~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Selesai Shubuh, Ia menaiki pesawat menuju Amerika. Sepanjang perjalanan, Ia hanya memikirkan Ajuj. Ajuj yang kini berhasil mengambil lagi dirinya. Ntah kenapa, seketika Ia merasa dirinya kembali seperti Kinanthi kecil. Lemah dan Penakut.
Kinanthi diam. Hanya menikmati pemandangan awan yang ada disekelilingnya. Ia juga sempat tertidur, tapi berapa menit kemudian terbangun lagi.
Pukul 05.00 sore tepatnya, Ia akhirnya sampai di rumah kayu pinggir danau miliknya. Tubuhnya terasa gemeretak akibat perjalanan panjang tadi.
Kringggggg....
Ponselnya berdering. Zhaxi (lagi).
"Hallo, Zhaxi. Saya baru sampai. Tolong hubungi saya lagi besok. Saya ingin istirahat. Sorry, See you.." Kinanthi memutuskan sambungan tanpa mendengar suara Zhaxi diseberang sana.
Kinanthi membersihkan tubuhnya, selesai itu Ia langsung terkapar ditempat tidur bernuansa polkadot itu.
"Jam berapa ini?!" Pekik Kinanthi.
Ia terlambat bangun untuk melakukan kegiatan yang seharusnya tak Ia tinggalkan lagi. Akibat perjalanan kemarin, Ia terasa sangat lelah. Padahal biasanya Ia tak seperti ini. Mungkin karena urusannya di Indonesia merawat orang sakit. Jadi, Ia merasa sedikit kelelahan.
"Saya tunggu di kantor pukul 09.00 pagi." begitu isi pesan singkat yang di kirim oleh Zhaxi.
"Oh, ada apa lagi ini?" Gerutu Kinanthi. Ia berjalan gontai ke kamar mandi. Segera membersihkan tubuhnya daan merapihkan penampilannya untuk pergi ke kantor yang baru saja di bangun oleh Zhaxi itu.
"Morning...." Sapa Kinanthi.
"Selamat Pagi juga, Prof. Kinanti Hope." Jawab Zhaxi.
Kinanti mengernyitkan dahinya, sejujurnya Ia bingung dengan sikap Zhaxi. Tak biasanya Ia memanggil dirinya seperti itu.
"Ada apa, Zhaxi? Kelihatannya Anda tampak punya masalah?" Tanya Kinanthi
"Ya, memang." Jawabnya singkat.
"Oke, bila Anda butuh saya, saya berada di ruangan." Ia langsung ngeloyor tanpa memperdulikan Zhaxi.
Kinanthi memang orang yang tak terlalu mau ikut campur urusan pribadi orang. Tak seperti orang-orang disekitarnya yang selalu mencampuri kehidupannya, terutama Zhaxi. Tapi jika bukan karena orang lain mencampuri masalah hidupnya, Ia takkan selamat dari majikan Arab yang biadab itu.
Zhaxi menghela. Usahanya bersikap dingin malah di balas cuek dengan Kinanthi. Ini seperti senjata makan tuan, gumamnya.
Zhaxi berdiri. Ia melangkah menuju ruang kerja Prof. Kinanthi Hope. Langkahnya terhenti ketika Ia telah sampai di depan ruangannya. Tak sampai mengetuk, ternyata Kinanthi lebih dahulu keluar ruangan.
"Hei, Zhaxi. Ada apa?" Tanya Kinanthi sambil tersenyum.
"Ada yang harus saya bicarakan dengan Anda."
"Baiklah, silahkan masuk." Kinanthi mempersilahkan.
"Well.... ada apa Zhaxi?"
"Apa kabar Prof. Kinanthi Hope?"
"Oh, Anda memanggil saya dengan utuh. Ada apa sebenarnya dengan Anda Zhaxi?"
Zhaxi menggerutu sendiri. Bergumam. Otaknya kembali berputar mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Masalah beberapa bulan lalu...."
"Oh, Sorry about it, Zhaxi. Saya harus mendadak pergi ke Indonesia." Potong Kinanthi dengan cepat. Mungkin, Kinanthi lupa apa masalah inti yang sebenarnya.
"Ajuj lagi?"
"Ya, seperti yang Anda tahu. Usaha saya selama ini tak sia-sia Zhaxi. Tuhan mengabulkan apa yang saya minta."
"Ajuj sadar."
"Ya, seperti apa yang Anda bicarakan barusan." Kinanthi tersenyum lebar.
Zhaxi diam. Tak berbicara sedikit pun sampai-sampai Kinanthi yang menegurnya.
"Well, Zhaxi. Jadi ada masalah apa selama berbulan-bulan Saya tak disini?"
"Tidak. Semua berjalan lancar. Novel yang Anda luncurkan beberapa bulan lalu habis terjual. Banyak yang tertarik dengan Novel karya Anda. Saya harap, Anda bisa berkarya lebih baik lagi, Prof."
"Hayolah, Zhaxi. Jangan memanggil Saya seperti itu. Anda terlihat asing bagi saya. seperti kita tak pernah kenal sebelumnya."
"Maaf."
"Lalu ada apa lagi?" Tanya Kinanthi kemudian.
"Not yet. Saya rasa cukup. Selamat atas kebahagiaan Anda dengannya. Semoga kalian selalu diberkahi Tuhan." Zhaxi berdiri dan keluar dari ruangan Kinanthi.
Kinanthi hanya terpaku mendengar Zhaxi berbicara seperti itu. Ia teringat satu hal sebelum Ia mendapat kabar bahwa Ajuj sadar. Dia melamar Kinanthi. Sontak Kinanthi merasa menyesal. Menyakiti hati Zhaxi, membiarkannya begitu saja, menolaknya mentah-mentah hanya demi Ajuj yang waktu itu tak sadarkan diri. Tapi itu dulu, bukan? Sekarang Ajuj telah sadar. Dan kebahagiaannya telah kembali.
"Zhaxi?" Tegur Kinanthi memecahkan keheningan. Siang ini Zhaxi dan Kinanthi makan siang bersama. Sepanjang perjalanan, tak ada satupun dari kami memulai percakapan. Sampai kami tiba di sebuah restoran yang tak begitu mewah.
"Iya, Prof. Kinan?" Balas Zhaxi singkat.
"Tolong berhenti memanggil saya seperti itu. Kita sudah lama kenal, tak biasanya Anda memanggil saya seperti itu Zhaxi."
"Maaf. Ada apa Kinan?"
"Baiklah..." Kinanthi menghela.
"Saya minta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu sebelum saya pulang ke Indonesia."
"Tak apa. Saya tahu Ajuj lebih dari segalanya untuk Anda. Tak usah dipermasalahkan."
"Baiklah, saya harap kita bisa normal seperti biasanya."
"Ya. Dan semoga Anda cepat dikaruniai balita lucu, Kinan."
Kinanthi terbelalak. Ia terkejut Zhaxi bisa memikirkan hal semacam itu dan sejauh itu. Bahkan dirinya pun sama sekali belum memikirkan rencana itu.
"Iya, Kang Ajuj?" Jawabnya.
"Bantu aku untuk keluar rumah ya, Has."
"Iya, Kang. Arep pinarak neng ngendi, Kang? Mau pergi kemana Kang?"
"Ndak, aku hanya ingin menghirup udara segar di depan."
"Yu Kinanthi tiap hari seperti ini ya, Kang?" Tanya Hasto.
"Iya, Has. Yowes, sampean adus ndisik. Yasudah, kamu mandi dulu. Wes awan, selak telat sekolae. Sudah siang, keburu telat sekolahnya."
"Iya, Kang. Nanti kalo perlu apa-apa panggil aku yo, Kang."
"Masa ya kamu lagi mandi aku panggil-panggil tho, Has...Has..." tawa Ajuj meledek.
"Ya ndak begitu juga Kang."
Hasto berbalik meninggalkan Ajuj di teras. Ia bergegas ke kamar mandi untuk merapikan diri dan berangkat sekolah
"Hati-hati, Has. Gek muleh nek wes rampung sekolae. Langsung pulang kalau sudah selesai sekolahnya. Nanti temani aku jalan-jalan ke alun-alun yo..." Teriak Ajuj dari teras.
"Yo, Kang! Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
~
"Apa maksud Anda, Zhaxi?" Tanya Kinanthi memekik.
"Bukankah kalian sudah saling mencintai? Saya rasa Anda sudah melangsungkan ritual di Indonesia."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Zhaxi. Anda sudah dewasa."
"Dan Anda jauh lebih pintar untuk memahami hal ini, Kinan." Balas Zhaxi.
Ntah apa yang barusan Zhaxi ucapkan itu. Ia benar-benar membuatnya merasa tak nyaman lagi berada di dekatnya.
"Mari kita kembali ke kantor."
"Baik, Prof."
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi. Memasang muka serius. Tak ada yang ingin Kinanthi banggakan dari gelar yang berada di depan namanya itu. Pada dasarnya, hidupnya sama. Masih dengan keluarga yang sama. Walau nasibnya sudah banyak yang berubah.
"Zhaxi, saya akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Terimakasih atas jamuan makan siangnya. Semoga harimu menyenangkan Zhaxi." Ucap Kinanthi.
"Sama-sama Kinan."
Kinanthi langsung pergi meninggalkan kantor itu tanpa memasuki ruangannya terlebih dahulu. Ia, sangat sangat bosan dengan hari inidan ingin menghabiskan waktu hanya dengan berdiam diri dirumahnya. Ya, dirumah pinggir danau itu.
Malam datang, dan Ia terperangkap dalam suasana dingin yang sangat hebat. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, tetapi tetap saja yang dirasakannya sekarang hanya dingin. Tiba-tiba Ia teringat seseorang yang berada di Indonesia, Ajuj. Apa kabar kiranya dia hari ini? Gumam Kinanthi. Ia mengambil ponsel di atas tempat tidurnya, dan menekan nomor dengan penuh emosi. Tunggu, untuk apa aku meneleponnya? Pikirannya berbicara sekarang. Kinanthi mengurungkan niatnya untuk menelepon Ajuj. Dia bangkit, menuju ruang tengah dimana perapian itu berada. Di sana, rasanya seluruh tubuhnya bisa benar-benar hangat.
Hangat seperti dekapan Ajuj semasa kami kecil, dulu. Kinanthi diam. Pikirannya melayang kesana kemari, memutar kembali memori-memori yang bahkan selama dua puluh tahun ini tak sanggup Ia usir. Tiba-tiba sudut matanya terasa basah. Dan cairan itu semakin deras membasahi pipinya. Aku kangen kamu, Juj. Ungkapnya dalam hati. Ntah, Kinanthi menjadi sosok yang benar-benar sangat lemah waktu Ia kembali mengumpulkan kenangan yang sempat tertinggal jauh itu. Rapuh.
Kinanthi tergeletak di karpet, tak sadar bahwa dirinya telah tertidur semalaman di ruang tamu yang luasnya cukup untuk bermain bulu tangkis. Ia segera bangkit dan bersiap menuju kantornya. Ia tak boleh telat seperti kemarin. Ia harus lebih baik lagi dari kemarin. Harus!
"Anda datang terlambat lagi, Prof." Seru Zhaxi dari bilik ruangan miliknya saat Kinanthi melintas di depannya.
Kinanthi diam. Ia merasa sangat bersalah sudah tak profesional dalam pekerjaannya. Kita ini tim, seharusnya Ia bisa kompak seperti rekan yang lainnya.
"Mana rencana Novel barumu? Sudah Anda siapkan?" Tanya Zhaxi sinis.
"Belum."
"Apa? Hampir sudah waktunya penilaian dan Anda belum mengerjakannya, sama sekali?"
"Iya." Jawab Kinanthi pasrah.
"Ada apa dengan Anda, Prof?"
Kinanthi melirik tajam ke arah Zhaxi.
"Bukan berarti Anda mempunyai satu masalah, masalah di sini terikut rumit dengan personal Anda. Anda harus bersikap profesional, Prof. Kinanthi Hope"
Kinanthi menyeleweng keluar kantor, langkahnya sangat cepat. Ia mulai bosan mendengarkan ceramah Zhaxi yang berujung penyindiran singit yang dilakukannya.
"Mau kemana Anda, Prof?"
"Ada urusan yang saya lupakan." Kinanthi berjalan sangat terburu-buru hingga akhirnya Ia menabrak seseorang yang menurutnya pernah hidup di masa lalu. Perempuan berjilbab dengan tubuh sedikit ringkih. Perempuan yang dulu membuatnya merasa hidup. Perempuan yang mengajarinya banyak hal. Perempuan yang pertama kali mengajaknya ke Masjid dan beribadah di sana. Tetapi juga perempuan yang hanya sibuk dengan komunitasnya. Perempuan yang juga meninggalkannya sendirian di rumah bersama seorang nenek renta. Perempuan yang kini ada di depannya sekarang dan berdiri dengan sangat lemah.
"Ibu..." Giginya gemeretak mengucapkan kata itu. Perempuan ini, yang menurutnya telah membunuh Dadi karena semua keras kepalanya. Perempuan ini juga yang telah memantapkan hatinya untuk pergi dari rumah di Morgantown itu.
"Kinan..." Jawabnya lemas. Kinan langsung menyambar pemilik tubuh itu dan mendekapnya erat.
"Maafkan aku telah meninggalkanmu dulu, bu..." Kata Kinan sedih.
"Ibu tinggal di mana sekarang? Bagaimana bisa Ibu sampai di sini sendirian?"
"Bukan masalah untuk ku Kinan, kamu pergi karena keras kepalanya diriku. Aku tinggal sendirian sekarang, di sebuah komplek perumahan diseberang sana. Aku kesini untuk mencari keberadaanmu.." Katanya terengap-engap.
"Mari, kita bicarakan di rumah, bu."
"Rumahmu, Kinan?"
"Iya." Jawab Kinan singkat.
"Aku tak menyangka kau akan sesukses ini, nak."
"Semua berkat negara ini, Bu. Berkat mereka yang menolongku. Dan juga berkat dirimu...serta Dadi." Ucap Kinan dingin.
"Aku banyak membaca bukumu, Kinan. Kamu sekarang benar-benar penulis yang hebat."
"Terimakasih."
"Sekarang kamu sangat cantik, Kinan." Kata ibu memuji.
"Bukankah memang begitu dari dulu?" Ia sedikit menunjukkan giginya kepada Ibu.
"Ya, dari dulu kamu memang anak yang cantik, manis, kuat dan sangat cerdas."
"Berhentilah memujiku, bu. Aku hampir mengeluarkan trashbag ku untuk memuntahkan segala isi yang ada di perutku sekarang."
"Aku takkan berhenti memujimu, Nak."
"Dengan siapa Ibu menikah setelah aku pergi dari rumah?"
"Apa kau harus tau itu, Kinan?"
"Ya. Mungkin." Jawabnya singkat.
"Aku menikahi seorang pengkhianat Agama. Pelaknat Tuhan. Seorang Atheis yang benar-benar sama sekali tak mau menganggap adanya Tuhan."
"Benarkah begitu, bu?" Tanya Kinan tak percaya.
"Apa aku harus berbohong padamu, Kinan?"
"Ku rasa tidak."
"Baguslah jika kamu mengerti."
"Apa yang ada di otakmu untuk menikahinya, Bu? Bahkan lelaki itu bukan lelaki yang sama sekali Ibu inginkan."
"Dia adalah anak dari teman kakekmu, Kinan. Perjodohan ini sangat gila."
"Kau bisa menolaknya, bukan? Mengapa harus menerima?"
"Keluarganya akan mencariku kemana pun aku pergi, dan akan tetap memaksaku untuk menikahinya. Kau tahu? Dia seorang pemabuk, penjudi, dia suka memakai wanita manapun yang dia inginkan untuk memuaskan nafsunya. Dia sangat biadab, Kinan. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri."
"Kemana dirimu yang dulu, bu?"
"Maksudmu?"
"Dirimu yang menurut ku sangat kuat untuk melawan apapun."
"Hilang, setelah aku benar-benar kehilangan semuanya."
"Lalu, dimana lelaki itu sekarang?" Tanyaku singit.
"Tidak ada. Dia sudah meninggal. Terkena penyakit."
"Penyakit?" Kinan menyipitkan matanya.
"HIV/AIDS. Tak lama setelah kita menikah, Ia meninggal."
"Lalu ibu?"
"Kau pasti tahu, Kinan. Kau seorang doktor yang ahli dalam segala hal. Ku rasa kau amat sangat bodoh jika aku tetap memberitahunya kepadamu."

