Selasa, 09 Desember 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Time For Change


Sekali lagi . . .
Tiap orang tidak selalu punya masa lalu yang baik.
Ada kala di masa lalunya Ia membuat kesalahan, bahkan yang teramat fatal.
Tapi tak ada salahnya kita untuk memberikan kesempatan, bukan?
Kesempatan yang membawanya lebih baik menuju masa depan, Insyaallah . . .
Kita pun demikian . .
Apa iya, masa lalu kita selalu lebih baik dari masa lalunya? Apa iya, semasa hidup kita tak pernah berbuat sebuah dosa?
Tidak bukan . . .
Jadi, jangan menjudge seseorang dari masa lalunya.
Dia memang punya dan setiap orang pasti selalu punya.
Tapi masa kini dan masa depan, masih lebih suci jika ingin berubah ke jalan yang lebih baik . . .
Bukan maksud untuk membela, bukan maksud untuk berkeras kepala.
Lihatlah diri kita terlebih dahulu utamanya. Baru lihat kesalahan orang lain.
Be a good man, guys :)
Selasa, 25 November 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

TERKADANG, NAMA ITU SEBAGAI PENGINGATKU


Selamat Malam, untuk kamu yang sedang dalam perjalanan :)
Ntah kenapa, hari ini rasanya hujan kangen berat sama kamu, sampai-sampai Ia tak jua berhenti menangis. Mungkin Ia ingin bertemu dikala-kala seperti ini, dikala Ia tak pernah bersua dalam beberapa hari terakhir. Bukankah Handphone salah satu cara untuk melepas rindu? Tidak, maksudku tidak hanya dengan itu, belum cukup malahan. Aku ingin jumpa! Jumpa dalam kepastian yang akan membuat sebuah tangisan berhenti, Matahari... ya, kamu orangnya!

Rindu kepadamu memang satu hal yang salah. Jangankan untuk rindu, menyukaimu saja adalah hal yang tidak sepantasnya aku lakukan. Tapi, bukankah kita berhak untuk mencintai seseorang? Ia, sangat berhak dan itu adalah HAM alias Hak Asasi Mencintai. Namun jangan sampai menyakiti hati orang lain, mencintailah dalam diam, kurasa itu lebih anggun walaupun tak seorangpun tahu.

Hari gini masih ngomongin cinta? Mending urusin kuliah dulu baru cinta-cintaan! Seharusnya sih begitu, tapi apa boleh buat? Kita manusia, aku, kamu, dia, kita, mereka, pasti punya hati dan pasti akan merasakan yang namanya jatuh cinta, ya kan? Iya, dan itu pasti bukan mungkin. Kadang, sering nyesek sendiri (*bukan bengek) kalo ada orang yang ngomong kayak itu. Sering pengin samperin itu orang, terus gambar lope-lope dimukanya dia biar tahu apa yang dirasa. Sayangnya, itu orang, bukan buku gambar.

Dia kan udah punya pacar, mending jatuh cinta ke orang lain aja! Iya, memang kamu kira jatuh cinta hal yang mudah? Untuk Move on aja susah, apalagi untuk kembali percaya ke orang lain. Ya usaha dong! Coba kamu usaha dulu, kalo kamu sukses, nanti aku ikutin kamu. Gimana? Ngapain, kan udah punya pacar, ngapain jatuh cinta lagi. Loh? Yang menikah aja bisa bercerai gara-gara selingkuh, apalagi yang cuma pacaran, think Smart please :)

Terkadang, seketika cuaca bisa berubah sangat panas saat mengintip yang terkasih sudah mengasihi yang lain. Terkadang pula, rasa itu meledak dengan percuma yang akhirnya membuat air mata jatuh dari sudut penglihatan. Terkadang, nama itu pun sebagai pengingat, tepatnya pengingatku bahwa kamu tak mungkin aku miliki sekarang. Namun, ntah nanti bagaimana. Berserah diri saja :)
Senin, 27 Oktober 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Mawar


kesenangan akan temu dengan yang lain memang mengasyikkan.
menciptakan suasana menjadi lebih apik karenanya.
keberadaan yang begitu terlihat mengesankan, bagimu..
namun tidak baginya..
lihatlah mawar itu..!
tegakah kau membunuhnya perlahan?
sedangkan dia sudah berupaya tumbuh sebaik mungkin.
tumbuh dengan cantiknya, tumbuh dengan harumnya,
walau harus berbagi dengan yang lain.
tegakah kau melihatnya mati perlahan?
menunggu malam yang tak pernah terhias bulan.
menunggu pagi yang tak pernah terhias matahari.
namun kau tetap tumbuh subur bersama yang lain.
tak kah kau pikirkan mawarmu yang cantik itu?
mawar yang telah kau anggap durinya adalah hidupmu.
mawar yang telah kau jaga dan selayaknya kau cinta.
mawar yang akan perlahan mati dan akhirnya tak dapat kau lihat lagi...

Rabu, 06 Agustus 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Welcome back "Masa Lalu" 1

Hari ini cerah, setidaknya ini bisa dibilang tidak terlalu mendung untuk menjalani aktivitas kita di luar rumah. Sengaja hari ini aku bangun lebih siang dari biasanya, maklum mumpung hari libur, karena biasanya hari-hari ku disibukkan dengan kegiatan di kampus.
Pagi ini, mama siapkan makanan kesukaanku, sop ayam dan sambal kentang goreng. Hmm,, mama ku itu adalah mama terhebat yang pernah ada. Dia bisa jadi superwomen dan bisa jadi layaknya seorang anak kecil bila dihadapannya ada papa. Keluarga kami begitu harmonis. Dilengkapi dengan Mama dan Papa yang saling mencintai dan tiga orang anaknya.
Yap, aku tiga bersaudara. Aku anak pertama dari dua orang adik laki-lakiku. Aku menjalani pendidikan tinggiku disebuah Universitas di Jawa Barat, UI ( Universitas Indonesia ), Fakultas??? Psikologi. Yak, aku ingin menjadi seorang Psikologi Anak. Hmmm, aku hampir lupa memperkenalkan namaku. Aku Adzkia samha saufa biasanya mereka memanggilku dengan sebutan KIA.
Baiklah, rencana hari ini adalah berkunjung ke rumah dua orang sahabat ku, Afifah zahidah dan Aisyah hasna shofiyah. Mereka adalah sahabat baikku dari SMP dan sekarang kami menempuh pendidikan dibidang yang sama. Aku sangat menyayangi mereka seperti saudara kandungku, dan mereka pun sebaliknya. Keluarga kami sangat akrab, sudah seperti layaknya sebuah saudara.
Setiap ada acara dalam keluarga kami, mereka tak lupa untuk saling lempar undangan ke masing-masing rumah kami.

Bipp.. Bip..

"Kia, dimana? Lama sekali kau menuju kemari?" begitu isi sms yang baru saja ku buka.
"huh, temanku yang satu ini kenapa bawel sekali ya?" gumamku.

Aku beranjak dari tempat tidur ku dan keluar rumah. Di pekarangan ada Mama dan Papa sedang memetik bunga untuk dijadikan hiasan rumah.

"Aku pergi dulu, Pa... Ma..."
"Mau kemana?" Teriak mama.
"Ke rumah Aisyah..."
"Hati-hati..." Pesan papa.

Aku duduk di jok belakang mobil, Pak Hendra, kepercayaan papaku mengantar ku dengan senang hati menuju rumah Aisyah.

"Lebaran besok pulang, Pak?" Tanyaku.
"Pulang lah, Non. Kenapa?"
"Gpp. Enak ya bapak bisa pulang ke kampung."
"Memang Non Kia tidak ada rencana ke rumah nenek?"
"Saya rasa nggak, Pak.." Jawabku lemas.
"Yasudah, Non Kia berlibur saja dengan teman-teman, Non."
"Bosan, Pak. Mereka itu kalo udah libur lebaran pasti udah sibuk sama agenda masing-masing."
"Non Aisyah dan Non Afifah?"
"Ntahlah..."

Dan percakapan itu berhenti tepat ketika mobil sampai di depan rumah Aisyah.

"Pak, nanti gak usah jemput ya. Aku pulang sendiri. Hati-hati pulangnya Pak. Makasih."
"Iya, Non.."
"Kamu itu kemana aja sih, Kia? Kita udah sampe lumutan nungguin kamu.." Tanya Aisyah saat aku turun dari mobil.
"Hehe, aku bangun sedikit siang hari ini. Lagi males banget..."
"Dasar kau pemalas!" Ejek Afifah.
"Biarin aja, wleee.. Jadi, malam takbiran dan liburan nanti mau kemana kalian?"
"Hmmm, Kurasa stay at home." Jawab Aisyah.
"Gak punya pacar ya?" Canda Afifah.
"Heh, aku juga gapunya pacar. Kamu meledek?" Ketus ku.
"Tau nih! Mentang-mentang ada pacar.." Kata Aisyah.
"Huuuuuuuuuuuu" Sorak aku dan Aisyah ke Afifah.

Afifah diam membatu. Dia tak tahu lagi harus bicara apa. Temanku yang ini kalau main ceng-cengan pasti selalu kalah. Karena aku dan Aisyah sering bersekongkol untuk ngecengin balik Afifah.

"Aku juga stay at home kayanya." Kataku memulai lagi.
"Ke rumah aku aja, Ki." Tawar Aisyah.
"Kalo boleh yak sama Mama dan Papa.."
"Ah, Kamu itu anak manja!" Ejek mereka berdua. Dan kami pun sama-sama terbahak menuju ruang tamu.

Aisyah selalu menyiapkan berbagai macam cemilan saat kami berkunjung kerumahnya. Tak ada satupun cemilan yang terlewat. Dari mulai coklat, permen, ciki, minuman sampai ke es krim dia sediakan hanya untuk kami. Makannya aku seneng datang ke rumah Aisyah. Selain makanannya yang banyak, rumah dia juga bikin nyaman abis dengan nuansa Islam didalamnya.
Dia itu salah satu anak yang shalehah banget. Beda sama aku dan Afifah. Walaupun kami sama-sama dari keluarga muslim. Cuma, untuk masalah ketaatan, dia nomor satu diantara kami. Kadang, aku sering nangis dikamarnya kalau denger dia lagi baca Al-Qur'an dan aku sering bohong sama dia kalo mata aku kelilipan sampe akhirnya ngeluarin air mata. Ini benar-benar hal yang konyol. Tapi sekarang Aisyah udah tau alasan aku nangis saat dia baca Al-Qur'an.
Aisyah sama seperti ku. Anak pertama dari tiga bersaudara. Bedanya, kedua adiknya perempuan semua. Begitu juga dengan Afifah. Aku sering iri sama mereka, kenapa mereka punya adik perempuan sedangkan aku nggak. Tapi mereka juga sering iri sama aku, kenapa aku punya adik laki-laki dan mereka nggak. Hahaha, dasar manusia. Emang gapernah puas sama apa yang udah dikasih Tuhan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laailaaha illallahu wallahu akbar.. Allahu akbar, Walillaahilhamd

Kumandang takbir bergema. Dan esok adalah hari lebaran.
"Hmm, tak terasa sudah satu bulan aku menjalaninya. Semoga tahun depan masih diberi kesempatan untuk mendengar gema ini.." Gumamku.

Kringgg... Kringggg....

"Aisyah Incoming Call"
"Assalamu'alaikum? Ada apa, Syah?" Tanya ku.
"Wa'alaikumsalam.. Gak ada apa-apa Ki. Cuma mau telpon aja. Kamu di rumah sama siapa? Aku sendiri nih, kamu bisa kesini?"
"Hm... Mungkin agak malaman aku kesana, okay? Memang orangtuamu kemana?"
"Memang dirumah sedang tidak ada orang ya? Umi dan Abi pergi beserta adik-adik."
"Ada. Cuma lagi ramai disini. Bagaimana?"
"Yasudah, tidak usah. Aku sendiri saja dirumah, daripada kamu harus kesini malam-malam, bahaya." Ucapnya.
"Okay, baik-baik yaa.. Wassalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam"

Malam ini sebenarnya senang dirumah, kumpul dengan seluruh keluarga untuk perayaan esok. Cuma rasanya gak afdol kalo belum keluar rumah. Aku bersiap dan bergegas keluar rumah. Ternyata malam ini ramai sekali. Gema ada dimana-mana. Aku memutuskan untuk pergi ke Musholla dekat rumah. Disana aku dan teman-teman lainnya berseru mengumandangkan takbir. Asyik sekali. Ini pengalaman pertamaku memutuskan untuk bermalam takbir diluar rumah. Tak seburuk apa yang Mama dan Papa bayangkan.
Aku pulang pukul 22.00 malam. Suasana disekeliling rumah dan di dalam rumah masih sama seperti saat aku keluar dari rumah, ramai. Aku masuk dan bersalaman dengan seluruh keluarga dan pergi kr kamarku untuk tidur. Ntah mengapa, malam ini perasaanku sangat senang.
-------------------------------
Selesai shalat Ied, kami sekeluarga saling bersalaman, memohon maaf satu sama lain. Seperti biasa, tradisi makan ketupat selalu ada dan tak pernah dilewatkan. Setelah semuanya selesai, biasanya aku dan keluargaku berkeliling komplek untuk mengunjungi tetangga yang ada disekitar rumah kami. Satu persatu rumah kami masuki dan bersalaman, tak lupa mereka juga memberikan yang biasa disebut tanggokan kepada anak-anak yang masih kecil.
Aku melewati salah satu rumah teman masa kecilku. Sepi seperti tak ada kehidupan didalamnya.

"Mungkin mereka lagi pergi..." Gumamku.

Teman masa kecilku ini sangat baik, dia sama seperti kedua sahabatku, Afifah dan Aisyah. Cuma bedanya, dia datang lebih awal dibanding mereka. Dia anak yang pintar, sekarang kuliah di London dan mendapat beasiswa. Keluarganya tak mampu, tapi dia sanggup mengangkat nama keluarganya dengan mendapat beasiswa keluar negeri. Dan aku sangat salut padanya. Kami sudah hampir bertahun-tahun tak bertemu.

"Hallo." Sapa seorang cowok dengan suara khasnya.

Aku membalikkan badanku dan melihat sosok tubuh tegap tinggi berdiri di depanku sekarang.

"Hallo juga.." Sapaku balik.
"Kita kenal?" Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum memandangku, dan pergi berlalu begitu saja.
"Orang ini benar-benar membingungkan." Gerutuku.

Tak lama aku bertemu dengan cowok sok misterius itu, aku bertemu dengan orangtua teman masa kecilku. Mereka sedikit renta, tak jauh berbeda dengan orangtuaku. Senyumanku melebar ketika mereka menghambur kepelukanku.

"Apa kabar, ma?" tanyaku pelan.
"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan dirimu? Kau begitu cantik sekarang, nak.."
"Makasih, ma. aku sama sepertimu, baik. Bagaimana dengan Hanif Abbad?"
"Dia baik, sekarang dia berada di Indonesia. Dia baru saja menyelesaikan studynya dengan prestasi Cumlaude."
"Seriuskah ma?"
"Ya, dia memang anak yang pintar. Bukankah kalian sudah bertemu?"
"Bertemu? Belum."
"Oh, mungkin dia sedang bersama adik-adiknya."
"Ya, mungkin. Oya, aku harap Mama bisa datang kerumah bersamanya lain waktu."
"Ya, Insyaallah, jika dia ada waktu."
"Baiklah, aku pulang dulu ya, ma. Salam untuk Hanif."
"Iya, salam juga untuk Papa dan Mama mu ya."

Tradisi keliling rumah sudah rampung. Dan waktunya untuk keluargaku, Keluarga Aisyah dan Keluarga Afifah berkumpul. Ya, tiap lebaran memang sudah biasa keluarga kami bertiga berkumpul. Dan menurutku itu semakin membuat kedekatan kami bertiga semakin erat.
Menjelang sore, mereka bergegas untuk pulang kerumah masing-masing, dan tinggal keluarga kami yang berkumpul. Biasanya kami menghabiskan waktu hingga malam menjelang, dan membicarakan rencana kemana kita akan pergi keesokan harinya. Papa memberi usul untuk pergi berlibur ke rumah nenek di Bogor, dan kami sekeluarga setuju.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bipp... Bippp...

"Lagi apa, Ki?"
"Nomor baru, siapa ya ini?" Gumamku.
"Lagi di jalan mau ke Bogor, ini siapa ya?" Balasku
"Oh, mau kerumah nenek ya?"
"Iya. Kamu belum balas pertanyaanku."
"Yasudah, hati-hati dijalan ya. Salam untuk keluargamu."
"Iya. Terimakasih"
"Ntahlah, biarkan saja.." Kataku dalam hati.
------------------------------------
"Assalamu'alaikum....." Seru kami.
"Wa'alaikumsalam, ealah, cucuku tekan. piye kabare nduk? sae? Piye sekolahmu?" Jawab nenek dengan bahasanya yang khas. Walaupun nenek tinggal di Bogor, beliau tetap mencintai bahasa daerahnya, Bahasa Jawa. Menurutnya, bahasa daerah harus terus digunakan supaya akar-akar budaya kita tidak menghilang dan di klaim negara lain.
"Alhamdulillah sae, mbah.. Sekolahnya juga lancar." Jawabku dengan bahasa campuran.
"Sae, nduk? Apa ndak mau nambah momongan lagi?" Tanya beliau ke Mama.
"Wah, cukup bu. Tiga saja sudah kewalahan." Jawab Mama sambil tertawa, dan seluruh ruangan pun dihiasi dengan tawa.

Kami menginap dirumah nenek sehari, esoknya kita harus kembali ke Jakarta karena ayah sudah mulai bekerja.

"Kamu kalo mau nginep di rumah nenek lebih lama juga gak apa-apa, Ki." Tawar Papa.
"Ah, ngga ah pa. Aku balik ke Jakarta aja bareng Papa dan Mama.."

Seharian ini kami sekeluarga duduk di ruang tengah sembari berbincang satu sama lain. Aku bersama salah seorang sepupuku bergegas pergi menuju Kebun Teh untuk melihat pemandangan dan mencari udara sejuk.

"Mbak kenapa gak tinggal disini saja? Kan Bogor - Depok deket." Tanyanya.
"Aku ndak mau repoti mbah, Nad." Jawabku singkat.
"Loh, mbah malah seneng kalo mbak tinggal di sini."
"Masa?"
"Iya toh, mbak. Lah kan mbak cucu pertamanya mbahe."
"Aku ndak yakin. Mbah sudah terlalu banyak mengorbankan dirinya untuk keluargaku. Gak mungkin aku nyusahin mbah lagi dengan tinggal disini."
"Mbah itu pengin banget mbak tinggal di sini. Sama mbah, sama aku. Lagian kita cuma berdua."
"Akan aku pikirkan."
"Mbak sudah punya pacar ya di Jakarta? Makannya mbak gamau tinggal di sini." Tanyanya sambil tertawa.
"Ah kamu, ngga juga."
"Kalo ngga, kenapa mbak gamau tinggal di sini?"
"Sayang, butuh waktu untuk tinggal terpisah dari orangtua."
"Ih, mbak manja ya ternyata."
"Hahaha, begitulah..." Jawabku sedikit pelan.
"Mbak? Punya Pacar?"
"Pacar? Kamu tau pacar dari siapa toh? Kecil-kecil udah kenal pacar."
"Dari teman-temanku."
"Memang kamu sudah punya?"
"Belum mbak."
"Apa kamu tau arti pacaran?"
"Menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan kan?"
"Iya. Lalu?"
"Ndak tahu mbak."
"Lalu kamu ngapain pacaran?"
"Memang gaboleh ya mbak?"
"Selama mbak belum dapat pasangan dan belum menikah. Kamu dilarang pacaran."
"Kenapa gitu?"
"Karena aku lebih tua darimu" Jawabku sambil tertawa.
"Ah, si mbak ini becanda saja."
"Loh, ya bener toh? Kamu ndak boleh langkahi yang lebih tua." Kata ku lalu serius.
"Tapi kalo kamu mau pacaran ya gak apa-apa. Selama masih dalam batas yang wajar." Lanjutku.
"Mbak besok pulang kapan?"
"Pagi-pagi sekali mungkin. Kenapa?"
"Ndak papa mbak. Cuma tanya. Pulang yuk mbak."
"Yuk."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Huh, seminggu sudah lebaran berlangsung, dan liburan masih satu bulan lagi. Ntahlah, ini benar-benar membuatku bosan.

Bipp... Bip....

"Kamu dimana?"
"Siapa nih? Ini bukannya nomor yang waktu itu SMS aku juga ya?"
"Ini siapa?" Balasku singkat.
"Aku ke rumahmu ya. Tunggu aku. Bye."
"Lah, ini orang?" Kataku kesal.

Tinongg.. Tinongggg.....

"Ya, tunggu sebentar.." Teriak Mama dari dalam.
"Assalamu'alaikum, ma..."
"Wa'alaikumsalam. Eh, kamu. Dateng juga kemari. Silahkan masuk. Kianya masih ada di atas, sebentar mama panggil dulu ya. Baru bangun tidur." Jawab mama sambil tertawa.
"Oh iya, gpp ma..." Ucapnya tenang.

Tokk.. Tokk.. Tokk..

"Kia.... ada tamu nih. Mau ketemu sama kamu."
"Siapa ma?"
"Temui dulu, kamu pasti terkejut."
"Mama ini.. Mainnya rahasiaan."
"Udah ayuk" Mama menarikku menuju anak tangga.
"Lelaki itu siapa ya?" Gumamku melihatnya dari atas.
"Hall..... Kamu?" Sapaku kaget melihatnya.
"Hallo juga. Apa kabar Adzkia samha saufa? Lama tak jumpa." Sapanya sambil tersenyum.
"Kita kenal? Bukankah kamu yang waktu itu berdiri dibelakang aku kan?" Tanyaku bingung.
"Okey, kita belum kenalan ya? Saya Hanif Abbad. Salam kenal."
"Hanif? Oh My God, ini kamu? Hanif Abbad yang dulu cengeng banget kalo diajak main? Kamu......"
"Beda kan? Lebih ganteng kan pastinya." Candanya memecah suasana.
"Pede. Apa kabar? Kamu banyak berubah. Sudah berapa lama kita gak ketemu ya? Aku hampir lupa kapan terakhir kita bertemu."
"Awal bulan Januari tahun 2000 dan kita lagi makan es krim di Monas."
"Ya ampun, kamu masih mengingatnya?"
"Tentu. Tak ada yang pernah terlupakan sedikitpun tentangmu." Jawabnya pelan hingga aku sulit mendengarnya.
"Apa?" Tanyaku memintanya mengulang.
"Bagaimana dengan study mu? Jadi masuk Psikolog?"
"Kamu tau aku mau masuk Psikolog darimana?" Tanyaku heran.
"Your mom."
"Mama? Kamu dan mama...."
"Yap, kita saling komunikasi. Mama banyak cerita tentangmu selama ini."
"Dan aku tak pernah tau hal itu sedikitpun?"
"Hahaha, I'm sorry. Aku pulang hanya untuk ketemu sama kamu, Kia."
"Hah? Untuk?"
"Ada yang harus tersampaikan dan tak boleh lagi terlewati. Eh, aku harus pulang. Mama nungguin aku, mau pergi katanya. See you next time, dear. Byee, salam untuk mama mu ya.." Dia pergi gitu aja dan ninggalin sejuta tanda tanya di kepalaku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Hanif? Kenapa orang itu datang lagi kesini? Ada apa kira-kira ya? Bukankah dia mau melanjutkan hidupnya di London.." Pikirku sembari tiduran.

Tok Tokk Tokkk...

"Kia, mama boleh masuk?" Teriak mama dari luar.
"Boleh ma..." Ucapku.
"Ciyee, yang tadi siang ketemuan sama Kekasih hati. Seneng yaaaa?" Ledek mama padaku.
"Mama ini kenapa deh, siapa yang kekasih juga? Siapa tau diluar kan dia udah punya pacar.."
"Kalo belum?"
"Emangnya mama tau darimana?"
"Ya perkiraan doang sih. Eh, ngomong-ngomong kamu ngobrol apa aja tadi?"
"Gak lama sih, cuma say hello dan balik tanya, selesai, dia pulang. Katanya sih dia udah di tunggu mamanya di rumah."
"Oh, gitu.. Yaaaa, masih kangen dong jadinya?" Ledek mama lagi.

"Mama, apaan sihhhh..." Jawabku dengan pipi merona.
Senin, 21 Juli 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

"Kinanthi (Sequel)"

              
              Oke. "Kinanthi (Sequel)" ini terinspirasi dari Novel "Kinanthi Terlahir Kembali" Karya Tasaro GK. Novel ini bener-bener buat imajinasiku seketika melayang hebat sehabis sahur. ntah apa yang buat semuanya seperti ini. aku berterimakasih banget sama Pak Tasaro, berkat karyanya ini, aku bisa meluncurkan karangan ku sendiri yang berjudul "Kinanthi (Sequel). semoga para pembaca dapat menikmatinya."






               "Kinanthi menangis dan tertawa dalam waktu yang sama. Konstelasi Crux ada di atas sana. Kinanti menggeser tatapannya sedikit ke bawah. Ke kaki rasi bintang Layang-Layang itu. Kesebuah are pekat tanpa harapan. Entah benar atau hanya khayalan, ada cahaya baru yang tiba-tiba memercik. Berkelip. Ada wajah Ajuj di sana. Sungguh... ada.[]"

                Malam itu juga, Kinanthi langsung beranjak pergi ke Bandara. Tak memikirkan apapun yang akan terjadi nanti. Pokoknya Ia harus sudah berada di Indonesia esok pagi untuk bertemu langsung dengan Ajuj. Seakan masih tak percaya, Kinanthi berulang kali menghubungi Hasto dari telepon genggamnya. Menanyakan apakah keadaan di sana selalu baik-baik saja atau ada perubahan lagi. Siapa tau, Ajuj bangun hanya untuk berpamitan. Kemudian Ia kembali tidur selamanya yang disebut dengan kematian.
Kinanthi menepis semua keadaan buruk itu selama perjalanan ke Indonesia. Berharap yang terbaik yang pernah ia harapkan, semoga Ajuj selalu berada dalam lindungan-Nya.
Pesawat terbang sekitar pukul 02.00 pagi waktu New York. Tak terbayang jika Ia harus meninggalkan semua pekerjaannya secara mendadak hanya untuk menemui Ajuj di Indonesia. Tapi memang begitu kenyataannya.
Kinanthi tiba di Bandara Adisucipto sekitar pukul 14.00 siang, langkahnya cepat menghampiri taksi yang berada di area penjemputan. Ia bergegas naik dan...
"Selamat siang, Mbak. Mau kem....."
"Gunung Kidul, Pak" Potong Kinanthi cepat. Pak supir yang kelihatan bingung itu mengiyakan saja permintaan Kinanthi.
Dingin. Dadanya berdegub sangat kencang. Dalam pikirannya Ajuj, Ajuj dan hanya Ajuj.
"Terimakasih" Ucap Kinanthi lalu segera memasuki rumah sakit dan mencari keberadaan Ajuj. Sesekali ia berlari hingga sempat membuatnya tertabrak dengan orang lain. Pikirannya mulai kacau. Langkahnya perlahan memendek. Ia berhenti tepat dimana Ajuj dirawat. Dadanya semakin berdegub kencang. Keringatnya mengalir deras di pelipis kanannya.
"Ajuj..." Ucap Kinanthi memecah keheningan.
"Thi.." Balas Ajuj singkat.
Kinanthi menghambur ke arah Ajuj. Ia memandangi Ajuj dengan seksama. Tak menyangka, orang yang dinantinya selama ini, orang yang diperjuangkannya selama ini, kini terbangun dari tidur panjangnya yang melewati batas.
Tangis Kinanthi pecah saat itu juga.
"Ajuj..." Rintihnya.
"Kamu sadar, Juj?" Tanyanya tak percaya.
"Iya, Thi. Aku sudah sadar. Sudah, jangan menangis lagi tho, Thi. Aku ndak mau lihat kamu sedih seperti ini." Jawab Ajuj.
"Aku, hanya bahagia, Juj."
Ajuj berusaha meraih tangan Kinanthi, menggenggamnya erat, dan berjanji bahwa Ia takkan lagi meninggalkan Kinanthi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebulan berlalu setelah Ajuj sadar. Kini, Ajuj bersama keluarganya tinggal bersama Bapak dan Ibu Kinanthi, juga bersama Hasto. Mereka saling berbagi biarpun dulu sempat terjadi konflik.
Sengaja pagi-pagi sekali Kinanthi mengajak Ajuj keluar rumah. Bersama kursi rodanya, Ajuj dan Kinanthi melangkah. Menghirup udara pagi yang segar di Yogyakarta.
"Thi?" Sapa Ajuj.
"Ya?" Balas Kinanthi singkat.
"Kenapa kamu pertahankan aku, Thi. Padahal masih banyak orang yang jauh lebih baik di luar sana daripada aku."
Kinanthi diam. Dadanya seperti di timpuk batu besar. Ia bingung apa yang seharusnya Ia jawab.
"Thi?" Sapa Ajuj kedua kali.
"Kamu kenapa tho, Thi. Daritadi melamun saja"
"A..Aku.. hanya khawatir denganmu, Juj"
"Aku baik-baik saja, Thi. Apa yang kamu khawatirkan lagi?"
"Untuk sekarang. Kemarin? Apa itu bisa dibilang baik-baik saja?" Balas Kinanthi Ketus.
"Kamu terlalu sayang sama aku yo, Thi? Sampe khawatir begitu??" Canda Ajuj menghangatkan suasana yang sejak tadi dingin.
"Ajuj!!" Serang Kinanthi.
"Aku hanya tak tau apa jadinya kamu saat orangtuamu memintaku melepas semua alat yang ada di tubuhmu waktu itu. Mungkin, kamu sudah benar-benar pergi, Juj"
"Memang kenapa kalo aku pergi?"
"Aku hanya.... Sudahlah. Ayo kita pulang. Bapak Ibumu pasti sudah mencarimu daritadi."
"Jawab dulu tho, Thi" Ajuj memelas.
Kinanthi hanya diam. Serius memperhatikan jalan agar sewaktu-waktu kursi roda Ajuj tidak tersangkut apapun yang dilewatinya.
Keluarga Ajuj dan Kinanthi baru saja selesai sarapan. Hasto pun sudah siap untuk pergi ke sekolah. Bapak Ajuj dan Kinanthi ganti menghambur keluar rumah untuk mencari udara segar. Sedangkan Ibunya pergi ke dapur untuk beberes.
"Kalau mau sarapan, itu di meja makan sudah mbok sisakan untukmu dan Ajuj, ndok" Ujar si Mboknya Kinanthi dari balik dapur.
"Iya, Mbok." Balas Kinanthi.
Kinanthi segera menuju meja makan. Mengambil piring dan menyuapi Ajuj.
"Kamu harus makan yang banyak, biar badanmu ndak kurus kaya tengkorak seperti itu, Juj!"
Ajuj hanya tersenyum melihat Kinanthi. Ia menikmati setiap detik yang dilewatkannya bersama Kinanthi. Ia tak mau menyia-nyiakannya lagi. Gadis kecilnya kini sudah kembali. Dan Ia harus cepat sembuh agar bisa menjaganya.
Sore tiba. Selesai Ibunya Ajuj merapikannya, Ia mengajak Ajuj untuk belajar berdiri. Ya, setahun itu adalah waktu yang cukup lama untuk hanya sekedar tidur di atas ranjang dan tak melakukan kegiatan apapun, cukup membuat semua otot yang ada di tubuh Ajuj sangat kaku.
"Kamu harus bisa, Juj. Harus bisa kembali berjalan dan beraktivitas lagi seperti dulu." Kata Kinanthi menyemangati.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah tiga bulan lebih Kinanthi di Jogja. Sudah waktunya Ia kembali ke Amerika untuk mengurus segala pekerjaannya di sana. Menurutnya ini sudah terlalu lama. Meninggalkan pekerjaan sehari saja sudah menumpukkan banyak masalah. Apalagi harus meninggalkan pekerjaannya selama berbulan-bulan.
"Kamu sinau seng apik yo, Has. Kamu belajar yang benar ya, Has. Bikin Bapak dan si Mbok bangga. Setelah lulus nanti, akan aku ajak kamu ke Amerika. Kuliah di sana agar kamu sukses dan bisa mengangkat nama keluarga."
"Iyo, Yu."
"Jangan aneh-aneh. Akan aku keluarkan kamu dari sekolah jika melakukan hal yang tidak-tidak."
"Iyo, Yu. Yu Kinanthi mau balik ke Amerika kapan?" Tanya Hasto.
"Besok pagi." Jawab Kinanthi singkat.
"Lah, kok cepet banget tho, Yu?"
"Banyak urusan yang harus diselesaikan. Besok Aku berangkat jam 03.00 pagi dari sini. Jaga Ajuj dan terus latih dia untuk beraktivitas. Jangan lupa mengingatkannya untuk minum obat. Kalau perlu apa-apa, segera hubungi Aku." Jelas Kinanthi.
"Baik, Yu."
"Satu lagi, jika Ajuj bertanya kapan aku kembali, jawab saja tidak tau. Aku takkan kembali ke sini dalam waktu singkat. Jaga dirimu baik-baik."
"Yu??" Lirih Hasto.
"Apa Yu Kinanthi akan meninggalkan kita lagi?"
"Tidak." Jawab Kinanthi singkat.
"Tidurlah, besok kamu harus ke sekolah." Perintah Kinanthi.
Kinanthi beranjak dari kamar Hasto. Mematikan lampunya dan mengucapkan selamat malam. Lalu Ia diam-diam masuk ke kamar Ajuj. Terlihat sesosok orang tergeletak di sana. Ya, dengan pulasnya. Kinanthi tersenyum, seketika Ia meneteskan cairan bening dari sudut matanya.
"Selamat malam, Juj. Semoga kamu terus baik-baik saja di sini. Aku menyayangimu, Juj." Bisik Kinanthi, lalu Ia bergegas menuju kamarnya. Hari semakin malam. Tak ada satupun suara kecuali suara jangkrik yang kini menemani dirinya menyiapkan untuk kepergiannya ke Amerika.
Menjelang pagi. Kini pukul 02.00 dan Ia harus segera menuju bandara. Hasto terbangun dari tidurnya. Dia menuju dapur dan menyiapkan segelas cokelat hangat untuk mbak yu nya.
"Ini, Yu."
"Kamu sudah bangun, Has? Cepat sekali tidurmu. Ada apa?"
"Aku ndak bisa tidur, Yu. Memikirkan Yu Kinanthi."
"Aku akan baik-baik saja. Aku takkan meninggalkan kalian di sini. Aku akan kembali. Percayalah. Aku hanya menyelesaikan urusanku di sana. Mungkin, akan sesekali berkunjung ke Indonesia." Kinanthi tersenyum, dan memeluk adik bungsunya itu.
"Aku pergi dulu, Has. Bye.."
"Hati-hati, Yu."
Kinanthi mengedipkan matanya. Taksi sudah menunggu di luar sejak tadi. Ia bergegas masuk taksi dan meluncur ke Bandara Adisucipto.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ponselnya berbunyi. Tertera nama "Zhaxi" di layarnya.
"Hallo?" Jawab Kinanthi lemas. Tak biasanya dia tak bergairah sedikitpun saat menjawab telepon darinya.
"Hallo, Kinan. Apa kabar Anda?"
"Baik Zhaxi."
"Yakin jika Anda baik-baik saja, Kinan?"
"Ya. Ada apa menelepon pagi-pagi buta begini?"
"Pagi-pagi buta?"
"Oh, sorry. Saya lupa kita berbeda negara sekarang."
"Tak masalah."
"Baiklah, ada apa Zhaxi?"
"Tidak. Saya hanya ingin menanyakan kapan Anda akan pulang?"
"Pulang? Rumahku memang disini."
"Maaf, maksudku... kembali ke Amerika."
"Ya. pagi ini. Saya sedang berada di perjalanan, Zhaxi."
"Baiklah."
"Oke. Ada lagi?" Tanyanya balik.
"Tidak."
"Baiklah, bye.." dan Kinanthi memutuskan teleponnya.
Ntah ada apa, sikap Kinanthi tiba-tiba berubah 180' setelah kepulangannya ke Indonesia. Mungkin, di sana Ia ada masalah. Pikir Zhaxi.
Kinanthi sampai di Bandara Adisucipto, dia akan meluncur ke Cengkareng dan melanjutkannya lagi ke Amerika. Perjalanan ini terasa sangat panjang dan melelahkan. Bahkan Ia tak punya hiburan sekalipun kondisinya benar-benar badmood.
Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi. Hampir Shubuh. Kinanthi teringat janjinya kepada Tuhan. Ia bergegas menuju Musholla di Bandara Soetta. Tak lama, Adzan pun berkumandang. Ada getaran yang menyelinap masuk ke hati Kinanthi. Ia merasakan kedamaian di sana. Ia merasa tenang, tentram. Bebannya seakan berkurang ketika Adzan itu selesai. Ia mengambil air yang disebut orang-orang dengan Wudhu'. Membasuh mukanya, lalu tangannya, pelipisnya, telinganya, dan yang terakhir kaki.
Ia melangkah maju memasuki masjid. Ini kali keduanya Ia memasuki masjid. Tapi kali ini sendiri. Tidak dengan Ibu asuhnya yang dulu tinggal bersamanya di Morgantown.
Selesai Shubuh, Ia menaiki pesawat menuju Amerika. Sepanjang perjalanan, Ia hanya memikirkan Ajuj. Ajuj yang kini berhasil mengambil lagi dirinya. Ntah kenapa, seketika Ia merasa dirinya kembali seperti Kinanthi kecil. Lemah dan Penakut.
Kinanthi diam. Hanya menikmati pemandangan awan yang ada disekelilingnya. Ia juga sempat tertidur, tapi berapa menit kemudian terbangun lagi.
Pukul 05.00 sore tepatnya, Ia akhirnya sampai di rumah kayu pinggir danau miliknya. Tubuhnya terasa gemeretak akibat perjalanan panjang tadi.
Kringggggg....
Ponselnya berdering. Zhaxi (lagi).
"Hallo, Zhaxi. Saya baru sampai. Tolong hubungi saya lagi besok. Saya ingin istirahat. Sorry, See you.." Kinanthi memutuskan sambungan tanpa mendengar suara Zhaxi diseberang sana.
Kinanthi membersihkan tubuhnya, selesai itu Ia langsung terkapar ditempat tidur bernuansa polkadot itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Astaga!!"
"Jam berapa ini?!" Pekik Kinanthi.
Ia terlambat bangun untuk melakukan kegiatan yang seharusnya tak Ia tinggalkan lagi. Akibat perjalanan kemarin, Ia terasa sangat lelah. Padahal biasanya Ia tak seperti ini. Mungkin karena urusannya di Indonesia merawat orang sakit. Jadi, Ia merasa sedikit kelelahan.
"Saya tunggu di kantor pukul 09.00 pagi." begitu isi pesan singkat yang di kirim oleh Zhaxi.
"Oh, ada apa lagi ini?" Gerutu Kinanthi. Ia berjalan gontai ke kamar mandi. Segera membersihkan tubuhnya daan merapihkan penampilannya untuk pergi ke kantor yang baru saja di bangun oleh Zhaxi itu.

"Morning...." Sapa Kinanthi.
"Selamat Pagi juga, Prof. Kinanti Hope." Jawab Zhaxi.
Kinanti mengernyitkan dahinya, sejujurnya Ia bingung dengan sikap Zhaxi. Tak biasanya Ia memanggil dirinya seperti itu.
"Ada apa, Zhaxi? Kelihatannya Anda tampak punya masalah?" Tanya Kinanthi
"Ya, memang." Jawabnya singkat.
"Oke, bila Anda butuh saya, saya berada di ruangan." Ia langsung ngeloyor tanpa memperdulikan Zhaxi.
Kinanthi memang orang yang tak terlalu mau ikut campur urusan pribadi orang. Tak seperti orang-orang disekitarnya yang selalu mencampuri kehidupannya, terutama Zhaxi. Tapi jika bukan karena orang lain mencampuri masalah hidupnya, Ia takkan selamat dari majikan Arab yang biadab itu.
Zhaxi menghela. Usahanya bersikap dingin malah di balas cuek dengan Kinanthi. Ini seperti senjata makan tuan, gumamnya.
Zhaxi berdiri. Ia melangkah menuju ruang kerja Prof. Kinanthi Hope. Langkahnya terhenti ketika Ia telah sampai di depan ruangannya. Tak sampai mengetuk, ternyata Kinanthi lebih dahulu keluar ruangan.
"Hei, Zhaxi. Ada apa?" Tanya Kinanthi sambil tersenyum.
"Ada yang harus saya bicarakan dengan Anda."
"Baiklah, silahkan masuk." Kinanthi mempersilahkan.
"Well.... ada apa Zhaxi?"
"Apa kabar Prof. Kinanthi Hope?"
"Oh, Anda memanggil saya dengan utuh. Ada apa sebenarnya dengan Anda Zhaxi?"
Zhaxi menggerutu sendiri. Bergumam. Otaknya kembali berputar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Masalah beberapa bulan lalu...."
"Oh, Sorry about it, Zhaxi. Saya harus mendadak pergi ke Indonesia." Potong Kinanthi dengan cepat. Mungkin, Kinanthi lupa apa masalah inti yang sebenarnya.
"Ajuj lagi?"
"Ya, seperti yang Anda tahu. Usaha saya selama ini tak sia-sia Zhaxi. Tuhan mengabulkan apa yang saya minta."
"Ajuj sadar."
"Ya, seperti apa yang Anda bicarakan barusan." Kinanthi tersenyum lebar.
Zhaxi diam. Tak berbicara sedikit pun sampai-sampai Kinanthi yang menegurnya.
"Well, Zhaxi. Jadi ada masalah apa selama berbulan-bulan Saya tak disini?"
"Tidak. Semua berjalan lancar. Novel yang Anda luncurkan beberapa bulan lalu habis terjual. Banyak yang tertarik dengan Novel karya Anda. Saya harap, Anda bisa berkarya lebih baik lagi, Prof."
"Hayolah, Zhaxi. Jangan memanggil Saya seperti itu. Anda terlihat asing bagi saya. seperti kita tak pernah kenal sebelumnya."
"Maaf."
"Lalu ada apa lagi?" Tanya Kinanthi kemudian.
"Not yet. Saya rasa cukup. Selamat atas kebahagiaan Anda dengannya. Semoga kalian selalu diberkahi Tuhan." Zhaxi berdiri dan keluar dari ruangan Kinanthi.
Kinanthi hanya terpaku mendengar Zhaxi berbicara seperti itu. Ia teringat satu hal sebelum Ia mendapat kabar bahwa Ajuj sadar. Dia melamar Kinanthi. Sontak Kinanthi merasa menyesal. Menyakiti hati Zhaxi, membiarkannya begitu saja, menolaknya mentah-mentah hanya demi Ajuj yang waktu itu tak sadarkan diri. Tapi itu dulu, bukan? Sekarang Ajuj telah sadar. Dan kebahagiaannya telah kembali.
"Zhaxi?" Tegur Kinanthi memecahkan keheningan. Siang ini Zhaxi dan Kinanthi makan siang bersama. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari kami memulai percakapan. Sampai kami tiba di sebuah restoran yang tak begitu mewah.
"Iya, Prof. Kinan?" Balas Zhaxi singkat.
"Tolong berhenti memanggil saya seperti itu. Kita sudah lama kenal, tak biasanya Anda memanggil saya seperti itu Zhaxi."
"Maaf. Ada apa Kinan?"
"Baiklah..." Kinanthi menghela.
"Saya minta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu sebelum saya pulang ke Indonesia."
"Tak apa. Saya tahu Ajuj lebih dari segalanya untuk Anda. Tak usah dipermasalahkan."
"Baiklah, saya harap kita bisa normal seperti biasanya."
"Ya. Dan semoga Anda cepat dikaruniai balita lucu, Kinan."
Kinanthi terbelalak. Ia terkejut Zhaxi bisa memikirkan hal semacam itu dan sejauh itu. Bahkan dirinya pun sama sekali belum memikirkan rencana itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Has?" Panggil Ajuj dari kamar.
"Iya, Kang Ajuj?" Jawabnya.
"Bantu aku untuk keluar rumah ya, Has."
"Iya, Kang. Arep pinarak neng ngendi, Kang? Mau pergi kemana Kang?"
"Ndak, aku hanya ingin menghirup udara segar di depan."
"Yu Kinanthi tiap hari seperti ini ya, Kang?" Tanya Hasto.
"Iya, Has. Yowes, sampean adus ndisik. Yasudah, kamu mandi dulu. Wes awan, selak telat sekolae. Sudah siang, keburu telat sekolahnya."
"Iya, Kang. Nanti kalo perlu apa-apa panggil aku yo, Kang."
"Masa ya kamu lagi mandi aku panggil-panggil tho, Has...Has..." tawa Ajuj meledek.
"Ya ndak begitu juga Kang."
Hasto berbalik meninggalkan Ajuj di teras. Ia bergegas ke kamar mandi untuk merapikan diri dan berangkat sekolah

"Hati-hati, Has. Gek muleh nek wes rampung sekolae. Langsung pulang kalau sudah selesai sekolahnya. Nanti temani aku jalan-jalan ke alun-alun yo..." Teriak Ajuj dari teras.
"Yo, Kang! Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
                                ~
"Apa maksud Anda, Zhaxi?" Tanya Kinanthi memekik.
"Bukankah kalian sudah saling mencintai? Saya rasa Anda sudah melangsungkan ritual di Indonesia."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Zhaxi. Anda sudah dewasa."
"Dan Anda jauh lebih pintar untuk memahami hal ini, Kinan." Balas Zhaxi.
Ntah apa yang barusan Zhaxi ucapkan itu. Ia benar-benar membuatnya merasa tak nyaman lagi berada di dekatnya.
"Mari kita kembali ke kantor."
"Baik, Prof."
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi. Memasang muka serius. Tak ada yang ingin Kinanthi banggakan dari gelar yang berada di depan namanya itu. Pada dasarnya, hidupnya sama. Masih dengan keluarga yang sama. Walau nasibnya sudah banyak yang berubah.
"Zhaxi, saya akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Terimakasih atas jamuan makan siangnya. Semoga harimu menyenangkan Zhaxi." Ucap Kinanthi.
"Sama-sama Kinan."
Kinanthi langsung pergi meninggalkan kantor itu tanpa memasuki ruangannya terlebih dahulu. Ia, sangat sangat bosan dengan hari inidan ingin menghabiskan waktu hanya dengan berdiam diri dirumahnya. Ya, dirumah pinggir danau itu.
Malam datang, dan Ia terperangkap dalam suasana dingin yang sangat hebat. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, tetapi tetap saja yang dirasakannya sekarang hanya dingin. Tiba-tiba Ia teringat seseorang yang berada di Indonesia, Ajuj. Apa kabar kiranya dia hari ini? Gumam Kinanthi. Ia mengambil ponsel di atas tempat tidurnya, dan menekan nomor dengan penuh emosi. Tunggu, untuk apa aku meneleponnya? Pikirannya berbicara sekarang. Kinanthi mengurungkan niatnya untuk menelepon Ajuj. Dia bangkit, menuju ruang tengah dimana perapian itu berada. Di sana, rasanya seluruh tubuhnya bisa benar-benar hangat.
Hangat seperti dekapan Ajuj semasa kami kecil, dulu. Kinanthi diam. Pikirannya melayang kesana kemari, memutar kembali memori-memori yang bahkan selama dua puluh tahun ini tak sanggup Ia usir. Tiba-tiba sudut matanya terasa basah. Dan cairan itu semakin deras membasahi pipinya. Aku kangen kamu, Juj. Ungkapnya dalam hati. Ntah, Kinanthi menjadi sosok yang benar-benar sangat lemah waktu Ia kembali mengumpulkan kenangan yang sempat tertinggal jauh itu. Rapuh.

Kinanthi tergeletak di karpet, tak sadar bahwa dirinya telah tertidur semalaman di ruang tamu yang luasnya cukup untuk bermain bulu tangkis. Ia segera bangkit dan bersiap menuju kantornya. Ia tak boleh telat seperti kemarin. Ia harus lebih baik lagi dari kemarin. Harus!

"Anda datang terlambat lagi, Prof." Seru Zhaxi dari bilik ruangan miliknya saat Kinanthi melintas di depannya.
Kinanthi diam. Ia merasa sangat bersalah sudah tak profesional dalam pekerjaannya. Kita ini tim, seharusnya Ia bisa kompak seperti rekan yang lainnya.
"Mana rencana Novel barumu? Sudah Anda siapkan?" Tanya Zhaxi sinis.
"Belum."
"Apa? Hampir sudah waktunya penilaian dan Anda belum mengerjakannya, sama sekali?"
"Iya." Jawab Kinanthi pasrah.
"Ada apa dengan Anda, Prof?"
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi.
"Bukan berarti Anda mempunyai satu masalah, masalah di sini terikut rumit dengan personal Anda. Anda harus bersikap profesional, Prof. Kinanthi Hope"
Kinanthi menyeleweng keluar kantor, langkahnya sangat cepat. Ia mulai bosan mendengarkan ceramah Zhaxi yang berujung penyindiran singit yang dilakukannya.
"Mau kemana Anda, Prof?"
"Ada urusan yang saya lupakan." Kinanthi berjalan sangat terburu-buru hingga akhirnya Ia menabrak seseorang yang menurutnya pernah hidup di masa lalu. Perempuan berjilbab dengan tubuh sedikit ringkih. Perempuan yang dulu membuatnya merasa hidup. Perempuan yang mengajarinya banyak hal. Perempuan yang pertama kali mengajaknya ke Masjid dan beribadah di sana. Tetapi juga perempuan yang hanya sibuk dengan komunitasnya. Perempuan yang juga meninggalkannya sendirian di rumah bersama seorang nenek renta. Perempuan yang kini ada di depannya sekarang dan berdiri dengan sangat lemah.
"Ibu..." Giginya gemeretak mengucapkan kata itu. Perempuan ini, yang menurutnya telah membunuh Dadi karena semua keras kepalanya. Perempuan ini juga yang telah memantapkan hatinya untuk pergi dari rumah di Morgantown itu.
"Kinan..." Jawabnya lemas. Kinan langsung menyambar pemilik tubuh itu dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu dulu, bu..." Kata Kinan sedih.
"Ibu tinggal di mana sekarang? Bagaimana bisa Ibu sampai di sini sendirian?"
"Bukan masalah untuk ku Kinan, kamu pergi karena keras kepalanya diriku. Aku tinggal sendirian sekarang, di sebuah komplek perumahan diseberang sana. Aku kesini untuk mencari keberadaanmu.." Katanya terengap-engap.
"Mari, kita bicarakan di rumah, bu."
"Rumahmu, Kinan?"
"Iya." Jawab Kinan singkat.
"Aku tak menyangka kau akan sesukses ini, nak."
"Semua berkat negara ini, Bu. Berkat mereka yang menolongku. Dan juga berkat dirimu...serta Dadi." Ucap Kinan dingin.
"Aku banyak membaca bukumu, Kinan. Kamu sekarang benar-benar penulis yang hebat."
"Terimakasih."
"Sekarang kamu sangat cantik, Kinan." Kata ibu memuji.
"Bukankah memang begitu dari dulu?" Ia sedikit menunjukkan giginya kepada Ibu.
"Ya, dari dulu kamu memang anak yang cantik, manis, kuat dan sangat cerdas."
"Berhentilah memujiku, bu. Aku hampir mengeluarkan trashbag ku untuk memuntahkan segala isi yang ada di perutku sekarang."
"Aku takkan berhenti memujimu, Nak."
"Dengan siapa Ibu menikah setelah aku pergi dari rumah?"
"Apa kau harus tau itu, Kinan?"
"Ya. Mungkin." Jawabnya singkat.
"Aku menikahi seorang pengkhianat Agama. Pelaknat Tuhan. Seorang Atheis yang benar-benar sama sekali tak mau menganggap adanya Tuhan."
"Benarkah begitu, bu?" Tanya Kinan tak percaya.
"Apa aku harus berbohong padamu, Kinan?"
"Ku rasa tidak."
"Baguslah jika kamu mengerti."
"Apa yang ada di otakmu untuk menikahinya, Bu? Bahkan lelaki itu bukan lelaki yang sama sekali Ibu inginkan."
"Dia adalah anak dari teman kakekmu, Kinan. Perjodohan ini sangat gila."
"Kau bisa menolaknya, bukan? Mengapa harus menerima?"
"Keluarganya akan mencariku kemana pun aku pergi, dan akan tetap memaksaku untuk menikahinya. Kau tahu? Dia seorang pemabuk, penjudi, dia suka memakai wanita manapun yang dia inginkan untuk memuaskan nafsunya. Dia sangat biadab, Kinan. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri."
"Kemana dirimu yang dulu, bu?"
"Maksudmu?"
"Dirimu yang menurut ku sangat kuat untuk melawan apapun."
"Hilang, setelah aku benar-benar kehilangan semuanya."
"Lalu, dimana lelaki itu sekarang?" Tanyaku singit.
"Tidak ada. Dia sudah meninggal. Terkena penyakit."
"Penyakit?" Kinan menyipitkan matanya.
"HIV/AIDS. Tak lama setelah kita menikah, Ia meninggal."
"Lalu ibu?"
"Kau pasti tahu, Kinan. Kau seorang doktor yang ahli dalam segala hal. Ku rasa kau amat sangat bodoh jika aku tetap memberitahunya kepadamu."