Minggu, 22 September 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Bumi Cinta (Part 17)

Bumi Cinta Part.17 Harapan
Karya : Habiburrahman El Shirazy

Yelena dan Bibi Margareta sedang makan pagi ketika Ayyas tiba. Yelena nampak senang dengan kedatangan Ayyas, demikian juga Bibi Margareta.
"Kau sudah makan, malcik?" Tanya Bibi Margareta yang kini sudah berpakaian sangat rapi dan bersih. Siapa pun yang melihatnya tidak akan
mengira kalau dia sebelumnya adalah seorang gelandangan berpakaian kumal tanpa rumah tinggal tetap di Moskwa.
"Hari ini saya puasa, Bibi." Jawab Ayyas.
"O puji Tuhan. Kau orang yang taat beragama."
"Bagaimana keadaanmu Yelena?" Sapa Ayyas pada Yelena yang sedang menikmati sup Borsh yang masih mengepulkan uapnya.
"Dokter Tatiana menjelaskan besok sore saya bisa pulang." Jawab Yelena dengan mata berbinar.
"Syukurlah."
"Saya ingin Bibi Margareta ini terus menemaniku. Dia akan aku ajak tinggal di apartemen. Satu kamar denganku. Bagaimana menurutmu? Apa kamu keberatan kalau Bibi Margareta masuk kamar kita?"
"Sama sekali tidak. Justru itu sangat baik untukmu dan untuknya."
"Aku pikir juga begitu."
"Bahkan kalau kau mau. Kau bisa ambil kamar saya untuk Bibi Margareta."
"Maksudmu!?"
"Beberapa hari lagi saya mau pindah. Ada orang Indonesia, seorang guru di Sekolah Indonesia Moskwa yang memintaku untuk tinggal bersamanya.
Kamarku bisa dipakai Bibi Margareta, sehingga kau tetap nyaman."
"Kenapa kau akan pergi secepat ini? Berilah aku kesempatan membalas kebaikanmu." Kata Yelena agak sedih.
"Aku sudah bilang bahwa aku merasa tidak berbuat apa-apa kepadamu, selain aku hanya melakukan sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku."
"Jadi dasarmu adalah perintah Tuhan?"
"Ya. Di dalam Islam diajarkan, bahwa menyelamatkan satu nyawa anak manusia itu sama saja dengan menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia. Allahlah sendiri yang mengatakan hal itu di dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al- Quran."
Bibi Margareta menyela, "Ajaran yang sangat indah."
Ayyas tidak lama menjenguk Yelena, yang penting ia sudah tahu keadaannya. Tak lebih dari sepuluh menit Ayyas duduk di kamar VIP tempat Yelena dirawat. Ketika Ayyas pamit Bibi Margareta nampak masih menginginkan Ayyas duduk dan berbincang-bincang di situ. Begitu juga Yelena.
"Maaf, saya harus ke kampus sekarang. Masih banyak hal yang belum saya selesaikan. Kalau saya banyak menunda-nunda pekerjaan saya, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya dapatkan." Ayyas tetap bersikukuh harus pergi.
"Baikah kalau begitu. Selamat jalan Bogatir! Tuhan menyertaimu!" Kata Bibi Margareta penuh pujian dan doa.
"Ya selamat jalan, Bogatir!'"Yelena ikut menyanjung Ayyas seperti Bibi Margareta.
Ayyas yang disanjung malah menghentikan langkah. Sebab ia tidak tahu apa maksud mereka berdua menyebutnya bogatir.
"Maaf, saya tidak paham. Apa itu Bogatir? Apa makna dan maksudnya?" Tanya Ayyas.
"Jelaskanlah Yelena!" Pinta Bibi Margareta.
"Bogatir adalah sebutan untuk kesatria zaman dulu yang sangat masyhur dalam folklor Rusia dan keperkasaannya menjadi pujaan orang Rusia.
Saya sendiri sekarang jarang mendengar sanjungan model ini. Tapi generasi Bibi ini menggunakannya secara luas. Dan itu sanjungan yang luar biasa. Ketika Bibi menyanjungmu begitu, saya rasa tepat." Jelas Yelena dengan wajah lebih cerah.
"Baik terima kasih atas pujiannya. Da svidaniya! (Sampai jumpa)” Kata Ayyas sambil melambaikan tangan dan bergegas pergi.
"Zhelayu uspekha!" (Semoga sukses) Sahut Yelena dengan senyum mengembang.

***

Tidak ada tanda-tanda Doktor Anastasia Palazzo telah datang ketika Ayyas memasuki ruang Profesor Tomskii. Ruang itu tidak dikunci tapi pastilah Bibi Parlova yang membukanya.
Jika Doktor Anastasia Palazzo telah tiba, biasanya palto tergantung di salah satu sudut ruangan itu. Ayyas langsung mengambil buku tentang sejarah
hubungan diplomasi pemerintah Uni Soviet dengan Iran.
Satu bulan setengah pertama di Moskwa memang ia jadwalkan untuk membaca literature sebanyak-banyaknya. Sesekali ia mencatat hal-hal
penting dalam catatan kecil. Ia juga pasti akan melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang pernah hidup pada zaman komunis Uni Soviet, utamanya zaman Lenin dan Stalin, jika masih ada sebagai saksi sejarah. Atau
orang yang benar-benar tahu persis kondisi social pada masa itu. Imam Hasan Sadulayev berjanji akan banyak membantu.
Sampai pukul setengah dua siang Doktor Anastasia Palazzo belum juga datang. Ayyas sama sekali tidak menghiraukannya. Terkadang ia malah merasa lebih senang jika Doktor Anastasia tidak datang menemuinya sehingga ia bisa lebih konsentrasi dan lebih banyak membaca.
Ayyas melihat jadwal waktu shalatnya. Hari ini Zuhur datang pukul 12.50, lalu Ashar pukul 14.31, Maghrib pukul 16.41, dan Isya akan tiba pada pukul 18.00. Berarti sudah tiba waktu shalat Zuhur. Ayyas tanpa ragu mengambil air wudhu lalu berdiri tegak takbiratul ihram dan hanyut dalam kenikmatan berdialog dengan Tuhan Yang Maha Pencipta.
Doktor Anastasia Palazzo telah duduk di sofa ketika Ayyas selesai shalat.
"Sebenarnya aku sudah sampai sejak pagi tadi. Begitu sampai aku dikontak Profesor Lyudmila Nozdryova, untuk mendampinginya menemui tamunya, orang penting dari Yunani. Tamunya itu tidak bisa bahasa Rusia, dan bahasa
Inggrisnya kurang lancar. Aku terpaksa yang menjadi penerjemah, sebab tamu itu bicara dalam bahasa Yunani." Kata Doktor Anastasia pada Ayyas.
"Berarti semuanya sukses." Sahut Ayyas sambil bangkit dari duduknya di atas lantai.
"Puji Tuhan. Tapi masih ada satu masalah yang harus aku selesaikan. Di Fakultas Kedokteran akan ada seminar tentang ketuhanan. Sampai kemarin soal pembicara tidak ada masalah. Dari kalangan Islam kami minta seorang intelektual muda dari Kazan University. Sayangnya tadi pagi ada telpon dari Kazan, dia tidak bisa karena dengan sangat mendadak harus terbang ke Timur Tengah menemani kunjungan Mufti Rusia. Padahalseminar tinggal empat hari lagi."
"Saya ada kenalan seorang Imam lulusan Syiria kalau kau mau?"
"Boleh. Kau ada nomor kontaknya?" "Ada."
"Coba saya minta. Biar saya hubungi sekarangjuga. Namanya siapa?"
"Namanya Imam Hasan Sadulayev. Ini nomornya." Ayyas menyodorkan ponselnya yang menyala. Doktor Anastasia mencatat ke ponselnya lalu menghubunginya. Beberapa saat kemudian terjadilah pembicaraan antara Doktor Anastasia dengan Imam Hasan Sadulayev. Wajah Anastasia nampak kurang cerah.
"Bagaimana?" Tanya Ayyas.
"Dia tidak bisa. Dia sudah ada jadwal penting yang tidak bisa digeser. Atau..." Tiba-tiba wajah itu berbinar.
"Atau apa?"
"Kau saja yang jadi pembicara. Kau bisa. Bahasa Inggrismu bagus, bahasa Rusiamu juga lumayan. Dan kau sarjana dari Madinah. Yah, kau saja ya?"
"Jangan saya Doktor, yang lain saja kan masih banyak."
"Ini waktunya mendesak. Sudah, aku putuskan kau saja yang jadi pembicara menggantikan intelektual dari Kazan University itu. Kau ingat, empat hari lagi seminarnya di Fakultas Kedokteran. Aku juga jadi pembicara di seminar itu. Jadi nanti kau ke sini dulu, kita berangkat ke sana bersama. Kau bisa nulis makalah?"
"Dokter ini sangat mepet waktunya."

"Baik tidak apa. Kalau kau bisa membuat makalah akan lebih baik. Temanya, 'Tuhan Bagi Manusia di Era Modern."
"Baiklah."
"Spasiba balshoi. E, kau sudah makan siang?"
"Belum."
"Aku traktir makan siang di Yolki Palki mau?"
"Apa itu Yolki Palki?"
"Restoran di daerah Kropotkinskaya."
"Tidak, ah."
"Kenapa?"
"Letaknya jauh, akan banyak membuang waktu."
"Kita pakai mobil. Aku tahu jalan pintas."
"Maaf Doktor, saya tidak bisa. Saya ingin benar-benar menghemat waktu yang ada.' Ayyas mengucapkan kata-katanya dengan rasa percaya diri yang penuh dan tegas. Doktor Anastasia Palazzo sedikit kecewa mendengarnya. Tapi ia
segera menguasai dirinya dengan baik.
"Tak apa. Aku bisa memahami. Kalau begitu kita ke stobvaya seperti biasa?"
Ayyas hampir saya mengiyakan. Ia hamper lupa kalau dirinya sedang berpuasa.
"Maaf Doktor. Tidak juga ke stobvaya. Maaf, saya sedang puasa. Saya hampir lupa kalau saya hari ini berpuasa."
"Oh ya sudah tidak apa-apa. Kau puasa apa?"
"Puasa untuk menjaga kesucian diri."
"Menjaga kesucian diri bagaimana?"
"Dari godaan syahwat dan godaan setan."
"Jadi puasa itu jadi semacam benteng di dalam jiwa dari godaan syahwat dan perbuatan jahat begitu?"
"Kira-kira begitu. Apalagi saya masih muda. Pemuda normal yang belum menikah. Dan sekarang sering bertemu dengan perempuan Rusia yang Doktor tahu sendiri seperti apa perempuan muda Rusia. Kalau saya tidak membentengi diri dengan benteng yang kuat, iman saya bisa roboh, saya bisa melakukan dosa besar yang dilarang agama saya."
"Dosa besar itu apa misalnya?"
"Melakukan hubungan haram dengan lawan jenis, alias zina, misalnya."
"Jadi kau belum melakukan yang seperti itu sama sekali?"
"Saya berlindung kepada Allah dari zina. Semoga sampai akhir hayat Allah menjauhkan saya dari perbuatan dosa itu. Saya ingin menjaga kesucian diri saya. Kalau pun melakukan hubungan dengan lawan jenis, saya ingin yang berlandaskan kesucian, yaitu menikah. Dengan menikah saya ingin memuliakan istri saya, saya ingin setia padanya sampai akhir hayat. Saya
ingin menjaga kesuciannya. Saya berharap istri saya juga melakukan hal yang sama. Pernikahan itu menjadi hubungan saling mencintai dan mengasihi yang ditaburi rahmat Allah. Dari percintaan yang harmonis dan indah itu saya ingin lahir anak turun yang juga bersih, dan terjaga kesuciannya. Maka saya berusaha mati-matian menjaga kesucian saya, sebab saya ingin memiliki istri yang juga terjaga kesuciannya."
"Sampai sedetil itu, Islam mengaturnya?"
“Iya.”
"Berarti kau sudah memiliki calon?"
"Dulu pernah, sekarang tidak." "Maksudmu?"
"Dulu saya pernah melamar seorang gadis yang baik. Kami bertunangan. Kemudian suatu hari gadis itu membebaskan saya dari ikatan pertunangan. Jadi statusnya, saya ini tidak lagi bertunangan dengannya."
"Apa gadis itu kini sudah menikah?"
"Saya tidak tahu."
"Kau mencintainya?"
"Saya telah berjanji untuk hanya mencintai perempuan yang menjadi istri saya. Siapa pun dia. Kalau ternyata yang menjadi istri saya adalah gadis itu, maka dialah orang yang akan saya limpahi segenap cinta dan kasih yang saya miliki."
Hati Doktor Anastasia Palazzo bergetar mendengar ucapan Ayyas. Belum pernah ia mendengar kalimat yang sedemikian kesatria dari seorang pemuda mana pun sebelumnya. Tiba-tiba ia ingin menjadi seorang perempuan yang
mendapat kemuliaan cinta dari seorang lelaki yang begitu menjaga cintanya seperti Ayyas.
Tetapi apakah masuk akal kalau dia mengharapkan Ayyas sebagai orang yang akan melimpahinya dengan segenap cinta dan kasih yang murni itu? Bukankah ia berbeda keyakinan dengan Ayyas? Tapi entahlah, di dunia ini serba mungkin-mungkin saja. Ia berdoa dalam hati, suatu saat Ayyas bisa menaruh hati padanya.
Oo... tak hanya menaruh hati, tapi keyakinannya pun bisa sama dengannya. Akankah doa Anastasia dikabulkan Tuhan? Kita lihat saja nanti bagaimana
sang waktu merekam perjalanannya. Yang jelas, sampai saat ini Anastasia belum melihat tanda-tanda bahwa Ayyas menaruh hati padanya. Kalau Ayyas sangat menghormati dirinya dan sangat menjaga sikap kepadanya, ia telah
membuktikan dan merasakannya. Itu ia rasa karena posisi dia sebagai orang yang dimintai Profesor Tomskii untuk membimbingnya.
Beberapa kali ia mengajak Ayyas makan malam di rumahnya juga belum pernah dipenuhi.
Dan baru saja Ayyas menolak ajakannya untuk makan di Yolki Palki dengan alasan puasa. Itulah kesimpulan Doktor cantik nan cerdas, Anastasia Palazzo saat ini. Entah esok nanti. Melihat dan mengamati ketinggian pribadi
Ayyas, kini dalam hati Doktor Anastasia terpantik sebuah asa di dalam dada; kalau ada seorang pemuda Rusia yang memiliki pandangan tentang kesucian cinta seperti Ayyas, ia pasti siap melabuhkan segenap cintanya pada pemuda itu.
Sejak remaja ia telah berkenalan dengan banyak lelaki. Dan di matanya hampir semua lelaki yang ia kenal itu tidak bisa dikatakan sebagai lelaki yang setia. Budaya berganti-ganti pasangan telah melanda anak-anak muda Rusia saat ini. Yang ia cari bukan yang terbiasa gonta-ganti pasangan.
Ia mencari orang yang mau hidup dengan hanya saru pasangan, dan setia sampai mati. Persis seperti yang dikatakan Ayyas. Adakahpemuda Rusia yang seperti itu? Kalau ada, di manakah dia sekarang?
Sejauh ini, sudah banyak lelaki terpandang yang melamar Doktor Anastasia untuk dijadikan istri, tetapi belum ada satu pun yang ia terima, karena ia tahu mereka terbiasa gonta-ganti pasangan. Ia tahu jika telah menikah dengan salah satu di antara mereka, lelaki yang menikahinya itu pasti, ya, pasti masih akan tidur dengan banyak perempuan selain dirinya. Itu hal yang sangat
dibencinya. Itulah tabiat lelaki Rusia. Dan karena itulah kenapa ia menolak semua lelaki yang datang kepadanya.
Ia ingin lelaki yang setia padanya sampai tua, sampai ajal tiba. Maka wajarlah jika hatinya bergetar hebat ketika ia merasa mendapatkan konsep kesetiaan yang dahsyat itu dari mulut Ayyas. Kalau saja Ayyas tahu, bahwa saat ini, seluruh isi hati Doktor Anastasia dipenuhi pesona dirinya.
Ah, kalau saja Ayyas tahu...
"Setelah sekian hari kau tinggal di Moskwa, maaf apakah ada terlintas di pikiranmu bahwa kau akan memperistri perempuan Rusia?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Doktor Anastasia. Ia sendiri agak kaget kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja. Mengalir. Alami. Tanpa beban.
Tak hanya Doktor Anastasia yang kaget.
Rupa-rupanya Ayyas juga kaget mendengar pertanyaan itu. Namun ia segera menyembunyikan kekagetannya itu dalam palung hatinya dalam dalam.
Sungguh, sejak menginjakkan kaki di Moskwa, ia sama sekali tidak berpikir tentang jodoh. Yang ia pikirkan adalah bagaimana melakukan penelitian dengan baik dan secepat mungkin menyelesaikan tesisnya.
Adapun jodohnya, ia berharap tetaplah Ainal Muna, penulis muda sarat prestasi yang berwajah manis itu. Tetapi masalah jodoh sebenarnya sudah diatur Allah, Siapakah yang kelak akan jadi istrinya kalau ia berumur panjang, juga sebenarnya telah tercatat di Lauhul Mdhfudh. Maka ia merasa tidak perlu menanggapi pertanyaan Doktor Anastasia itu dengan sangat serius. Ia malah
menjawabnya dengan bercanda,
"Sebenarnya saya tidak pernah berpikiran menemukan jodoh saya di sini. Jodoh saya sudah diatur Tuhan. Kalau Tuhan menentukan jodoh saya ternyata adalah perempuan Rusia yang cerdas, setia dan menjaga kesucian, seperti Doktor Anastasia kenapa tidak? Hahaha!"
Jawaban Ayyas membuat merah wajah Doktor Anastasia. Ia merasa tersanjung. Namun, Doktor Anastasia bukanlah gadis remaja yang tidak menguasai dirinya. Ia langsung tersenyum dan berkata,
"Jadi kau menilai aku sebagai perempuan yang cerdas, setia dan menjaga kesucian?"
"Begini Doktor, di dalam kaidah hokum Islam, ada kaidah yang berbunyi al ashlu baqau ma kaana ala maa kaana. Maksudnya, hukum sesuatu itu pada pokoknya dilihat dari asalnya. Seorang gadis pada asalnya adalah cerdas, sebab ia adalah manusia yang diberi akal. Pada asalnya adalah setia, sebab setia adalah salah satu watak utama nurani manusia. Dan pasti pada asalnya
dia suci, sebab semua manusia pada asalnya lahir dalam keadaan suci. Ini konsep Islam. Mungkin berbeda kalau dalam konsepnya agama Nasrani
yang Doktor peluk. Menurut kaidah hokum Islam, selama kita tidak menemukan hal-hal yang merubah dari hukum asal, maka yang dipakai adalah hukum asalnya. Karena selama ini saya tidak melihat misalnya Doktor Anastasia berzina atau melakukan perbuatan cabul dan yang sejenisnya, ya saya anggap Doktor masih menjaga kesucian.
Kecuali kalau di kemudian hari ada fakta dan kenyataan yang lain, maka penilaian itu bisa berubah."
"Kau ternyata bisa lebih bijak dari Aristoteles. Alangkah bahagianya gadis yang kelak menjadi istrimu." Sanjung Doktor Anastasia tulus, tanpa pretensi.
"Siapa pun dia yang jadi istriku, semoga kelak aku bisa membahagiakannya, dan menggenggam tangannya erat-erat memasuki pintu surga, tempat paling indah untuk orang-orang yang memadu cinta semata-mata karena mencari ridha Allah Subhanahu Wa Taala."
"Semoga Ayyas," sahut Doktor Anastasia,
"Dan semoga yang kelak menjadi istrimu itu adalah aku, Anastasia Palazzo," lanjutnya dalam hati. Seuntai senyum terbersit dari bibir Doktor Anastasia. Senyum yang manis sekali, yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mencintai dengan hati. Sayang, Ayyas tak melihat senyum itu. Ia sedikit menundukkan wajahnya untuk menjaga pandangan.

***

0 komentar:

Posting Komentar