Sabtu, 26 April 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

I Have to Move On!

Hallo!
Bingung nih sebenarnya harus bicara apa di awal pembukaan.
Rasanya, ini baru tulisan pertama yang di niatin untuk memotivasi orang lain. hehehe
Maklum, selama ini isinya galau semua.
Awalnya saya ragu untuk men-share tulisan ini disini. karena melihat pribadi saya yang "mudah" galau, saya jadi ngerasa gak pantes buat nulis tulisan kaya begini. Tapi, saya tidak mungkin terus menerus berkutik di lubang yang sama dengan kegalauan yang sama pula.

Saya terbilang salah satu golongan dari Hawa yang gampang banget galau. Liat diri kita gak bisa jawab pertanyaan dari dosen, itu sehabis pulang kuliah langsung kelimpungan di kamar. Apalagi kalau berurusan dengan yang namanya "Cinta".

Siapa sih si Cinta itu? Saya hampir gak pernah bisa untuk ngelawannya. Gak pernah bisa (titik)!

Fact yang lebih mengejutkan lagi, sampai detik ini pun saya masih menggalau karena mantan saya yang tinggalin saya 6 bulan lalu tanpa penjelasan yang pasti.
Itu hampir membuat saya depresi sepanjang hari, apalagi waktu saya tak ada kegiatan sedikitpun. itu sagat menyiksaaaaa!!!!

Untungnya, saat itu saya disibukkan dengan persiapan masuk kuliah perdana saya. Jadi, saya ngga galau-galau amet karena banyak yang mengalihkan perhatian saya. Hahaha, Syukron Alhamdulillah...

Bulan pertama sampai bulan ketiga pasca saya putus, saya masih kelimpungan sana sini saat keadaan kuliah libur. Bawaannya marah, pengin nangis mulu. Sementara yang digituin belum tentu engeh. Saya memutuskan untuk membuka mata, telinga dan hati saya. Banyak hal yang harus saya kerjakan, dan banyak orang yang membutuhkan saya. Dan saya tidak mungkin akan terus menerus seperti ini.
Anda tahu apa yang saya lakukan untuk sedikit membuang rasa galau saya? Meyibukkan diri.

Dikampus, saya aktif mengikuti organisasi mahasiswa. Sebut saja UKM, dan itu cukup lumayan membantu. Jika ada dirumah, biasanya saya sibuk ngerjain tugas, atau paling tidak ya menulis atau mendengarkan musik. Intinya pikiran jangan sampai kosong.
Sebisa mungkin itu dilakukan secara bertahap. Pokoknya menyibukkan diri sesibuk mungkin. Dia bisa dengan mudahnya, kenapa kita nggak?
Kalau toh kita masih sayang, coba perlahan lepaskan dia dan biarkan dia menikmati dunianya.

orang-orang selalu bilang :
"kalau jodoh, toh gak akan kemana"

dan

"merpati terbaik adalah merpati yang akan selalu pulang ketika kita tak ragu melepasnya."

Saya, termasuk orang yang sedang mempercayai itu. Buat apa galau? mersak rencana perjalanan hidup kita. Gagal di cinta bukan berarti semuanya harus ikut gagal, termasuk pendidikan kita pula.

Satu hal yang sampai saat ini masih saya sesalkan dalam pendidikan saya adalah mendapat nilai C dalam mata kuliah Pengantar Akuntansi, dan itu akibat dari saya galau!

IP saya memang di atas 3.0, tapi saya merasa sangat malu dengan Nilai Akhir yang tidak maksimal itu.
Dari situ, saya memutuskan untuk jarang berkutik dengan jejaring sosial, televisi, handphone ataupun gadget lainnya. Saya pakai sekiranya saya memang membutuhkan. Karena jujur, awal dari kegalauan saya semuanya dari sana.
Satu lagi yang saya lakukan waktu saya mulai merasa galau. Melihat tweets yang ditulis oleh Pak Mario Teguh. Kalian bisa buka linknya disini.

Facebook : http://facebook.marioteguh.asia

Twitter : http://twitter.com/MTLovenHoney

Ini salah satu status yang saya sukai :

"Memang akan ada urusan yang tidak lancar dan hubungan yang tidak mulus, tapi tidak ada apapun yang tidak akan membaik dengan kesabaran dan kasih sayang."

Intinya kita harus bersabar dalam apapun yang membuat kita galau. Tuhan tak akan memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan umat-Nya. Berdo'alah, dekatkan dirimu pada Tuhan, kelak semua penatian kita akan terjawab dengan indah.

"Hati yang dekat dengan Tuhan tidak akan kehilangan harapan."

Begitu kata Pak Mario Teguh. Dan saya percaya. Saya mencoba sabar dan itu indah, hanya damai yang bisa dirasakan dalam hati. Apalagi jika kita mau mendekat kepada-Nya.

Terakhir, percayalah pada mimpi da harapanmu. Mungkin sekarang kita berfikir bahwa semuanya akan sia-sia. Tapi bagi saya, "Dreams for life and live for dreaming".

Takkan ada yang sia-sia jika kita mau berusaha dengan keras.
Ini kata-kata terakhir agar lebih memastikan dari Pak Mario Teguh.

"Anak muda yang berfokus pada studi dan pekerjaannya, akan lebih sukse dalam ekonomi dan cintanya"

dan

"Anak muda yang sibuk mencari cinta, justru sering down dan galau tentang cinta yang buruk, saat anak muda yang lain sukses."

satu lagi,

"Masa depan anak-anak 'sekolah' itu masih panjang, pilihan mereka masih sangat luas, jadi wajar jika pacaran sulit untuk setia."

hahaha, harap maklum yaa.
selamat mencoba :))

Love,
MF

Jumat, 25 April 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Saya dan Kamu

Desember akhir tahun lalu tepatnya saya dan kamu kenal. Berkumpul di satu ruang bersama teman yang lainnya. Saling melemparkan senyum satu sama lain. Kamu duduk di samping saya saat rapat pradiklat berlangsung. Dan waktu itu saya belum benar-benar mengenal kamu. Tak ada sedikitpun sapa antara saya dan kamu. Dingin. Sedingin hati yang saya punya waktu itu. Kami berkenalan satu sama lain. Antara saya dan kamu, saya dan teman-teman, juga kamu dan teman-teman. Rapat berlangsung sedemikian rapih. Hingga senior memutuskan nama-nama kelompok untuk pradiklat nanti. 
Saya dan kamu ditempatkan dalam satu kelompok yang sama, juga dengan beberapa teman lainnya. Waktu itu saya masih sangat acuh, tak mau tau siapa kamu dan bagaimana kamu, tetapi saya tetap memperhatikan kamu. mungkin karena kita baru kenal.
Pradiklat semakin dekat, dan sama sekali belum ada yang membuat yel-yel untuk kelompok. Pasrah, lalu teman-teman memutuskan untuk berembuk membicarakan hal tersebut. Kamu terlihat mengikuti saja. Disaat lain sewaktu senior memerintahkan untuk memperagakan yel-yel, saya lihat kamu, diam-diam saya sering memperhatikan kamu. Ternyata kamu asyik. Foto-foto kelompok pun berlangsung begitu saja. Terlihat sangat akrab antara saya, kamu, juga teman-teman. Nyaman.
Hari H-pun tiba. Kamu menjadi ketua dalam kelompok kami. Dan kamu berdiri tepat 2 baris didepan saya. Lalu senior meminta kami untuk membuat satu lingkaran besar, dan kami bergandengan tangan satu sama lain. Kami bermain sebelum berangkat. Setelah lelah, kita beristirahat sejenak dan bersiap pergi untuk pradiklat. Kamu memimpin do'a sebelum kami berangkat dan itu berlangsung sangat hikmat.
Acara pradiklat pun berlangsung, sangat rapih. Selama tiga hari itu, saya dan kamu dalam satu kelompok, susah, senang bersama. Sampai saya ingat betul bagaimana kamu tertidur sangat lelap sementara saya dan teman lainnya merasakan dingin yang begitu hebat.
Sampai di ujung acara. Hari ketiga ini adalah hari dimana para senior menentukan yang lulus dan tidaknya para peserta. Kami gugup, sangat gugup sampai dikerjai oleh para senior dan tahu bahwa kami semua ternyata lulus dalam pradiklat. Air mata pun menetes dari sudut mata saya. Tak percaya, kami bisa melewati ini bersama-sama.
Pulang ke kampus. Kamu sempat menghilang setelah pradiklat rampung. Dimanakah kamu waktu itu? saya bingung. Saya terus mencari kamu dalam diam saya. Ada apa ini? Iakah saya mulai menyukai kamu?
Desember berlalu, dan Januari tiba. Ini 2014, dan saya masih terus mencari keberadaan kamu. Saya bingung. Benarkah saya menyukai kamu? hihi, mungkin ini salah, mana mungkin saya menyukai seorang pria yang sudah memiliki kekasih? sangat mustahil rasanya. Tapi hati ini berbicara, mengatakan bahwa ada yang berbeda di setiap pertemuan kita berlangsung. Dan saya tak merasa seperti perjumpaan kita pertama kali. Benar-benar tak merasakannya.
Waktu terus berjalan hingga Maret tiba. Kedekatan kita berlangsung begitu saja. Kamu yang sekarang saya panggil dengan sebutan "Pakde" benar-benar telah membuat hidup saya kembali seperti dulu. Pakde yang membuat saya menjadi pribadi yang semakin baik. Pakde yang..... hampir berhasil merebut hati saya sepenuhnya. Pakde yang telah memiliki kekasih, tetapi memperlakukan saya layaknya seorang kekasih. Miris sebenarnya, saya harus merasakan jatuh cinta di waktu yang salah lagi. Ini bisa dibilang seperti...hubungan tanpa status, mungkin?
Mengertikah, semua sikap yang kamu tunjukkan ke saya membuat teman-teman yang lain berfikir bahwa kita mempunyai "Special Relationship", padahal tidak. Tidak sama sekali.
Ingat rapat beberapa waktu lalu? Ingat semua obrolan iseng kita? Ingat hal-hal yang pernah saya dan kamu lakukan bersama? Itu membuat saya benar-benar merasa nyaman dan terus masuk ke keadaan seperti ini.
Ingat tanggal 5 April kemarin? hahaha. Kemarin itu adalah hal yang sangat gila yang pernah terjadi antara saya dan kamu. Kamu saling mengirim Voice Message ke pacarmu, sementara saya duduk disamping kamu dan hanya diam menyimak apa yang sedang kamu bicarakan. Kau tau? ada perasaan aneh yang pernah saya rasakan sebelumnya, dan ini terjadi antara saya dan kamu.
Ditengah panas yang benar-benar membakar, kamu tetap setia membawa saya dan teman-teman pergi ke TWA untuk survei tempat. Kamu tetap tersenyum ditengah kemacetan yang sebenarnya membuatmu stress. Kamu tetap memberikan hiburan-hiburan walau kadang itu terdengar garing. Dan itu membuat saya nyaman.
Kita terus meluncur melewati batas keluar tol dan terus mengikuti petunjuk menuju tempat tujuan pertama. Sampailah kita. Kamu memarkirkan mobilmu, dan membawakan tas saya. Disana, kamu masih bersedia menjadi 'Tukang Foto' kami di perjalanan yang panjang ini. Kamu terus berdiri disamping saya selama tutor memberi penjelasan, dan itu selalu. Tak lama kita disana, kita melanjutkan lagi perjalanan ke TWA Mangrove. Disini, kita menghabiskan waktu bersama hingga sore menjelang.
Kita naik ke sebuah menara untuk melihat sekitar. Sangat indah, apalagi saat kamu berdiri di dekat saya, hihihi. Kita berfoto lagi, saya dan kamu, saya dan teman-teman, begitupun antara saya, kamu dan juga teman-teman. Sebelum benar-benar pulang, kita sempat berkeliling TWA, kali ini kamu berjalan didepan saya, sedangkan saya dan teman-teman mengikuti dibelakang. Saya begitu memperhatikan kamu dengan penuh. Memperhatikan semua tingkahmu disepanjang jalan hingga membuat rasa lelah saya seakan hilang. "Kamu lucu" gumam saya dalam hati.
Kita duduk disebuah tempat singgah. Saya duduk disebelah teman-teman saya dan kamu duduk didepan saya. Tak lama, kamu beranjak dan duduk disamping saya. Kamu mengambil kucing yang berada dibawah tempat duduk dan meletakkannya ditengah-tengah antara saya dan kamu. Waktu hampir sore, dan kita mencari informasi untuk dilaporkan ke dosen pembimbing disebuah kantin.
Disana, pertama kali dengan lembutnya kamu menggenggam tangan saya layaknya seorang kekasih, sangat erat. Disana, pertama kali kamu merangkul saya dan berjalan beriringan.
Kita pulang, dalam perjalanan menuju rumah saya, kita berdua berbincang, sangat hangat, dan itu hanya berdua karena teman-teman saya tertidur untuk beberapa saat. Tak perlu waktu lama untuk menuju rumah saya, pukul 18.00 kiranya kami sampai dirumah. saya perkenalkan kamu ke ibu saya dan kamu mendapat kesan yang sangat baik dari beliau. selesai shalat maghrib, kami kembali beranjak untuk makan di sebuah warung angkringan didekat rumah saya. Diam-diam saya dan kamu saling mencuri pandangan, dan saya sering melemparkannya ke yang lain. Ini aneh... begitu lucu saat kita saling curi pandang tetapi seketika juga kita saling membuangnya. hahaha.
Selesai makan, kami sedikit berbincang dirumah, lalu kamu dan teman-teman pulang. Menurut saya, hari ini sangat mengagumkan. Sangat sekali...

Teruntukmu, Pakde...

Terimakasih untuk waktu yang diberikan, seharian kemarin adalah waktu yang amat berkesan.
Semoga kita tetap seperti ini, tetap pada zona nyaman seperti ini, dengan panggilan "Pakde" dan "Ndok". Tetap menjadi saya dan kamu, dan tidak berubah lagi. Biar ini berjalan dan biar waktu yang menjawab semuanya...

Love,
MF