Hari ini cerah, setidaknya ini bisa dibilang tidak terlalu mendung untuk menjalani aktivitas kita di luar rumah. Sengaja hari ini aku bangun lebih siang dari biasanya, maklum mumpung hari libur, karena biasanya hari-hari ku disibukkan dengan kegiatan di kampus.
Pagi ini, mama siapkan makanan kesukaanku, sop ayam dan sambal kentang goreng. Hmm,, mama ku itu adalah mama terhebat yang pernah ada. Dia bisa jadi superwomen dan bisa jadi layaknya seorang anak kecil bila dihadapannya ada papa. Keluarga kami begitu harmonis. Dilengkapi dengan Mama dan Papa yang saling mencintai dan tiga orang anaknya.
Yap, aku tiga bersaudara. Aku anak pertama dari dua orang adik laki-lakiku. Aku menjalani pendidikan tinggiku disebuah Universitas di Jawa Barat, UI ( Universitas Indonesia ), Fakultas??? Psikologi. Yak, aku ingin menjadi seorang Psikologi Anak. Hmmm, aku hampir lupa memperkenalkan namaku. Aku Adzkia samha saufa biasanya mereka memanggilku dengan sebutan KIA.
Baiklah, rencana hari ini adalah berkunjung ke rumah dua orang sahabat ku, Afifah zahidah dan Aisyah hasna shofiyah. Mereka adalah sahabat baikku dari SMP dan sekarang kami menempuh pendidikan dibidang yang sama. Aku sangat menyayangi mereka seperti saudara kandungku, dan mereka pun sebaliknya. Keluarga kami sangat akrab, sudah seperti layaknya sebuah saudara.
Setiap ada acara dalam keluarga kami, mereka tak lupa untuk saling lempar undangan ke masing-masing rumah kami.
Bipp.. Bip..
"Kia, dimana? Lama sekali kau menuju kemari?" begitu isi sms yang baru saja ku buka.
"huh, temanku yang satu ini kenapa bawel sekali ya?" gumamku.
Aku beranjak dari tempat tidur ku dan keluar rumah. Di pekarangan ada Mama dan Papa sedang memetik bunga untuk dijadikan hiasan rumah.
"Aku pergi dulu, Pa... Ma..."
"Mau kemana?" Teriak mama.
"Ke rumah Aisyah..."
"Hati-hati..." Pesan papa.
Aku duduk di jok belakang mobil, Pak Hendra, kepercayaan papaku mengantar ku dengan senang hati menuju rumah Aisyah.
"Lebaran besok pulang, Pak?" Tanyaku.
"Pulang lah, Non. Kenapa?"
"Gpp. Enak ya bapak bisa pulang ke kampung."
"Memang Non Kia tidak ada rencana ke rumah nenek?"
"Saya rasa nggak, Pak.." Jawabku lemas.
"Yasudah, Non Kia berlibur saja dengan teman-teman, Non."
"Bosan, Pak. Mereka itu kalo udah libur lebaran pasti udah sibuk sama agenda masing-masing."
"Non Aisyah dan Non Afifah?"
"Ntahlah..."
Dan percakapan itu berhenti tepat ketika mobil sampai di depan rumah Aisyah.
"Pak, nanti gak usah jemput ya. Aku pulang sendiri. Hati-hati pulangnya Pak. Makasih."
"Iya, Non.."
"Kamu itu kemana aja sih, Kia? Kita udah sampe lumutan nungguin kamu.." Tanya Aisyah saat aku turun dari mobil.
"Hehe, aku bangun sedikit siang hari ini. Lagi males banget..."
"Dasar kau pemalas!" Ejek Afifah.
"Biarin aja, wleee.. Jadi, malam takbiran dan liburan nanti mau kemana kalian?"
"Hmmm, Kurasa stay at home." Jawab Aisyah.
"Gak punya pacar ya?" Canda Afifah.
"Heh, aku juga gapunya pacar. Kamu meledek?" Ketus ku.
"Tau nih! Mentang-mentang ada pacar.." Kata Aisyah.
"Huuuuuuuuuuuu" Sorak aku dan Aisyah ke Afifah.
Afifah diam membatu. Dia tak tahu lagi harus bicara apa. Temanku yang ini kalau main ceng-cengan pasti selalu kalah. Karena aku dan Aisyah sering bersekongkol untuk ngecengin balik Afifah.
"Aku juga stay at home kayanya." Kataku memulai lagi.
"Ke rumah aku aja, Ki." Tawar Aisyah.
"Kalo boleh yak sama Mama dan Papa.."
"Ah, Kamu itu anak manja!" Ejek mereka berdua. Dan kami pun sama-sama terbahak menuju ruang tamu.
Aisyah selalu menyiapkan berbagai macam cemilan saat kami berkunjung kerumahnya. Tak ada satupun cemilan yang terlewat. Dari mulai coklat, permen, ciki, minuman sampai ke es krim dia sediakan hanya untuk kami. Makannya aku seneng datang ke rumah Aisyah. Selain makanannya yang banyak, rumah dia juga bikin nyaman abis dengan nuansa Islam didalamnya.
Dia itu salah satu anak yang shalehah banget. Beda sama aku dan Afifah. Walaupun kami sama-sama dari keluarga muslim. Cuma, untuk masalah ketaatan, dia nomor satu diantara kami. Kadang, aku sering nangis dikamarnya kalau denger dia lagi baca Al-Qur'an dan aku sering bohong sama dia kalo mata aku kelilipan sampe akhirnya ngeluarin air mata. Ini benar-benar hal yang konyol. Tapi sekarang Aisyah udah tau alasan aku nangis saat dia baca Al-Qur'an.
Aisyah sama seperti ku. Anak pertama dari tiga bersaudara. Bedanya, kedua adiknya perempuan semua. Begitu juga dengan Afifah. Aku sering iri sama mereka, kenapa mereka punya adik perempuan sedangkan aku nggak. Tapi mereka juga sering iri sama aku, kenapa aku punya adik laki-laki dan mereka nggak. Hahaha, dasar manusia. Emang gapernah puas sama apa yang udah dikasih Tuhan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laailaaha illallahu wallahu akbar.. Allahu akbar, Walillaahilhamd
Kumandang takbir bergema. Dan esok adalah hari lebaran.
"Hmm, tak terasa sudah satu bulan aku menjalaninya. Semoga tahun depan masih diberi kesempatan untuk mendengar gema ini.." Gumamku.
Kringgg... Kringggg....
"Aisyah Incoming Call"
"Assalamu'alaikum? Ada apa, Syah?" Tanya ku.
"Wa'alaikumsalam.. Gak ada apa-apa Ki. Cuma mau telpon aja. Kamu di rumah sama siapa? Aku sendiri nih, kamu bisa kesini?"
"Hm... Mungkin agak malaman aku kesana, okay? Memang orangtuamu kemana?"
"Memang dirumah sedang tidak ada orang ya? Umi dan Abi pergi beserta adik-adik."
"Ada. Cuma lagi ramai disini. Bagaimana?"
"Yasudah, tidak usah. Aku sendiri saja dirumah, daripada kamu harus kesini malam-malam, bahaya." Ucapnya.
"Okay, baik-baik yaa.. Wassalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam"
Malam ini sebenarnya senang dirumah, kumpul dengan seluruh keluarga untuk perayaan esok. Cuma rasanya gak afdol kalo belum keluar rumah. Aku bersiap dan bergegas keluar rumah. Ternyata malam ini ramai sekali. Gema ada dimana-mana. Aku memutuskan untuk pergi ke Musholla dekat rumah. Disana aku dan teman-teman lainnya berseru mengumandangkan takbir. Asyik sekali. Ini pengalaman pertamaku memutuskan untuk bermalam takbir diluar rumah. Tak seburuk apa yang Mama dan Papa bayangkan.
Aku pulang pukul 22.00 malam. Suasana disekeliling rumah dan di dalam rumah masih sama seperti saat aku keluar dari rumah, ramai. Aku masuk dan bersalaman dengan seluruh keluarga dan pergi kr kamarku untuk tidur. Ntah mengapa, malam ini perasaanku sangat senang.
-------------------------------
Selesai shalat Ied, kami sekeluarga saling bersalaman, memohon maaf satu sama lain. Seperti biasa, tradisi makan ketupat selalu ada dan tak pernah dilewatkan. Setelah semuanya selesai, biasanya aku dan keluargaku berkeliling komplek untuk mengunjungi tetangga yang ada disekitar rumah kami. Satu persatu rumah kami masuki dan bersalaman, tak lupa mereka juga memberikan yang biasa disebut tanggokan kepada anak-anak yang masih kecil.
Aku melewati salah satu rumah teman masa kecilku. Sepi seperti tak ada kehidupan didalamnya.
"Mungkin mereka lagi pergi..." Gumamku.
Teman masa kecilku ini sangat baik, dia sama seperti kedua sahabatku, Afifah dan Aisyah. Cuma bedanya, dia datang lebih awal dibanding mereka. Dia anak yang pintar, sekarang kuliah di London dan mendapat beasiswa. Keluarganya tak mampu, tapi dia sanggup mengangkat nama keluarganya dengan mendapat beasiswa keluar negeri. Dan aku sangat salut padanya. Kami sudah hampir bertahun-tahun tak bertemu.
"Hallo." Sapa seorang cowok dengan suara khasnya.
Aku membalikkan badanku dan melihat sosok tubuh tegap tinggi berdiri di depanku sekarang.
"Hallo juga.." Sapaku balik.
"Kita kenal?" Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum memandangku, dan pergi berlalu begitu saja.
"Orang ini benar-benar membingungkan." Gerutuku.
Tak lama aku bertemu dengan cowok sok misterius itu, aku bertemu dengan orangtua teman masa kecilku. Mereka sedikit renta, tak jauh berbeda dengan orangtuaku. Senyumanku melebar ketika mereka menghambur kepelukanku.
"Apa kabar, ma?" tanyaku pelan.
"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan dirimu? Kau begitu cantik sekarang, nak.."
"Makasih, ma. aku sama sepertimu, baik. Bagaimana dengan Hanif Abbad?"
"Dia baik, sekarang dia berada di Indonesia. Dia baru saja menyelesaikan studynya dengan prestasi Cumlaude."
"Seriuskah ma?"
"Ya, dia memang anak yang pintar. Bukankah kalian sudah bertemu?"
"Bertemu? Belum."
"Oh, mungkin dia sedang bersama adik-adiknya."
"Ya, mungkin. Oya, aku harap Mama bisa datang kerumah bersamanya lain waktu."
"Ya, Insyaallah, jika dia ada waktu."
"Baiklah, aku pulang dulu ya, ma. Salam untuk Hanif."
"Iya, salam juga untuk Papa dan Mama mu ya."
Tradisi keliling rumah sudah rampung. Dan waktunya untuk keluargaku, Keluarga Aisyah dan Keluarga Afifah berkumpul. Ya, tiap lebaran memang sudah biasa keluarga kami bertiga berkumpul. Dan menurutku itu semakin membuat kedekatan kami bertiga semakin erat.
Menjelang sore, mereka bergegas untuk pulang kerumah masing-masing, dan tinggal keluarga kami yang berkumpul. Biasanya kami menghabiskan waktu hingga malam menjelang, dan membicarakan rencana kemana kita akan pergi keesokan harinya. Papa memberi usul untuk pergi berlibur ke rumah nenek di Bogor, dan kami sekeluarga setuju.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bipp... Bippp...
"Lagi apa, Ki?"
"Nomor baru, siapa ya ini?" Gumamku.
"Lagi di jalan mau ke Bogor, ini siapa ya?" Balasku
"Oh, mau kerumah nenek ya?"
"Iya. Kamu belum balas pertanyaanku."
"Yasudah, hati-hati dijalan ya. Salam untuk keluargamu."
"Iya. Terimakasih"
"Ntahlah, biarkan saja.." Kataku dalam hati.
------------------------------------
"Assalamu'alaikum....." Seru kami.
"Wa'alaikumsalam, ealah, cucuku tekan. piye kabare nduk? sae? Piye sekolahmu?" Jawab nenek dengan bahasanya yang khas. Walaupun nenek tinggal di Bogor, beliau tetap mencintai bahasa daerahnya, Bahasa Jawa. Menurutnya, bahasa daerah harus terus digunakan supaya akar-akar budaya kita tidak menghilang dan di klaim negara lain.
"Alhamdulillah sae, mbah.. Sekolahnya juga lancar." Jawabku dengan bahasa campuran.
"Sae, nduk? Apa ndak mau nambah momongan lagi?" Tanya beliau ke Mama.
"Wah, cukup bu. Tiga saja sudah kewalahan." Jawab Mama sambil tertawa, dan seluruh ruangan pun dihiasi dengan tawa.
Kami menginap dirumah nenek sehari, esoknya kita harus kembali ke Jakarta karena ayah sudah mulai bekerja.
"Kamu kalo mau nginep di rumah nenek lebih lama juga gak apa-apa, Ki." Tawar Papa.
"Ah, ngga ah pa. Aku balik ke Jakarta aja bareng Papa dan Mama.."
Seharian ini kami sekeluarga duduk di ruang tengah sembari berbincang satu sama lain. Aku bersama salah seorang sepupuku bergegas pergi menuju Kebun Teh untuk melihat pemandangan dan mencari udara sejuk.
"Mbak kenapa gak tinggal disini saja? Kan Bogor - Depok deket." Tanyanya.
"Aku ndak mau repoti mbah, Nad." Jawabku singkat.
"Loh, mbah malah seneng kalo mbak tinggal di sini."
"Masa?"
"Iya toh, mbak. Lah kan mbak cucu pertamanya mbahe."
"Aku ndak yakin. Mbah sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya untuk keluargaku. Gak mungkin aku nyusahin mbah lagi dengan tinggal disini."
"Mbah itu pengin banget mbak tinggal di sini. Sama mbah, sama aku. Lagian kita cuma berdua."
"Akan aku pikirkan."
"Mbak sudah punya pacar ya di Jakarta? Makannya mbak gamau tinggal di sini." Tanyanya sambil tertawa.
"Ah kamu, ngga juga."
"Kalo ngga, kenapa mbak gamau tinggal di sini?"
"Sayang, butuh waktu untuk tinggal terpisah dari orangtua."
"Ih, mbak manja ya ternyata."
"Hahaha, begitulah..." Jawabku sedikit pelan.
"Mbak? Punya Pacar?"
"Pacar? Kamu tau pacar dari siapa toh? Kecil-kecil udah kenal pacar."
"Dari teman-temanku."
"Memang kamu sudah punya?"
"Belum mbak."
"Apa kamu tau arti pacaran?"
"Menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan kan?"
"Iya. Lalu?"
"Ndak tahu mbak."
"Lalu kamu ngapain pacaran?"
"Memang gaboleh ya mbak?"
"Selama mbak belum dapat pasangan dan belum menikah. Kamu dilarang pacaran."
"Kenapa gitu?"
"Karena aku lebih tua darimu" Jawabku sambil tertawa.
"Ah, si mbak ini becanda saja."
"Loh, ya bener toh? Kamu ndak boleh langkahi yang lebih tua." Kata ku lalu serius.
"Tapi kalo kamu mau pacaran ya gak apa-apa. Selama masih dalam batas yang wajar." Lanjutku.
"Mbak besok pulang kapan?"
"Pagi-pagi sekali mungkin. Kenapa?"
"Ndak papa mbak. Cuma tanya. Pulang yuk mbak."
"Yuk."
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Huh, seminggu sudah lebaran berlangsung, dan liburan masih satu bulan lagi. Ntahlah, ini benar-benar membuatku bosan.
Bipp... Bip....
"Kamu dimana?"
"Siapa nih? Ini bukannya nomor yang waktu itu SMS aku juga ya?"
"Ini siapa?" Balasku singkat.
"Aku ke rumahmu ya. Tunggu aku. Bye."
"Lah, ini orang?" Kataku kesal.
Tinongg.. Tinongggg.....
"Ya, tunggu sebentar.." Teriak Mama dari dalam.
"Assalamu'alaikum, ma..."
"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu. Dateng juga kemari. Silahkan masuk. Kianya masih ada di atas, sebentar mama panggil dulu ya. Baru bangun tidur." Jawab mama sambil tertawa.
"Oh iya, gpp ma..." Ucapnya tenang.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Kia.... ada tamu nih. Mau ketemu sama kamu."
"Siapa ma?"
"Temui dulu, kamu pasti terkejut."
"Mama ini.. Mainnya rahasiaan."
"Udah ayuk" Mama menarikku menuju anak tangga.
"Lelaki itu siapa ya?" Gumamku melihatnya dari atas.
"Hall..... Kamu?" Sapaku kaget melihatnya.
"Hallo juga. Apa kabar Adzkia samha saufa? Lama tak jumpa." Sapanya sambil tersenyum.
"Kita kenal? Bukankah kamu yang waktu itu berdiri dibelakang aku kan?" Tanyaku bingung.
"Okey, kita belum kenalan ya? Saya Hanif Abbad. Salam kenal."
"Hanif? Oh My God, ini kamu? Hanif Abbad yang dulu cengeng banget kalo diajak main? Kamu......"
"Beda kan? Lebih ganteng kan pastinya." Candanya memecah suasana.
"Pede. Apa kabar? Kamu banyak berubah. Sudah berapa lama kita gak ketemu ya? Aku hampir lupa kapan terakhir kita bertemu."
"Awal bulan Januari tahun 2000 dan kita lagi makan es krim di Monas."
"Ya ampun, kamu masih mengingatnya?"
"Tentu. Tak ada yang pernah terlupakan sedikitpun tentangmu." Jawabnya pelan hingga aku sulit mendengarnya.
"Apa?" Tanyaku memintanya mengulang.
"Bagaimana dengan study mu? Jadi masuk Psikolog?"
"Kamu tau aku mau masuk Psikolog darimana?" Tanyaku heran.
"Your mom."
"Mama? Kamu dan mama...."
"Yap, kita saling komunikasi. Mama banyak cerita tentangmu selama ini."
"Dan aku tak pernah tau hal itu sedikitpun?"
"Hahaha, I'm sorry. Aku pulang hanya untuk ketemu sama kamu, Kia."
"Hah? Untuk?"
"Ada yang harus tersampaikan dan tak boleh lagi terlewati. Eh, aku harus pulang. Mama nungguin aku, mau pergi katanya. See you next time, dear. Byee, salam untuk mama mu ya.." Dia pergi gitu aja dan ninggalin sejuta tanda tanya di kepalaku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Hanif? Kenapa orang itu datang lagi kesini? Ada apa kira-kira ya? Bukankah dia mau melanjutkan hidupnya di London.." Pikirku sembari tiduran.
Tok Tokk Tokkk...
"Kia, mama boleh masuk?" Teriak mama dari luar.
"Boleh ma..." Ucapku.
"Ciyee, yang tadi siang ketemuan sama Kekasih hati. Seneng yaaaa?" Ledek mama padaku.
"Mama ini kenapa deh, siapa yang kekasih juga? Siapa tau diluar kan dia udah punya pacar.."
"Kalo belum?"
"Emangnya mama tau darimana?"
"Ya perkiraan doang sih. Eh, ngomong-ngomong kamu ngobrol apa aja tadi?"
"Gak lama sih, cuma say hello dan balik tanya, selesai, dia pulang. Katanya sih dia udah di tunggu mamanya di rumah."
"Oh, gitu.. Yaaaa, masih kangen dong jadinya?" Ledek mama lagi.
"Mama, apaan sihhhh..." Jawabku dengan pipi merona.
Duniaku. Duniamu. Dunia Kita.
-
Tentang semua yang terjadi, yang mereka rasakan, yang kita rasakan.
6 tahun yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar