku buka. Aku kembali melihat kenanganku bersama Pahlawan Kesiangan itu.
Tiba-tiba, butiran kristal emas membasahi pipi dan albumku ini. Aku menangis haru. Ini masih ada disini, dikamarku bersama seluruh kenangan dan tentangnya.
Aku coba berjalan menjauhi meja belajarku, menengok ke arah kolam renang yang terletak dilantai satu.
ya, disana.. disana aku merayakan hari ulang tahunku dengan penuh duka. hahahaa.
STOP! Aku tak boleh menangis seperti ini.
Aku keluar kamar, menuju meja makan. Tak terasa, cacing diperutku sudah meronta-ronta minta makan, sedangkan aku malah asyik mengenang masa lalu. Damn!

Aku hanya seminggu berada di Jakarta. Aku harus kembali lagi ke Bandung karena ada urusan mendadak.
yah, urusan kuliah. itu memang hal yang menyebalkan -_-

Minggu malam aku sampai dirumah nenek. Nenek sudah berdiri didepan pintu untuk menyambutku pulang.

"Assalamu'alaikum, Nek. Sehat ajakan selama aku tinggal?"
"Wa'alaikumsalam. iya' alhamdulillah nenek sehat. gimana liburannya di Jakarta? Puaskah?"
"Nggak, nek. ada urusan kampus yang buat aku mendadak pulang kaya gini -_- masuk yuk nek. kakek mana nek?"
"kakek udah tidur dari sore. tadi abis bantuin tetangga sebelah bersihin pekarangannya. kamu udah makan?"
"belom nek, hehehe. nenek masak apa nih hari ini?"
"masak kentang balado dong, kesukaan kamu." kata nenek sambil tersenyum.

Tiba-tiba ada seorang lelaki yang keluar dari kamarnya menuju halaman depan.

"itu siapa nek?" tanyaku penasaran.
"itu anak kost baru. dia ternyata kuliah di tempat kamu. Pindahan dari Jakarta dia. katanya sih mau nemuin hal baru disini"
"oh" jawabku sambil mengangguk.
"yaudah, makan dulu. nanti baru mandi. terus istirahat. besok kuliah kan?"
"iya, nek. besok kuliah. masuk jam 10 kok. tenang aja nek. hehehe"

*esok pagi*

"Pagi nek... pagi kek..." *sambilciumpipimereka.
"pagi juga.." sapa kakek nenek.
"ayo ayo, duduk. kita makan bareng-bareng. oya, Nit. coba kamu panggil mas-mas yang ada dikamar itu. ajak makan bareng sama kita."
"oke kek" jawabku.

tok tok tok...
tok tok tok...

"Pagi, mas.. maaf ganggu. dipanggil kakek. katanya diajak makan bareng"
"oh iya, selamat pagi..." seketika kami berdua diam. saling menatap.
"Nita?" tanyanya heran.
"kamu tinggal disini selama ini?" lanjutnya.
"oh, iya. ini rumah kakek nenek ku." aku langsung pergi meninggalkannya.

tak lama, dia menyusul keruang makan.

"selamat pagi semua" sambil tersenyum lebar.

aku hanya diam. kakek nenek ku berusaha untuk menyapanya balik.
ntahlah, rasanya sebel ada dia dirumah ini. makan paginya aja udah gak mood kaya begini.
apalagi harus berlama-lama tinggal satu atap sama dia, huh.

"kek, nek, aku langsung berangkat aja deh." berdiri dari meja makan.
"loh, kok buru-buru? kan belom makan. nanti kamu sakit loh!" kata kakek.
"makannya nanti aja kek di kampus. ada tugas deadline hari ini yang harus dikumpulin. daaah kek, nek. Assalamu'alaikum" aku langsung ngeloyor dengan mobil kodok ku.

kenapa sih dia harus muncul lagi? udah jauh-jauh, susah-susah move on dari dia, eh malah nongol lagi.
bikin bete aja itu orang. pake acara ngampus dikampus yang sama lagi.
ah, bakal ketemu tiap hari ini mah.

*dikampus*

"lu bete banget kenapa sih?"
"Pahlawan Kesiangan itu muncul lagi!"
"Pahlawan Kesiangan? Rommy maksud lu?
"iyalah, satu-satunya manusia yang gue sebut PAHLAWAN KESIANGAN kan cuma dia doang. gak ada yang lain lagi."
"kok bisa?"
"ya mana gue tau? dia ngekost dirumah nenek gue. satu kampus lagi sama kita. gila kan!"

tiba-tiba orang yang lagi aku omongin muncul didepanku.

"Nit, kamu kenapa menjauh?"

aku langsung pergi tinggalin taman itu dengan pura-pura ada jam pelajaran.
Pahlawan Kesiangan itu ngejar aku. nanya kenapa aku pergi gitu aja dan menjauh.

"Sorry kak, aku gada waktu. deadline"

sampe selesai ngampus pun aku berusaha untuk ga ketemu sama dia. dirumah juga seperlunya aku keluar kamar.
padahal dia berusaha cari cara agar dia bisa ngobrol sama aku.
ada niat buat pindah dan ngekost ditempat lain. cuman, aku gaenak sama kakek nenek.
aku udah numpang disini selama 3 tahun lebih, terus tiba-tiba aku pindah gara-gara ada manusia satu itu. Oh God, aku harus gimana? gumamku dalam hati.

someday, ada acara Farewell Party difakultas ku. ini acara dibuat untuk kasih piagam ke orang-orang yang berprestasi dalam bidang menulis cerpen.
Hahaha, dia ternyata diundang. Parahnya lagi aku baru tau dia juga ambil Fakultas Bahasa disini.
semakin betelah aku dibuatnya.
oke, acara itu dimulai pukul 7 malam. kakek nenek ku mengizinkan ku keluar karna itu acara kampus.
aku pergi sendiri malam ini. dengan mobil kodokku dan gaunku yang tak begitu mewah.
aku datang tepat pukul 7, pas dengan acaranya dimulai. aku melihat semua teman-teman kampusku cantik-cantik, ganteng-ganteng. tapi aku? ah, bodolah. aku ya aku.jangan disamakan dengan mereka. *aseeekkk :P
tiba-tiba, Pahlawan Kesiangan itu datang menghampiriku.

"kok sendiri, Nit?" tanyanya.
"iya, kurang pede kalo deket mereka"
"kurang pede kenapa? you're so beautifull"
"hm, makasih"
"orang gak pede itu jarang suksesnya loh!" katanya.
"kata siapa? aku sukses lupain kakak. tapi kenapa kakak dateng lagi?"
"itu namanya belom sukses. kalo kamu sukses, kamu gabakal menghindar waktu aku coba mulai dekatimu lagi."
"oh, begitu."
"mana pacarmu?"
"hah? pacar?"
"iyah, bukannya udah sukses lupain aku?"
"terus maksud kakak, mentang-mentang aku udah sukses lupain kakak, aku harus punya pacar gitu?"
"ya siapa tau ada yang mau sama tukang modus seperti mu :P" ledeknya.

huh. orang ini bener-bener buatku kembali ke masalalu.

"hallo? kenapa bengong?"
"ng, nggak apa-apa"
"oke, aku tau kamu masih marah sama aku tentang kejadian beberapa tahun lalu itu."
"lalu?"
"masih adakah kesempatan buatku?"
"kakak ini ngomong apa sih?"
"Nit, aku menyesal bawa Lita kehadapanmu"
"ya, aku tau itu"
"aku gapernah tau kalo kamu punya perasaan lebih sama aku saat itu"
"ya.."
"dan waktu aku tau kamu punya perasaan yang sama. aku nyesel kenapa harus Lita yang udah jadi pacar aku saat itu"
"ya"
"aku minta maaf, aku menyesal, benar-benar menyesal, aku menunggumu hadir ditaman sekolah waktu itu. tapi kamu malah menghilang entah kemana. dan kita baru ketemu sekarang."
"ya"
"kasih aku kesempatan lagi, Nit. aku mohon."
"gausah memohon kak, aku benci sebenarnya kakak muncul dihadapan ku lagi. bicara hal ini dihadapan aku. aku benci itu! aku berhasil lupain kakak, sekarang ngapain kakak hadir lagi dihidupku? tinggal dirumah nenek ku, ngampus dikampus yang sama denganku. kakak mau usik aku lagi, ha?"
"kamu membenciku?"
"iya, aku benci kakak! aku benci kenangan yang pernah kita lewatin! aku benci kenal kakak! aku benci!" aku keluar ruangan dan pergi ketaman. dia mengejarku, lalu memelukku dari belakang.
"aku minta maaf, Nit. aku menyayangimu."
"tolong lepas aku, kak"
"aku gak akan lepas kamu sebelum kamu maafin aku. Listen to me" dia membalikkan badanku. sekarang, kami berdua saling menatap.
"aku minta maaf, aku menyesal gak pernah peka sama perasaanmu, dihari istimewamu aku malah kecewain kamu, aku minta maaf. Nita, aku butuh kamu. Aku cuma menyayangimu. aku selalu mencarimu, pergi kerumahmu, masuk kedalam kamarmu untuk melepas kangenku ke kamu. aku bicara pada orang tuamu dan menanyakan dimana keberadaanmu. aku sengaja susul kamu kesini, pura-pura gak tahu ini rumah nenekmu, cuma untuk kamu. aku pengin kamu temenin aku, Nit. tolong, kasih aku kesempatan sekali lagi."

aku menangis, kali ini benar-benar menangis hebat. perasaan yang pernah hilang selama 4 tahun lalu itu, muncul dalam waktu satu bulan.
disini, di Bandung.
Pahlawan Kesiangan itu memelukku, memelukku sangat erat. dan untuk sekarang, aku benar-benar bisa merasakan perasaanku terbalas.
yaa, perasaan yang sempat kurasa 4 tahun lalu.

"aku janji, gak akan ada lagi yang lain. just you.." katanya meyakinkanku.

aku tak pernah tau harus bicara apa lagi terhadapnya. aku melepaskan pelukannya, dan pulang.
aku hanya ingin sendiri disini, sekali lagi ingin menyendiri. tanpa siapapun.
aku mengulang memory yang pernah ada bersamanya. kubuka lagi lembaran per lembaran dari albumku yang kita buat bersama.
indah, yaa sangat indah. alunan melodi pun mungkin akan kalah dengan cerita indah yang pernah kita buat selama hampir setahun itu.
hahaha, jangan berharap lagi Nita. kamu berhasil melupakannya, lalu kamu mau dengan mudah begitu saja terpancing dengan kata-katanya? *gumamku.

okey, akan ku buat keputusan. ini cinta, aku mencintainya bukan karena siapa dia, bukan karena gantengnya dia atau bukan karena kayanya dia.
aku benar-benar mencintainya saat aku mulai merasa aman dan nyaman didekatnya.
yaa, dia ceritaku, cerita yang selama ini aku kembangkan bersama manis pahitnya perjalanan cintaku.
cerita yang...menurutku bisa membuatku hidup, bertahan dalam perasaan yang tak biasa ini. perasaan yang disebut cinta.
yaa, aku masih mencintainya, aku benar-benar masih mencintainya. aku hanya...aku hanya pergi untuk menghilangkan sakit yang teramat dalam ini, tapi aku tak bisa bohong jika perasaan ku ini masih tersimpan selama 4tahun lamanya.
Oh, Tuhan.. aku harus apa sekarang?

tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. huh. apa mereka tidak bisa baca tulisan dipintu kamarku? bahwa aku sedang sibuk untuk malam ini.
mereka terus saja mengetuk-ngetuk pintu kamar. dan terpaksa kubuka.

"mau apalagi si ka?"
"aku tau kamu tak pernah bisa membohongi perasaanmu, Nit. aku bisa merasakan jika kamu tak membenciku. kamu masih menyimpan baik-baik hatimu untukku, kan?"
"darimana kakak tau? sejak kapan kakak jadi dukun hatiku, ha? mending sekarang kakak pergi. aku gak butuh kakak!"

aku kembali menutup pintu. dan kembali menangis. rasanya aku sudah keterlaluan sampai bicara seperti itu terhadapnya.
kenapa aku masih gengsi sih! Cinta itu gak ada kata gengsi Nita! gak ada!
pukul menunjukkan waktu sudah tengah malam. aku mencoba tidur berselimutkan dengan kegundahan hatiku.

*esok pagi*

huh, perasaanku sedikit lega pagi ini. tapi, coba lihat mataku, hitam seperti panda. sepertinya aku kebanyakan nangis dan kurang tidur semalaman ini.
aku bergegas ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri. selesai itu aku langsung berpakaian santai dan menuju ruang makan.

"pagi, kek... nek..." sambil berusaha tersenyum kepada mereka.
"pagi juga.. kok gak salam sama Mas Rommy?" tanya kakek.
"Pagi mass" sambil tersenyum kecut.
"pagi juga, Nit" balasnya.
"nah, gitu dong! kita ini kan satu atap, gak boleh dingin kaya begini. harus berbaur satu sama lain, ya kan Nak Rommy?" lanjut kakek.
"Iya, kek. benar." balas Rommy.
"Nit, nanti temenin Mas Rommy jalan-jalan daerah sini yaa.." perintah kakek.
"kenapa harus Nita sih kek?" tanyaku heran.
"ya kan kamu sudah tau daerah sini. masa kakek sama nenek yang temani Mas Rommy jalan-jalan?"
"kenapa gak pakai Guide aja?" saranku.
"kalo pakai Guide kan musti bayar. Mas Rommy kan disini juga ngekost. bayar kuliah juga. nanti uangnya habis buat bayar Guide."
"ya itu derita dialah kek, bukan urusanku."
"kamu ini kenapa sih, Nit? tinggal temani saja kok pake banyak alasan segala?"
"yaudah, nanti aku temani jalan"
"nah, gitu dong.. itu baru cucu kakek yang baik"

kakek ini ada-ada aja yah mintanya. niatku cuti kampus itu emang buat libur. tapi bukan berlibur bareng orang satu itu!

"Nit, kita pergi sekarang gimana?"
"kemana?"
"tangkuban perahu"
"yaudah, aku siap-siap dulu"
"aku tunggu di mobil ya"
"ya"

duh, sebenernya males banget loh temenin si Pahlawan Kesiangan itu.
aku pergi sama dia pukul 9 pagi. yah, ketangkuban perahu. tempat kesukaannya mungkin, jadi visiting pertama kesana.
kami sampai pukul 10. dari rumah nenek ke tempat ini lumayan dekat. cuma butuh waktu sejam buat sampai kesini.
aku memang suka kesini, tempat ini indah. selain senang menulis, aku senang photograph. makannya gak heran dikamarku berentet segudang album dari masa kecilku sampe sekarang.

"kamu suka tempatnya?"
"yaa"
"indah bukan?"
"yaa" aku mulai memejamkan mata.
"apa yang kamu rasain?"
"damai"

tiba-tiba dia memelukku dari belakang. aku terkejut. ya, heran. kami ini bukan sepasang kekasih. tapi seperti sepasang kekasih.

"kalau begini?" tanyanya lagi masih tetap memelukku. aku hanya diam. ya, aku merasakan ketenangan saat itu. andai dia bisa mendengar suara hatiku tanpa harus aku bilang..
"Nita?" panggilnya.
"iya, kak?" jawabku pelan.
"bisa kita mulai semuanya dari awal lagi?" tanyanya.

jantungku berdegup kencang. ini saatnya aku bilang. jangan lagi sia-siakan kesempatan yang ada, Nit. *gumamku.

"Nit?" panggilnya lagi.
"iya?"
"bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi?" tanyanya sama.

aku membalikkan tubuhku, melihat sorot matanya. ini ketulusan. yah, disana ada ketulusan.
lalu aku mengangkat kelingkingku kearahnya.

"berjanjilah" pintaku padanya.
"berjanji" ucapnya.
"takkan adalagi aku dan kamu sekarang"
"kenapa begitu?" tanyanya bingung.
"aku hanya ingin ada kita" jawabku.

dia tersenyum lebar, sekali lagi dia memelukku. menangis dipelukanku. berjanji dalam pelukku.
yah, dia milikku hari ini dan semoga untuk selamanya.

"aku mencintaimu, untukku, untuk mimpiku, untuk masa depanku, gatau kenapa harus kamu, tapi aku gabisa bohong.. aku sayang sama kamu" ucapku padanya..