Oke. "Kinanthi (Sequel)" ini terinspirasi
dari Novel "Kinanthi Terlahir Kembali" Karya Tasaro GK. Novel ini
bener-bener buat imajinasiku seketika melayang hebat sehabis sahur. ntah
apa yang buat semuanya seperti ini. aku berterimakasih banget sama Pak
Tasaro, berkat karyanya ini, aku bisa meluncurkan karangan ku sendiri
yang berjudul "Kinanthi (Sequel). semoga para pembaca dapat
menikmatinya."
"Kinanthi
menangis dan tertawa dalam waktu yang sama. Konstelasi Crux ada di atas sana.
Kinanti menggeser tatapannya sedikit ke bawah. Ke kaki rasi bintang
Layang-Layang itu. Kesebuah are pekat tanpa harapan. Entah benar atau hanya
khayalan, ada cahaya baru yang tiba-tiba memercik. Berkelip. Ada wajah Ajuj di
sana. Sungguh... ada.[]"
Malam
itu juga, Kinanthi langsung beranjak pergi ke Bandara. Tak memikirkan apapun
yang akan terjadi nanti. Pokoknya Ia harus sudah berada di Indonesia esok pagi
untuk bertemu langsung dengan Ajuj. Seakan masih tak percaya, Kinanthi berulang
kali menghubungi Hasto dari telepon genggamnya. Menanyakan apakah keadaan di
sana selalu baik-baik saja atau ada perubahan lagi. Siapa tau, Ajuj bangun
hanya untuk berpamitan. Kemudian Ia kembali tidur selamanya yang disebut dengan
kematian.
Kinanthi menepis semua keadaan
buruk itu selama perjalanan ke Indonesia. Berharap yang terbaik yang pernah ia
harapkan, semoga Ajuj selalu berada dalam lindungan-Nya.
Pesawat terbang sekitar pukul
02.00 pagi waktu New York. Tak terbayang jika Ia harus meninggalkan semua
pekerjaannya secara mendadak hanya untuk menemui Ajuj di Indonesia. Tapi memang
begitu kenyataannya.
Kinanthi tiba di Bandara
Adisucipto sekitar pukul 14.00 siang, langkahnya cepat menghampiri taksi yang
berada di area penjemputan. Ia bergegas naik dan...
"Selamat siang, Mbak. Mau
kem....."
"Gunung Kidul, Pak"
Potong Kinanthi cepat. Pak supir yang kelihatan bingung itu mengiyakan saja
permintaan Kinanthi.
Dingin. Dadanya berdegub sangat
kencang. Dalam pikirannya Ajuj, Ajuj dan hanya Ajuj.
"Terimakasih" Ucap
Kinanthi lalu segera memasuki rumah sakit dan mencari keberadaan Ajuj. Sesekali
ia berlari hingga sempat membuatnya tertabrak dengan orang lain. Pikirannya
mulai kacau. Langkahnya perlahan memendek. Ia berhenti tepat dimana Ajuj
dirawat. Dadanya semakin berdegub kencang. Keringatnya mengalir deras di
pelipis kanannya.
"Ajuj..." Ucap Kinanthi
memecah keheningan.
"Thi.." Balas Ajuj
singkat.
Kinanthi menghambur ke arah Ajuj.
Ia memandangi Ajuj dengan seksama. Tak menyangka, orang yang dinantinya selama
ini, orang yang diperjuangkannya selama ini, kini terbangun dari tidur
panjangnya yang melewati batas.
Tangis Kinanthi pecah saat itu
juga.
"Ajuj..." Rintihnya.
"Kamu sadar, Juj?"
Tanyanya tak percaya.
"Iya, Thi. Aku sudah sadar.
Sudah, jangan menangis lagi tho, Thi. Aku ndak mau lihat kamu sedih seperti
ini." Jawab Ajuj.
"Aku, hanya bahagia,
Juj."
Ajuj berusaha meraih tangan
Kinanthi, menggenggamnya erat, dan berjanji bahwa Ia takkan lagi meninggalkan
Kinanthi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebulan berlalu setelah Ajuj
sadar. Kini, Ajuj bersama keluarganya tinggal bersama Bapak dan Ibu Kinanthi,
juga bersama Hasto. Mereka saling berbagi biarpun dulu sempat terjadi konflik.
Sengaja pagi-pagi sekali Kinanthi
mengajak Ajuj keluar rumah. Bersama kursi rodanya, Ajuj dan Kinanthi melangkah.
Menghirup udara pagi yang segar di Yogyakarta.
"Thi?" Sapa Ajuj.
"Ya?" Balas Kinanthi
singkat.
"Kenapa kamu pertahankan
aku, Thi. Padahal masih banyak orang yang jauh lebih baik di luar sana daripada
aku."
Kinanthi diam. Dadanya seperti di
timpuk batu besar. Ia bingung apa yang seharusnya Ia jawab.
"Thi?" Sapa Ajuj kedua
kali.
"Kamu kenapa tho, Thi.
Daritadi melamun saja"
"A..Aku.. hanya khawatir
denganmu, Juj"
"Aku baik-baik saja, Thi.
Apa yang kamu khawatirkan lagi?"
"Untuk sekarang. Kemarin?
Apa itu bisa dibilang baik-baik saja?" Balas Kinanthi Ketus.
"Kamu terlalu sayang sama
aku yo, Thi? Sampe khawatir begitu??" Canda Ajuj menghangatkan suasana
yang sejak tadi dingin.
"Ajuj!!" Serang
Kinanthi.
"Aku hanya tak tau apa
jadinya kamu saat orangtuamu memintaku melepas semua alat yang ada di tubuhmu
waktu itu. Mungkin, kamu sudah benar-benar pergi, Juj"
"Memang kenapa kalo aku
pergi?"
"Aku hanya.... Sudahlah. Ayo
kita pulang. Bapak Ibumu pasti sudah mencarimu daritadi."
"Jawab dulu tho, Thi"
Ajuj memelas.
Kinanthi hanya diam. Serius
memperhatikan jalan agar sewaktu-waktu kursi roda Ajuj tidak tersangkut apapun
yang dilewatinya.
Keluarga Ajuj dan Kinanthi baru
saja selesai sarapan. Hasto pun sudah siap untuk pergi ke sekolah. Bapak
Ajuj dan Kinanthi ganti menghambur keluar rumah untuk mencari udara segar.
Sedangkan Ibunya pergi ke dapur untuk beberes.
"Kalau mau sarapan, itu di
meja makan sudah mbok sisakan untukmu dan Ajuj, ndok" Ujar si Mboknya
Kinanthi dari balik dapur.
"Iya, Mbok." Balas
Kinanthi.
Kinanthi segera menuju meja
makan. Mengambil piring dan menyuapi Ajuj.
"Kamu harus makan yang
banyak, biar badanmu ndak kurus kaya tengkorak seperti itu, Juj!"
Ajuj hanya tersenyum melihat
Kinanthi. Ia menikmati setiap detik yang dilewatkannya bersama Kinanthi. Ia tak
mau menyia-nyiakannya lagi. Gadis kecilnya kini sudah kembali. Dan Ia harus
cepat sembuh agar bisa menjaganya.
Sore tiba. Selesai Ibunya Ajuj
merapikannya, Ia mengajak Ajuj untuk belajar berdiri. Ya, setahun itu adalah
waktu yang cukup lama untuk hanya sekedar tidur di atas ranjang dan tak
melakukan kegiatan apapun, cukup membuat semua otot yang ada di tubuh Ajuj
sangat kaku.
"Kamu harus bisa, Juj. Harus
bisa kembali berjalan dan beraktivitas lagi seperti dulu." Kata Kinanthi
menyemangati.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah tiga bulan lebih Kinanthi
di Jogja. Sudah waktunya Ia kembali ke Amerika untuk mengurus segala
pekerjaannya di sana. Menurutnya ini sudah terlalu lama. Meninggalkan pekerjaan
sehari saja sudah menumpukkan banyak masalah. Apalagi harus meninggalkan
pekerjaannya selama berbulan-bulan.
"Kamu sinau seng apik yo,
Has. Kamu belajar yang benar ya, Has. Bikin Bapak dan si Mbok bangga. Setelah
lulus nanti, akan aku ajak kamu ke Amerika. Kuliah di sana agar kamu sukses dan
bisa mengangkat nama keluarga."
"Iyo, Yu."
"Jangan aneh-aneh. Akan aku
keluarkan kamu dari sekolah jika melakukan hal yang tidak-tidak."
"Iyo, Yu. Yu Kinanthi mau
balik ke Amerika kapan?" Tanya Hasto.
"Besok pagi." Jawab
Kinanthi singkat.
"Lah, kok cepet banget tho,
Yu?"
"Banyak urusan yang harus
diselesaikan. Besok Aku berangkat jam 03.00 pagi dari sini. Jaga Ajuj dan terus
latih dia untuk beraktivitas. Jangan lupa mengingatkannya untuk minum obat.
Kalau perlu apa-apa, segera hubungi Aku." Jelas Kinanthi.
"Baik, Yu."
"Satu lagi, jika Ajuj
bertanya kapan aku kembali, jawab saja tidak tau. Aku takkan kembali ke sini
dalam waktu singkat. Jaga dirimu baik-baik."
"Yu??" Lirih Hasto.
"Apa Yu Kinanthi akan
meninggalkan kita lagi?"
"Tidak." Jawab Kinanthi
singkat.
"Tidurlah, besok kamu harus
ke sekolah." Perintah Kinanthi.
Kinanthi beranjak dari kamar
Hasto. Mematikan lampunya dan mengucapkan selamat malam. Lalu Ia diam-diam
masuk ke kamar Ajuj. Terlihat sesosok orang tergeletak di sana. Ya, dengan
pulasnya. Kinanthi tersenyum, seketika Ia meneteskan cairan bening dari sudut
matanya.
"Selamat malam, Juj. Semoga
kamu terus baik-baik saja di sini. Aku menyayangimu, Juj." Bisik Kinanthi,
lalu Ia bergegas menuju kamarnya. Hari semakin malam. Tak ada satupun suara
kecuali suara jangkrik yang kini menemani dirinya menyiapkan untuk kepergiannya
ke Amerika.
Menjelang pagi. Kini pukul 02.00
dan Ia harus segera menuju bandara. Hasto terbangun dari tidurnya. Dia menuju
dapur dan menyiapkan segelas cokelat hangat untuk mbak yu nya.
"Ini, Yu."
"Kamu sudah bangun, Has?
Cepat sekali tidurmu. Ada apa?"
"Aku ndak bisa tidur, Yu.
Memikirkan Yu Kinanthi."
"Aku akan baik-baik saja.
Aku takkan meninggalkan kalian di sini. Aku akan kembali. Percayalah. Aku hanya
menyelesaikan urusanku di sana. Mungkin, akan sesekali berkunjung ke
Indonesia." Kinanthi tersenyum, dan memeluk adik bungsunya itu.
"Aku pergi dulu, Has.
Bye.."
"Hati-hati, Yu."
Kinanthi mengedipkan matanya.
Taksi sudah menunggu di luar sejak tadi. Ia bergegas masuk taksi dan meluncur
ke Bandara Adisucipto.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ponselnya berbunyi. Tertera nama
"Zhaxi" di layarnya.
"Hallo?" Jawab Kinanthi
lemas. Tak biasanya dia tak bergairah sedikitpun saat menjawab telepon darinya.
"Hallo, Kinan. Apa kabar
Anda?"
"Baik Zhaxi."
"Yakin jika Anda baik-baik
saja, Kinan?"
"Ya. Ada apa menelepon
pagi-pagi buta begini?"
"Pagi-pagi buta?"
"Oh, sorry. Saya lupa kita
berbeda negara sekarang."
"Tak masalah."
"Baiklah, ada apa
Zhaxi?"
"Tidak. Saya hanya ingin
menanyakan kapan Anda akan pulang?"
"Pulang? Rumahku memang
disini."
"Maaf, maksudku... kembali
ke Amerika."
"Ya. pagi ini. Saya sedang
berada di perjalanan, Zhaxi."
"Baiklah."
"Oke. Ada lagi?"
Tanyanya balik.
"Tidak."
"Baiklah, bye.." dan
Kinanthi memutuskan teleponnya.
Ntah ada apa, sikap Kinanthi
tiba-tiba berubah 180' setelah kepulangannya ke Indonesia. Mungkin, di sana Ia
ada masalah. Pikir Zhaxi.
Kinanthi sampai di Bandara
Adisucipto, dia akan meluncur ke Cengkareng dan melanjutkannya lagi ke Amerika.
Perjalanan ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Bahkan Ia tak punya
hiburan sekalipun kondisinya benar-benar badmood.
Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Hampir Shubuh. Kinanthi teringat janjinya kepada Tuhan. Ia bergegas menuju
Musholla di Bandara Soetta. Tak lama, Adzan pun berkumandang. Ada getaran yang
menyelinap masuk ke hati Kinanthi. Ia merasakan kedamaian di sana. Ia merasa
tenang, tentram. Bebannya seakan berkurang ketika Adzan itu selesai. Ia
mengambil air yang disebut orang-orang dengan Wudhu'. Membasuh mukanya, lalu
tangannya, pelipisnya, telinganya, dan yang terakhir kaki.
Ia melangkah maju memasuki
masjid. Ini kali keduanya Ia memasuki masjid. Tapi kali ini sendiri. Tidak
dengan Ibu asuhnya yang dulu tinggal bersamanya di Morgantown.
Selesai Shubuh, Ia menaiki pesawat menuju Amerika. Sepanjang perjalanan, Ia hanya memikirkan Ajuj. Ajuj yang kini berhasil mengambil lagi dirinya. Ntah kenapa, seketika Ia merasa dirinya kembali seperti Kinanthi kecil. Lemah dan Penakut.
Kinanthi diam. Hanya menikmati pemandangan awan yang ada disekelilingnya. Ia juga sempat tertidur, tapi berapa menit kemudian terbangun lagi.
Pukul 05.00 sore tepatnya, Ia akhirnya sampai di rumah kayu pinggir danau miliknya. Tubuhnya terasa gemeretak akibat perjalanan panjang tadi.
Kringggggg....
Ponselnya berdering. Zhaxi (lagi).
"Hallo, Zhaxi. Saya baru sampai. Tolong hubungi saya lagi besok. Saya ingin istirahat. Sorry, See you.." Kinanthi memutuskan sambungan tanpa mendengar suara Zhaxi diseberang sana.
Kinanthi membersihkan tubuhnya, selesai itu Ia langsung terkapar ditempat tidur bernuansa polkadot itu.
"Jam berapa ini?!" Pekik Kinanthi.
Ia terlambat bangun untuk melakukan kegiatan yang seharusnya tak Ia tinggalkan lagi. Akibat perjalanan kemarin, Ia terasa sangat lelah. Padahal biasanya Ia tak seperti ini. Mungkin karena urusannya di Indonesia merawat orang sakit. Jadi, Ia merasa sedikit kelelahan.
"Saya tunggu di kantor pukul 09.00 pagi." begitu isi pesan singkat yang di kirim oleh Zhaxi.
"Oh, ada apa lagi ini?" Gerutu Kinanthi. Ia berjalan gontai ke kamar mandi. Segera membersihkan tubuhnya daan merapihkan penampilannya untuk pergi ke kantor yang baru saja di bangun oleh Zhaxi itu.
"Morning...." Sapa Kinanthi.
"Selamat Pagi juga, Prof. Kinanti Hope." Jawab Zhaxi.
Kinanti mengernyitkan dahinya, sejujurnya Ia bingung dengan sikap Zhaxi. Tak biasanya Ia memanggil dirinya seperti itu.
"Ada apa, Zhaxi? Kelihatannya Anda tampak punya masalah?" Tanya Kinanthi
"Ya, memang." Jawabnya singkat.
"Oke, bila Anda butuh saya, saya berada di ruangan." Ia langsung ngeloyor tanpa memperdulikan Zhaxi.
Kinanthi memang orang yang tak terlalu mau ikut campur urusan pribadi orang. Tak seperti orang-orang disekitarnya yang selalu mencampuri kehidupannya, terutama Zhaxi. Tapi jika bukan karena orang lain mencampuri masalah hidupnya, Ia takkan selamat dari majikan Arab yang biadab itu.
Zhaxi menghela. Usahanya bersikap dingin malah di balas cuek dengan Kinanthi. Ini seperti senjata makan tuan, gumamnya.
Zhaxi berdiri. Ia melangkah menuju ruang kerja Prof. Kinanthi Hope. Langkahnya terhenti ketika Ia telah sampai di depan ruangannya. Tak sampai mengetuk, ternyata Kinanthi lebih dahulu keluar ruangan.
"Hei, Zhaxi. Ada apa?" Tanya Kinanthi sambil tersenyum.
"Ada yang harus saya bicarakan dengan Anda."
"Baiklah, silahkan masuk." Kinanthi mempersilahkan.
"Well.... ada apa Zhaxi?"
"Apa kabar Prof. Kinanthi Hope?"
"Oh, Anda memanggil saya dengan utuh. Ada apa sebenarnya dengan Anda Zhaxi?"
Zhaxi menggerutu sendiri. Bergumam. Otaknya kembali berputar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Masalah beberapa bulan lalu...."
"Oh, Sorry about it, Zhaxi. Saya harus mendadak pergi ke Indonesia." Potong Kinanthi dengan cepat. Mungkin, Kinanthi lupa apa masalah inti yang sebenarnya.
"Ajuj lagi?"
"Ya, seperti yang Anda tahu. Usaha saya selama ini tak sia-sia Zhaxi. Tuhan mengabulkan apa yang saya minta."
"Ajuj sadar."
"Ya, seperti apa yang Anda bicarakan barusan." Kinanthi tersenyum lebar.
Zhaxi diam. Tak berbicara sedikit pun sampai-sampai Kinanthi yang menegurnya.
"Well, Zhaxi. Jadi ada masalah apa selama berbulan-bulan Saya tak disini?"
"Tidak. Semua berjalan lancar. Novel yang Anda luncurkan beberapa bulan lalu habis terjual. Banyak yang tertarik dengan Novel karya Anda. Saya harap, Anda bisa berkarya lebih baik lagi, Prof."
"Hayolah, Zhaxi. Jangan memanggil Saya seperti itu. Anda terlihat asing bagi saya. seperti kita tak pernah kenal sebelumnya."
"Maaf."
"Lalu ada apa lagi?" Tanya Kinanthi kemudian.
"Not yet. Saya rasa cukup. Selamat atas kebahagiaan Anda dengannya. Semoga kalian selalu diberkahi Tuhan." Zhaxi berdiri dan keluar dari ruangan Kinanthi.
Kinanthi hanya terpaku mendengar Zhaxi berbicara seperti itu. Ia teringat satu hal sebelum Ia mendapat kabar bahwa Ajuj sadar. Dia melamar Kinanthi. Sontak Kinanthi merasa menyesal. Menyakiti hati Zhaxi, membiarkannya begitu saja, menolaknya mentah-mentah hanya demi Ajuj yang waktu itu tak sadarkan diri. Tapi itu dulu, bukan? Sekarang Ajuj telah sadar. Dan kebahagiaannya telah kembali.
"Zhaxi?" Tegur Kinanthi memecahkan keheningan. Siang ini Zhaxi dan Kinanthi makan siang bersama. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari kami memulai percakapan. Sampai kami tiba di sebuah restoran yang tak begitu mewah.
"Iya, Prof. Kinan?" Balas Zhaxi singkat.
"Tolong berhenti memanggil saya seperti itu. Kita sudah lama kenal, tak biasanya Anda memanggil saya seperti itu Zhaxi."
"Maaf. Ada apa Kinan?"
"Baiklah..." Kinanthi menghela.
"Saya minta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu sebelum saya pulang ke Indonesia."
"Tak apa. Saya tahu Ajuj lebih dari segalanya untuk Anda. Tak usah dipermasalahkan."
"Baiklah, saya harap kita bisa normal seperti biasanya."
"Ya. Dan semoga Anda cepat dikaruniai balita lucu, Kinan."
Kinanthi terbelalak. Ia terkejut Zhaxi bisa memikirkan hal semacam itu dan sejauh itu. Bahkan dirinya pun sama sekali belum memikirkan rencana itu.
"Iya, Kang Ajuj?" Jawabnya.
"Bantu aku untuk keluar rumah ya, Has."
"Iya, Kang. Arep pinarak neng ngendi, Kang? Mau pergi kemana Kang?"
"Ndak, aku hanya ingin menghirup udara segar di depan."
"Yu Kinanthi tiap hari seperti ini ya, Kang?" Tanya Hasto.
"Iya, Has. Yowes, sampean adus ndisik. Yasudah, kamu mandi dulu. Wes awan, selak telat sekolae. Sudah siang, keburu telat sekolahnya."
"Iya, Kang. Nanti kalo perlu apa-apa panggil aku yo, Kang."
"Masa ya kamu lagi mandi aku panggil-panggil tho, Has...Has..." tawa Ajuj meledek.
"Ya ndak begitu juga Kang."
Hasto berbalik meninggalkan Ajuj di teras. Ia bergegas ke kamar mandi untuk merapikan diri dan berangkat sekolah
"Hati-hati, Has. Gek muleh nek wes rampung sekolae. Langsung pulang kalau sudah selesai sekolahnya. Nanti temani aku jalan-jalan ke alun-alun yo..." Teriak Ajuj dari teras.
"Yo, Kang! Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
~
"Apa maksud Anda, Zhaxi?" Tanya Kinanthi memekik.
"Bukankah kalian sudah saling mencintai? Saya rasa Anda sudah melangsungkan ritual di Indonesia."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Zhaxi. Anda sudah dewasa."
"Dan Anda jauh lebih pintar untuk memahami hal ini, Kinan." Balas Zhaxi.
Ntah apa yang barusan Zhaxi ucapkan itu. Ia benar-benar membuatnya merasa tak nyaman lagi berada di dekatnya.
"Mari kita kembali ke kantor."
"Baik, Prof."
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi. Memasang muka serius. Tak ada yang ingin Kinanthi banggakan dari gelar yang berada di depan namanya itu. Pada dasarnya, hidupnya sama. Masih dengan keluarga yang sama. Walau nasibnya sudah banyak yang berubah.
"Zhaxi, saya akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Terimakasih atas jamuan makan siangnya. Semoga harimu menyenangkan Zhaxi." Ucap Kinanthi.
"Sama-sama Kinan."
Kinanthi langsung pergi meninggalkan kantor itu tanpa memasuki ruangannya terlebih dahulu. Ia, sangat sangat bosan dengan hari inidan ingin menghabiskan waktu hanya dengan berdiam diri dirumahnya. Ya, dirumah pinggir danau itu.
Malam datang, dan Ia terperangkap dalam suasana dingin yang sangat hebat. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, tetapi tetap saja yang dirasakannya sekarang hanya dingin. Tiba-tiba Ia teringat seseorang yang berada di Indonesia, Ajuj. Apa kabar kiranya dia hari ini? Gumam Kinanthi. Ia mengambil ponsel di atas tempat tidurnya, dan menekan nomor dengan penuh emosi. Tunggu, untuk apa aku meneleponnya? Pikirannya berbicara sekarang. Kinanthi mengurungkan niatnya untuk menelepon Ajuj. Dia bangkit, menuju ruang tengah dimana perapian itu berada. Di sana, rasanya seluruh tubuhnya bisa benar-benar hangat.
Hangat seperti dekapan Ajuj semasa kami kecil, dulu. Kinanthi diam. Pikirannya melayang kesana kemari, memutar kembali memori-memori yang bahkan selama dua puluh tahun ini tak sanggup Ia usir. Tiba-tiba sudut matanya terasa basah. Dan cairan itu semakin deras membasahi pipinya. Aku kangen kamu, Juj. Ungkapnya dalam hati. Ntah, Kinanthi menjadi sosok yang benar-benar sangat lemah waktu Ia kembali mengumpulkan kenangan yang sempat tertinggal jauh itu. Rapuh.
Kinanthi tergeletak di karpet, tak sadar bahwa dirinya telah tertidur semalaman di ruang tamu yang luasnya cukup untuk bermain bulu tangkis. Ia segera bangkit dan bersiap menuju kantornya. Ia tak boleh telat seperti kemarin. Ia harus lebih baik lagi dari kemarin. Harus!
"Anda datang terlambat lagi, Prof." Seru Zhaxi dari bilik ruangan miliknya saat Kinanthi melintas di depannya.
Kinanthi diam. Ia merasa sangat bersalah sudah tak profesional dalam pekerjaannya. Kita ini tim, seharusnya Ia bisa kompak seperti rekan yang lainnya.
"Mana rencana Novel barumu? Sudah Anda siapkan?" Tanya Zhaxi sinis.
"Belum."
"Apa? Hampir sudah waktunya penilaian dan Anda belum mengerjakannya, sama sekali?"
"Iya." Jawab Kinanthi pasrah.
"Ada apa dengan Anda, Prof?"
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi.
"Bukan berarti Anda mempunyai satu masalah, masalah di sini terikut rumit dengan personal Anda. Anda harus bersikap profesional, Prof. Kinanthi Hope"
Kinanthi menyeleweng keluar kantor, langkahnya sangat cepat. Ia mulai bosan mendengarkan ceramah Zhaxi yang berujung penyindiran singit yang dilakukannya.
"Mau kemana Anda, Prof?"
"Ada urusan yang saya lupakan." Kinanthi berjalan sangat terburu-buru hingga akhirnya Ia menabrak seseorang yang menurutnya pernah hidup di masa lalu. Perempuan berjilbab dengan tubuh sedikit ringkih. Perempuan yang dulu membuatnya merasa hidup. Perempuan yang mengajarinya banyak hal. Perempuan yang pertama kali mengajaknya ke Masjid dan beribadah di sana. Tetapi juga perempuan yang hanya sibuk dengan komunitasnya. Perempuan yang juga meninggalkannya sendirian di rumah bersama seorang nenek renta. Perempuan yang kini ada di depannya sekarang dan berdiri dengan sangat lemah.
"Ibu..." Giginya gemeretak mengucapkan kata itu. Perempuan ini, yang menurutnya telah membunuh Dadi karena semua keras kepalanya. Perempuan ini juga yang telah memantapkan hatinya untuk pergi dari rumah di Morgantown itu.
"Kinan..." Jawabnya lemas. Kinan langsung menyambar pemilik tubuh itu dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu dulu, bu..." Kata Kinan sedih.
"Ibu tinggal di mana sekarang? Bagaimana bisa Ibu sampai di sini sendirian?"
"Bukan masalah untuk ku Kinan, kamu pergi karena keras kepalanya diriku. Aku tinggal sendirian sekarang, di sebuah komplek perumahan diseberang sana. Aku kesini untuk mencari keberadaanmu.." Katanya terengap-engap.
"Mari, kita bicarakan di rumah, bu."
"Rumahmu, Kinan?"
"Iya." Jawab Kinan singkat.
"Aku tak menyangka kau akan sesukses ini, nak."
"Semua berkat negara ini, Bu. Berkat mereka yang menolongku. Dan juga berkat dirimu...serta Dadi." Ucap Kinan dingin.
"Aku banyak membaca bukumu, Kinan. Kamu sekarang benar-benar penulis yang hebat."
"Terimakasih."
"Sekarang kamu sangat cantik, Kinan." Kata ibu memuji.
"Bukankah memang begitu dari dulu?" Ia sedikit menunjukkan giginya kepada Ibu.
"Ya, dari dulu kamu memang anak yang cantik, manis, kuat dan sangat cerdas."
"Berhentilah memujiku, bu. Aku hampir mengeluarkan trashbag ku untuk memuntahkan segala isi yang ada di perutku sekarang."
"Aku takkan berhenti memujimu, Nak."
"Dengan siapa Ibu menikah setelah aku pergi dari rumah?"
"Apa kau harus tau itu, Kinan?"
"Ya. Mungkin." Jawabnya singkat.
"Aku menikahi seorang pengkhianat Agama. Pelaknat Tuhan. Seorang Atheis yang benar-benar sama sekali tak mau menganggap adanya Tuhan."
"Benarkah begitu, bu?" Tanya Kinan tak percaya.
"Apa aku harus berbohong padamu, Kinan?"
"Ku rasa tidak."
"Baguslah jika kamu mengerti."
"Apa yang ada di otakmu untuk menikahinya, Bu? Bahkan lelaki itu bukan lelaki yang sama sekali Ibu inginkan."
"Dia adalah anak dari teman kakekmu, Kinan. Perjodohan ini sangat gila."
"Kau bisa menolaknya, bukan? Mengapa harus menerima?"
"Keluarganya akan mencariku kemana pun aku pergi, dan akan tetap memaksaku untuk menikahinya. Kau tahu? Dia seorang pemabuk, penjudi, dia suka memakai wanita manapun yang dia inginkan untuk memuaskan nafsunya. Dia sangat biadab, Kinan. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri."
"Kemana dirimu yang dulu, bu?"
"Maksudmu?"
"Dirimu yang menurut ku sangat kuat untuk melawan apapun."
"Hilang, setelah aku benar-benar kehilangan semuanya."
"Lalu, dimana lelaki itu sekarang?" Tanyaku singit.
"Tidak ada. Dia sudah meninggal. Terkena penyakit."
"Penyakit?" Kinan menyipitkan matanya.
"HIV/AIDS. Tak lama setelah kita menikah, Ia meninggal."
"Lalu ibu?"
"Kau pasti tahu, Kinan. Kau seorang doktor yang ahli dalam segala hal. Ku rasa kau amat sangat bodoh jika aku tetap memberitahunya kepadamu."
Selesai Shubuh, Ia menaiki pesawat menuju Amerika. Sepanjang perjalanan, Ia hanya memikirkan Ajuj. Ajuj yang kini berhasil mengambil lagi dirinya. Ntah kenapa, seketika Ia merasa dirinya kembali seperti Kinanthi kecil. Lemah dan Penakut.
Kinanthi diam. Hanya menikmati pemandangan awan yang ada disekelilingnya. Ia juga sempat tertidur, tapi berapa menit kemudian terbangun lagi.
Pukul 05.00 sore tepatnya, Ia akhirnya sampai di rumah kayu pinggir danau miliknya. Tubuhnya terasa gemeretak akibat perjalanan panjang tadi.
Kringggggg....
Ponselnya berdering. Zhaxi (lagi).
"Hallo, Zhaxi. Saya baru sampai. Tolong hubungi saya lagi besok. Saya ingin istirahat. Sorry, See you.." Kinanthi memutuskan sambungan tanpa mendengar suara Zhaxi diseberang sana.
Kinanthi membersihkan tubuhnya, selesai itu Ia langsung terkapar ditempat tidur bernuansa polkadot itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Astaga!!""Jam berapa ini?!" Pekik Kinanthi.
Ia terlambat bangun untuk melakukan kegiatan yang seharusnya tak Ia tinggalkan lagi. Akibat perjalanan kemarin, Ia terasa sangat lelah. Padahal biasanya Ia tak seperti ini. Mungkin karena urusannya di Indonesia merawat orang sakit. Jadi, Ia merasa sedikit kelelahan.
"Saya tunggu di kantor pukul 09.00 pagi." begitu isi pesan singkat yang di kirim oleh Zhaxi.
"Oh, ada apa lagi ini?" Gerutu Kinanthi. Ia berjalan gontai ke kamar mandi. Segera membersihkan tubuhnya daan merapihkan penampilannya untuk pergi ke kantor yang baru saja di bangun oleh Zhaxi itu.
"Morning...." Sapa Kinanthi.
"Selamat Pagi juga, Prof. Kinanti Hope." Jawab Zhaxi.
Kinanti mengernyitkan dahinya, sejujurnya Ia bingung dengan sikap Zhaxi. Tak biasanya Ia memanggil dirinya seperti itu.
"Ada apa, Zhaxi? Kelihatannya Anda tampak punya masalah?" Tanya Kinanthi
"Ya, memang." Jawabnya singkat.
"Oke, bila Anda butuh saya, saya berada di ruangan." Ia langsung ngeloyor tanpa memperdulikan Zhaxi.
Kinanthi memang orang yang tak terlalu mau ikut campur urusan pribadi orang. Tak seperti orang-orang disekitarnya yang selalu mencampuri kehidupannya, terutama Zhaxi. Tapi jika bukan karena orang lain mencampuri masalah hidupnya, Ia takkan selamat dari majikan Arab yang biadab itu.
Zhaxi menghela. Usahanya bersikap dingin malah di balas cuek dengan Kinanthi. Ini seperti senjata makan tuan, gumamnya.
Zhaxi berdiri. Ia melangkah menuju ruang kerja Prof. Kinanthi Hope. Langkahnya terhenti ketika Ia telah sampai di depan ruangannya. Tak sampai mengetuk, ternyata Kinanthi lebih dahulu keluar ruangan.
"Hei, Zhaxi. Ada apa?" Tanya Kinanthi sambil tersenyum.
"Ada yang harus saya bicarakan dengan Anda."
"Baiklah, silahkan masuk." Kinanthi mempersilahkan.
"Well.... ada apa Zhaxi?"
"Apa kabar Prof. Kinanthi Hope?"
"Oh, Anda memanggil saya dengan utuh. Ada apa sebenarnya dengan Anda Zhaxi?"
Zhaxi menggerutu sendiri. Bergumam. Otaknya kembali berputar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Masalah beberapa bulan lalu...."
"Oh, Sorry about it, Zhaxi. Saya harus mendadak pergi ke Indonesia." Potong Kinanthi dengan cepat. Mungkin, Kinanthi lupa apa masalah inti yang sebenarnya.
"Ajuj lagi?"
"Ya, seperti yang Anda tahu. Usaha saya selama ini tak sia-sia Zhaxi. Tuhan mengabulkan apa yang saya minta."
"Ajuj sadar."
"Ya, seperti apa yang Anda bicarakan barusan." Kinanthi tersenyum lebar.
Zhaxi diam. Tak berbicara sedikit pun sampai-sampai Kinanthi yang menegurnya.
"Well, Zhaxi. Jadi ada masalah apa selama berbulan-bulan Saya tak disini?"
"Tidak. Semua berjalan lancar. Novel yang Anda luncurkan beberapa bulan lalu habis terjual. Banyak yang tertarik dengan Novel karya Anda. Saya harap, Anda bisa berkarya lebih baik lagi, Prof."
"Hayolah, Zhaxi. Jangan memanggil Saya seperti itu. Anda terlihat asing bagi saya. seperti kita tak pernah kenal sebelumnya."
"Maaf."
"Lalu ada apa lagi?" Tanya Kinanthi kemudian.
"Not yet. Saya rasa cukup. Selamat atas kebahagiaan Anda dengannya. Semoga kalian selalu diberkahi Tuhan." Zhaxi berdiri dan keluar dari ruangan Kinanthi.
Kinanthi hanya terpaku mendengar Zhaxi berbicara seperti itu. Ia teringat satu hal sebelum Ia mendapat kabar bahwa Ajuj sadar. Dia melamar Kinanthi. Sontak Kinanthi merasa menyesal. Menyakiti hati Zhaxi, membiarkannya begitu saja, menolaknya mentah-mentah hanya demi Ajuj yang waktu itu tak sadarkan diri. Tapi itu dulu, bukan? Sekarang Ajuj telah sadar. Dan kebahagiaannya telah kembali.
"Zhaxi?" Tegur Kinanthi memecahkan keheningan. Siang ini Zhaxi dan Kinanthi makan siang bersama. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari kami memulai percakapan. Sampai kami tiba di sebuah restoran yang tak begitu mewah.
"Iya, Prof. Kinan?" Balas Zhaxi singkat.
"Tolong berhenti memanggil saya seperti itu. Kita sudah lama kenal, tak biasanya Anda memanggil saya seperti itu Zhaxi."
"Maaf. Ada apa Kinan?"
"Baiklah..." Kinanthi menghela.
"Saya minta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu sebelum saya pulang ke Indonesia."
"Tak apa. Saya tahu Ajuj lebih dari segalanya untuk Anda. Tak usah dipermasalahkan."
"Baiklah, saya harap kita bisa normal seperti biasanya."
"Ya. Dan semoga Anda cepat dikaruniai balita lucu, Kinan."
Kinanthi terbelalak. Ia terkejut Zhaxi bisa memikirkan hal semacam itu dan sejauh itu. Bahkan dirinya pun sama sekali belum memikirkan rencana itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Has?" Panggil Ajuj dari kamar."Iya, Kang Ajuj?" Jawabnya.
"Bantu aku untuk keluar rumah ya, Has."
"Iya, Kang. Arep pinarak neng ngendi, Kang? Mau pergi kemana Kang?"
"Ndak, aku hanya ingin menghirup udara segar di depan."
"Yu Kinanthi tiap hari seperti ini ya, Kang?" Tanya Hasto.
"Iya, Has. Yowes, sampean adus ndisik. Yasudah, kamu mandi dulu. Wes awan, selak telat sekolae. Sudah siang, keburu telat sekolahnya."
"Iya, Kang. Nanti kalo perlu apa-apa panggil aku yo, Kang."
"Masa ya kamu lagi mandi aku panggil-panggil tho, Has...Has..." tawa Ajuj meledek.
"Ya ndak begitu juga Kang."
Hasto berbalik meninggalkan Ajuj di teras. Ia bergegas ke kamar mandi untuk merapikan diri dan berangkat sekolah
"Hati-hati, Has. Gek muleh nek wes rampung sekolae. Langsung pulang kalau sudah selesai sekolahnya. Nanti temani aku jalan-jalan ke alun-alun yo..." Teriak Ajuj dari teras.
"Yo, Kang! Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
~
"Apa maksud Anda, Zhaxi?" Tanya Kinanthi memekik.
"Bukankah kalian sudah saling mencintai? Saya rasa Anda sudah melangsungkan ritual di Indonesia."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Zhaxi. Anda sudah dewasa."
"Dan Anda jauh lebih pintar untuk memahami hal ini, Kinan." Balas Zhaxi.
Ntah apa yang barusan Zhaxi ucapkan itu. Ia benar-benar membuatnya merasa tak nyaman lagi berada di dekatnya.
"Mari kita kembali ke kantor."
"Baik, Prof."
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi. Memasang muka serius. Tak ada yang ingin Kinanthi banggakan dari gelar yang berada di depan namanya itu. Pada dasarnya, hidupnya sama. Masih dengan keluarga yang sama. Walau nasibnya sudah banyak yang berubah.
"Zhaxi, saya akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Terimakasih atas jamuan makan siangnya. Semoga harimu menyenangkan Zhaxi." Ucap Kinanthi.
"Sama-sama Kinan."
Kinanthi langsung pergi meninggalkan kantor itu tanpa memasuki ruangannya terlebih dahulu. Ia, sangat sangat bosan dengan hari inidan ingin menghabiskan waktu hanya dengan berdiam diri dirumahnya. Ya, dirumah pinggir danau itu.
Malam datang, dan Ia terperangkap dalam suasana dingin yang sangat hebat. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, tetapi tetap saja yang dirasakannya sekarang hanya dingin. Tiba-tiba Ia teringat seseorang yang berada di Indonesia, Ajuj. Apa kabar kiranya dia hari ini? Gumam Kinanthi. Ia mengambil ponsel di atas tempat tidurnya, dan menekan nomor dengan penuh emosi. Tunggu, untuk apa aku meneleponnya? Pikirannya berbicara sekarang. Kinanthi mengurungkan niatnya untuk menelepon Ajuj. Dia bangkit, menuju ruang tengah dimana perapian itu berada. Di sana, rasanya seluruh tubuhnya bisa benar-benar hangat.
Hangat seperti dekapan Ajuj semasa kami kecil, dulu. Kinanthi diam. Pikirannya melayang kesana kemari, memutar kembali memori-memori yang bahkan selama dua puluh tahun ini tak sanggup Ia usir. Tiba-tiba sudut matanya terasa basah. Dan cairan itu semakin deras membasahi pipinya. Aku kangen kamu, Juj. Ungkapnya dalam hati. Ntah, Kinanthi menjadi sosok yang benar-benar sangat lemah waktu Ia kembali mengumpulkan kenangan yang sempat tertinggal jauh itu. Rapuh.
Kinanthi tergeletak di karpet, tak sadar bahwa dirinya telah tertidur semalaman di ruang tamu yang luasnya cukup untuk bermain bulu tangkis. Ia segera bangkit dan bersiap menuju kantornya. Ia tak boleh telat seperti kemarin. Ia harus lebih baik lagi dari kemarin. Harus!
"Anda datang terlambat lagi, Prof." Seru Zhaxi dari bilik ruangan miliknya saat Kinanthi melintas di depannya.
Kinanthi diam. Ia merasa sangat bersalah sudah tak profesional dalam pekerjaannya. Kita ini tim, seharusnya Ia bisa kompak seperti rekan yang lainnya.
"Mana rencana Novel barumu? Sudah Anda siapkan?" Tanya Zhaxi sinis.
"Belum."
"Apa? Hampir sudah waktunya penilaian dan Anda belum mengerjakannya, sama sekali?"
"Iya." Jawab Kinanthi pasrah.
"Ada apa dengan Anda, Prof?"
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi.
"Bukan berarti Anda mempunyai satu masalah, masalah di sini terikut rumit dengan personal Anda. Anda harus bersikap profesional, Prof. Kinanthi Hope"
Kinanthi menyeleweng keluar kantor, langkahnya sangat cepat. Ia mulai bosan mendengarkan ceramah Zhaxi yang berujung penyindiran singit yang dilakukannya.
"Mau kemana Anda, Prof?"
"Ada urusan yang saya lupakan." Kinanthi berjalan sangat terburu-buru hingga akhirnya Ia menabrak seseorang yang menurutnya pernah hidup di masa lalu. Perempuan berjilbab dengan tubuh sedikit ringkih. Perempuan yang dulu membuatnya merasa hidup. Perempuan yang mengajarinya banyak hal. Perempuan yang pertama kali mengajaknya ke Masjid dan beribadah di sana. Tetapi juga perempuan yang hanya sibuk dengan komunitasnya. Perempuan yang juga meninggalkannya sendirian di rumah bersama seorang nenek renta. Perempuan yang kini ada di depannya sekarang dan berdiri dengan sangat lemah.
"Ibu..." Giginya gemeretak mengucapkan kata itu. Perempuan ini, yang menurutnya telah membunuh Dadi karena semua keras kepalanya. Perempuan ini juga yang telah memantapkan hatinya untuk pergi dari rumah di Morgantown itu.
"Kinan..." Jawabnya lemas. Kinan langsung menyambar pemilik tubuh itu dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu dulu, bu..." Kata Kinan sedih.
"Ibu tinggal di mana sekarang? Bagaimana bisa Ibu sampai di sini sendirian?"
"Bukan masalah untuk ku Kinan, kamu pergi karena keras kepalanya diriku. Aku tinggal sendirian sekarang, di sebuah komplek perumahan diseberang sana. Aku kesini untuk mencari keberadaanmu.." Katanya terengap-engap.
"Mari, kita bicarakan di rumah, bu."
"Rumahmu, Kinan?"
"Iya." Jawab Kinan singkat.
"Aku tak menyangka kau akan sesukses ini, nak."
"Semua berkat negara ini, Bu. Berkat mereka yang menolongku. Dan juga berkat dirimu...serta Dadi." Ucap Kinan dingin.
"Aku banyak membaca bukumu, Kinan. Kamu sekarang benar-benar penulis yang hebat."
"Terimakasih."
"Sekarang kamu sangat cantik, Kinan." Kata ibu memuji.
"Bukankah memang begitu dari dulu?" Ia sedikit menunjukkan giginya kepada Ibu.
"Ya, dari dulu kamu memang anak yang cantik, manis, kuat dan sangat cerdas."
"Berhentilah memujiku, bu. Aku hampir mengeluarkan trashbag ku untuk memuntahkan segala isi yang ada di perutku sekarang."
"Aku takkan berhenti memujimu, Nak."
"Dengan siapa Ibu menikah setelah aku pergi dari rumah?"
"Apa kau harus tau itu, Kinan?"
"Ya. Mungkin." Jawabnya singkat.
"Aku menikahi seorang pengkhianat Agama. Pelaknat Tuhan. Seorang Atheis yang benar-benar sama sekali tak mau menganggap adanya Tuhan."
"Benarkah begitu, bu?" Tanya Kinan tak percaya.
"Apa aku harus berbohong padamu, Kinan?"
"Ku rasa tidak."
"Baguslah jika kamu mengerti."
"Apa yang ada di otakmu untuk menikahinya, Bu? Bahkan lelaki itu bukan lelaki yang sama sekali Ibu inginkan."
"Dia adalah anak dari teman kakekmu, Kinan. Perjodohan ini sangat gila."
"Kau bisa menolaknya, bukan? Mengapa harus menerima?"
"Keluarganya akan mencariku kemana pun aku pergi, dan akan tetap memaksaku untuk menikahinya. Kau tahu? Dia seorang pemabuk, penjudi, dia suka memakai wanita manapun yang dia inginkan untuk memuaskan nafsunya. Dia sangat biadab, Kinan. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri."
"Kemana dirimu yang dulu, bu?"
"Maksudmu?"
"Dirimu yang menurut ku sangat kuat untuk melawan apapun."
"Hilang, setelah aku benar-benar kehilangan semuanya."
"Lalu, dimana lelaki itu sekarang?" Tanyaku singit.
"Tidak ada. Dia sudah meninggal. Terkena penyakit."
"Penyakit?" Kinan menyipitkan matanya.
"HIV/AIDS. Tak lama setelah kita menikah, Ia meninggal."
"Lalu ibu?"
"Kau pasti tahu, Kinan. Kau seorang doktor yang ahli dalam segala hal. Ku rasa kau amat sangat bodoh jika aku tetap memberitahunya kepadamu."


0 komentar:
Posting Komentar