Minggu, 22 September 2013 | By: Mardhiah Fitriyani

Bumi Cinta (Part 17)

Bumi Cinta Part.17 Harapan
Karya : Habiburrahman El Shirazy

Yelena dan Bibi Margareta sedang makan pagi ketika Ayyas tiba. Yelena nampak senang dengan kedatangan Ayyas, demikian juga Bibi Margareta.
"Kau sudah makan, malcik?" Tanya Bibi Margareta yang kini sudah berpakaian sangat rapi dan bersih. Siapa pun yang melihatnya tidak akan
mengira kalau dia sebelumnya adalah seorang gelandangan berpakaian kumal tanpa rumah tinggal tetap di Moskwa.
"Hari ini saya puasa, Bibi." Jawab Ayyas.
"O puji Tuhan. Kau orang yang taat beragama."
"Bagaimana keadaanmu Yelena?" Sapa Ayyas pada Yelena yang sedang menikmati sup Borsh yang masih mengepulkan uapnya.
"Dokter Tatiana menjelaskan besok sore saya bisa pulang." Jawab Yelena dengan mata berbinar.
"Syukurlah."
"Saya ingin Bibi Margareta ini terus menemaniku. Dia akan aku ajak tinggal di apartemen. Satu kamar denganku. Bagaimana menurutmu? Apa kamu keberatan kalau Bibi Margareta masuk kamar kita?"
"Sama sekali tidak. Justru itu sangat baik untukmu dan untuknya."
"Aku pikir juga begitu."
"Bahkan kalau kau mau. Kau bisa ambil kamar saya untuk Bibi Margareta."
"Maksudmu!?"
"Beberapa hari lagi saya mau pindah. Ada orang Indonesia, seorang guru di Sekolah Indonesia Moskwa yang memintaku untuk tinggal bersamanya.
Kamarku bisa dipakai Bibi Margareta, sehingga kau tetap nyaman."
"Kenapa kau akan pergi secepat ini? Berilah aku kesempatan membalas kebaikanmu." Kata Yelena agak sedih.
"Aku sudah bilang bahwa aku merasa tidak berbuat apa-apa kepadamu, selain aku hanya melakukan sebuah kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan kepadaku."
"Jadi dasarmu adalah perintah Tuhan?"
"Ya. Di dalam Islam diajarkan, bahwa menyelamatkan satu nyawa anak manusia itu sama saja dengan menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia. Allahlah sendiri yang mengatakan hal itu di dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al- Quran."
Bibi Margareta menyela, "Ajaran yang sangat indah."
Ayyas tidak lama menjenguk Yelena, yang penting ia sudah tahu keadaannya. Tak lebih dari sepuluh menit Ayyas duduk di kamar VIP tempat Yelena dirawat. Ketika Ayyas pamit Bibi Margareta nampak masih menginginkan Ayyas duduk dan berbincang-bincang di situ. Begitu juga Yelena.
"Maaf, saya harus ke kampus sekarang. Masih banyak hal yang belum saya selesaikan. Kalau saya banyak menunda-nunda pekerjaan saya, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya dapatkan." Ayyas tetap bersikukuh harus pergi.
"Baikah kalau begitu. Selamat jalan Bogatir! Tuhan menyertaimu!" Kata Bibi Margareta penuh pujian dan doa.
"Ya selamat jalan, Bogatir!'"Yelena ikut menyanjung Ayyas seperti Bibi Margareta.
Ayyas yang disanjung malah menghentikan langkah. Sebab ia tidak tahu apa maksud mereka berdua menyebutnya bogatir.
"Maaf, saya tidak paham. Apa itu Bogatir? Apa makna dan maksudnya?" Tanya Ayyas.
"Jelaskanlah Yelena!" Pinta Bibi Margareta.
"Bogatir adalah sebutan untuk kesatria zaman dulu yang sangat masyhur dalam folklor Rusia dan keperkasaannya menjadi pujaan orang Rusia.
Saya sendiri sekarang jarang mendengar sanjungan model ini. Tapi generasi Bibi ini menggunakannya secara luas. Dan itu sanjungan yang luar biasa. Ketika Bibi menyanjungmu begitu, saya rasa tepat." Jelas Yelena dengan wajah lebih cerah.
"Baik terima kasih atas pujiannya. Da svidaniya! (Sampai jumpa)” Kata Ayyas sambil melambaikan tangan dan bergegas pergi.
"Zhelayu uspekha!" (Semoga sukses) Sahut Yelena dengan senyum mengembang.

***

Tidak ada tanda-tanda Doktor Anastasia Palazzo telah datang ketika Ayyas memasuki ruang Profesor Tomskii. Ruang itu tidak dikunci tapi pastilah Bibi Parlova yang membukanya.
Jika Doktor Anastasia Palazzo telah tiba, biasanya palto tergantung di salah satu sudut ruangan itu. Ayyas langsung mengambil buku tentang sejarah
hubungan diplomasi pemerintah Uni Soviet dengan Iran.
Satu bulan setengah pertama di Moskwa memang ia jadwalkan untuk membaca literature sebanyak-banyaknya. Sesekali ia mencatat hal-hal
penting dalam catatan kecil. Ia juga pasti akan melakukan banyak wawancara dengan orang-orang yang pernah hidup pada zaman komunis Uni Soviet, utamanya zaman Lenin dan Stalin, jika masih ada sebagai saksi sejarah. Atau
orang yang benar-benar tahu persis kondisi social pada masa itu. Imam Hasan Sadulayev berjanji akan banyak membantu.
Sampai pukul setengah dua siang Doktor Anastasia Palazzo belum juga datang. Ayyas sama sekali tidak menghiraukannya. Terkadang ia malah merasa lebih senang jika Doktor Anastasia tidak datang menemuinya sehingga ia bisa lebih konsentrasi dan lebih banyak membaca.
Ayyas melihat jadwal waktu shalatnya. Hari ini Zuhur datang pukul 12.50, lalu Ashar pukul 14.31, Maghrib pukul 16.41, dan Isya akan tiba pada pukul 18.00. Berarti sudah tiba waktu shalat Zuhur. Ayyas tanpa ragu mengambil air wudhu lalu berdiri tegak takbiratul ihram dan hanyut dalam kenikmatan berdialog dengan Tuhan Yang Maha Pencipta.
Doktor Anastasia Palazzo telah duduk di sofa ketika Ayyas selesai shalat.
"Sebenarnya aku sudah sampai sejak pagi tadi. Begitu sampai aku dikontak Profesor Lyudmila Nozdryova, untuk mendampinginya menemui tamunya, orang penting dari Yunani. Tamunya itu tidak bisa bahasa Rusia, dan bahasa
Inggrisnya kurang lancar. Aku terpaksa yang menjadi penerjemah, sebab tamu itu bicara dalam bahasa Yunani." Kata Doktor Anastasia pada Ayyas.
"Berarti semuanya sukses." Sahut Ayyas sambil bangkit dari duduknya di atas lantai.
"Puji Tuhan. Tapi masih ada satu masalah yang harus aku selesaikan. Di Fakultas Kedokteran akan ada seminar tentang ketuhanan. Sampai kemarin soal pembicara tidak ada masalah. Dari kalangan Islam kami minta seorang intelektual muda dari Kazan University. Sayangnya tadi pagi ada telpon dari Kazan, dia tidak bisa karena dengan sangat mendadak harus terbang ke Timur Tengah menemani kunjungan Mufti Rusia. Padahalseminar tinggal empat hari lagi."
"Saya ada kenalan seorang Imam lulusan Syiria kalau kau mau?"
"Boleh. Kau ada nomor kontaknya?" "Ada."
"Coba saya minta. Biar saya hubungi sekarangjuga. Namanya siapa?"
"Namanya Imam Hasan Sadulayev. Ini nomornya." Ayyas menyodorkan ponselnya yang menyala. Doktor Anastasia mencatat ke ponselnya lalu menghubunginya. Beberapa saat kemudian terjadilah pembicaraan antara Doktor Anastasia dengan Imam Hasan Sadulayev. Wajah Anastasia nampak kurang cerah.
"Bagaimana?" Tanya Ayyas.
"Dia tidak bisa. Dia sudah ada jadwal penting yang tidak bisa digeser. Atau..." Tiba-tiba wajah itu berbinar.
"Atau apa?"
"Kau saja yang jadi pembicara. Kau bisa. Bahasa Inggrismu bagus, bahasa Rusiamu juga lumayan. Dan kau sarjana dari Madinah. Yah, kau saja ya?"
"Jangan saya Doktor, yang lain saja kan masih banyak."
"Ini waktunya mendesak. Sudah, aku putuskan kau saja yang jadi pembicara menggantikan intelektual dari Kazan University itu. Kau ingat, empat hari lagi seminarnya di Fakultas Kedokteran. Aku juga jadi pembicara di seminar itu. Jadi nanti kau ke sini dulu, kita berangkat ke sana bersama. Kau bisa nulis makalah?"
"Dokter ini sangat mepet waktunya."

"Baik tidak apa. Kalau kau bisa membuat makalah akan lebih baik. Temanya, 'Tuhan Bagi Manusia di Era Modern."
"Baiklah."
"Spasiba balshoi. E, kau sudah makan siang?"
"Belum."
"Aku traktir makan siang di Yolki Palki mau?"
"Apa itu Yolki Palki?"
"Restoran di daerah Kropotkinskaya."
"Tidak, ah."
"Kenapa?"
"Letaknya jauh, akan banyak membuang waktu."
"Kita pakai mobil. Aku tahu jalan pintas."
"Maaf Doktor, saya tidak bisa. Saya ingin benar-benar menghemat waktu yang ada.' Ayyas mengucapkan kata-katanya dengan rasa percaya diri yang penuh dan tegas. Doktor Anastasia Palazzo sedikit kecewa mendengarnya. Tapi ia
segera menguasai dirinya dengan baik.
"Tak apa. Aku bisa memahami. Kalau begitu kita ke stobvaya seperti biasa?"
Ayyas hampir saya mengiyakan. Ia hamper lupa kalau dirinya sedang berpuasa.
"Maaf Doktor. Tidak juga ke stobvaya. Maaf, saya sedang puasa. Saya hampir lupa kalau saya hari ini berpuasa."
"Oh ya sudah tidak apa-apa. Kau puasa apa?"
"Puasa untuk menjaga kesucian diri."
"Menjaga kesucian diri bagaimana?"
"Dari godaan syahwat dan godaan setan."
"Jadi puasa itu jadi semacam benteng di dalam jiwa dari godaan syahwat dan perbuatan jahat begitu?"
"Kira-kira begitu. Apalagi saya masih muda. Pemuda normal yang belum menikah. Dan sekarang sering bertemu dengan perempuan Rusia yang Doktor tahu sendiri seperti apa perempuan muda Rusia. Kalau saya tidak membentengi diri dengan benteng yang kuat, iman saya bisa roboh, saya bisa melakukan dosa besar yang dilarang agama saya."
"Dosa besar itu apa misalnya?"
"Melakukan hubungan haram dengan lawan jenis, alias zina, misalnya."
"Jadi kau belum melakukan yang seperti itu sama sekali?"
"Saya berlindung kepada Allah dari zina. Semoga sampai akhir hayat Allah menjauhkan saya dari perbuatan dosa itu. Saya ingin menjaga kesucian diri saya. Kalau pun melakukan hubungan dengan lawan jenis, saya ingin yang berlandaskan kesucian, yaitu menikah. Dengan menikah saya ingin memuliakan istri saya, saya ingin setia padanya sampai akhir hayat. Saya
ingin menjaga kesuciannya. Saya berharap istri saya juga melakukan hal yang sama. Pernikahan itu menjadi hubungan saling mencintai dan mengasihi yang ditaburi rahmat Allah. Dari percintaan yang harmonis dan indah itu saya ingin lahir anak turun yang juga bersih, dan terjaga kesuciannya. Maka saya berusaha mati-matian menjaga kesucian saya, sebab saya ingin memiliki istri yang juga terjaga kesuciannya."
"Sampai sedetil itu, Islam mengaturnya?"
“Iya.”
"Berarti kau sudah memiliki calon?"
"Dulu pernah, sekarang tidak." "Maksudmu?"
"Dulu saya pernah melamar seorang gadis yang baik. Kami bertunangan. Kemudian suatu hari gadis itu membebaskan saya dari ikatan pertunangan. Jadi statusnya, saya ini tidak lagi bertunangan dengannya."
"Apa gadis itu kini sudah menikah?"
"Saya tidak tahu."
"Kau mencintainya?"
"Saya telah berjanji untuk hanya mencintai perempuan yang menjadi istri saya. Siapa pun dia. Kalau ternyata yang menjadi istri saya adalah gadis itu, maka dialah orang yang akan saya limpahi segenap cinta dan kasih yang saya miliki."
Hati Doktor Anastasia Palazzo bergetar mendengar ucapan Ayyas. Belum pernah ia mendengar kalimat yang sedemikian kesatria dari seorang pemuda mana pun sebelumnya. Tiba-tiba ia ingin menjadi seorang perempuan yang
mendapat kemuliaan cinta dari seorang lelaki yang begitu menjaga cintanya seperti Ayyas.
Tetapi apakah masuk akal kalau dia mengharapkan Ayyas sebagai orang yang akan melimpahinya dengan segenap cinta dan kasih yang murni itu? Bukankah ia berbeda keyakinan dengan Ayyas? Tapi entahlah, di dunia ini serba mungkin-mungkin saja. Ia berdoa dalam hati, suatu saat Ayyas bisa menaruh hati padanya.
Oo... tak hanya menaruh hati, tapi keyakinannya pun bisa sama dengannya. Akankah doa Anastasia dikabulkan Tuhan? Kita lihat saja nanti bagaimana
sang waktu merekam perjalanannya. Yang jelas, sampai saat ini Anastasia belum melihat tanda-tanda bahwa Ayyas menaruh hati padanya. Kalau Ayyas sangat menghormati dirinya dan sangat menjaga sikap kepadanya, ia telah
membuktikan dan merasakannya. Itu ia rasa karena posisi dia sebagai orang yang dimintai Profesor Tomskii untuk membimbingnya.
Beberapa kali ia mengajak Ayyas makan malam di rumahnya juga belum pernah dipenuhi.
Dan baru saja Ayyas menolak ajakannya untuk makan di Yolki Palki dengan alasan puasa. Itulah kesimpulan Doktor cantik nan cerdas, Anastasia Palazzo saat ini. Entah esok nanti. Melihat dan mengamati ketinggian pribadi
Ayyas, kini dalam hati Doktor Anastasia terpantik sebuah asa di dalam dada; kalau ada seorang pemuda Rusia yang memiliki pandangan tentang kesucian cinta seperti Ayyas, ia pasti siap melabuhkan segenap cintanya pada pemuda itu.
Sejak remaja ia telah berkenalan dengan banyak lelaki. Dan di matanya hampir semua lelaki yang ia kenal itu tidak bisa dikatakan sebagai lelaki yang setia. Budaya berganti-ganti pasangan telah melanda anak-anak muda Rusia saat ini. Yang ia cari bukan yang terbiasa gonta-ganti pasangan.
Ia mencari orang yang mau hidup dengan hanya saru pasangan, dan setia sampai mati. Persis seperti yang dikatakan Ayyas. Adakahpemuda Rusia yang seperti itu? Kalau ada, di manakah dia sekarang?
Sejauh ini, sudah banyak lelaki terpandang yang melamar Doktor Anastasia untuk dijadikan istri, tetapi belum ada satu pun yang ia terima, karena ia tahu mereka terbiasa gonta-ganti pasangan. Ia tahu jika telah menikah dengan salah satu di antara mereka, lelaki yang menikahinya itu pasti, ya, pasti masih akan tidur dengan banyak perempuan selain dirinya. Itu hal yang sangat
dibencinya. Itulah tabiat lelaki Rusia. Dan karena itulah kenapa ia menolak semua lelaki yang datang kepadanya.
Ia ingin lelaki yang setia padanya sampai tua, sampai ajal tiba. Maka wajarlah jika hatinya bergetar hebat ketika ia merasa mendapatkan konsep kesetiaan yang dahsyat itu dari mulut Ayyas. Kalau saja Ayyas tahu, bahwa saat ini, seluruh isi hati Doktor Anastasia dipenuhi pesona dirinya.
Ah, kalau saja Ayyas tahu...
"Setelah sekian hari kau tinggal di Moskwa, maaf apakah ada terlintas di pikiranmu bahwa kau akan memperistri perempuan Rusia?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Doktor Anastasia. Ia sendiri agak kaget kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja. Mengalir. Alami. Tanpa beban.
Tak hanya Doktor Anastasia yang kaget.
Rupa-rupanya Ayyas juga kaget mendengar pertanyaan itu. Namun ia segera menyembunyikan kekagetannya itu dalam palung hatinya dalam dalam.
Sungguh, sejak menginjakkan kaki di Moskwa, ia sama sekali tidak berpikir tentang jodoh. Yang ia pikirkan adalah bagaimana melakukan penelitian dengan baik dan secepat mungkin menyelesaikan tesisnya.
Adapun jodohnya, ia berharap tetaplah Ainal Muna, penulis muda sarat prestasi yang berwajah manis itu. Tetapi masalah jodoh sebenarnya sudah diatur Allah, Siapakah yang kelak akan jadi istrinya kalau ia berumur panjang, juga sebenarnya telah tercatat di Lauhul Mdhfudh. Maka ia merasa tidak perlu menanggapi pertanyaan Doktor Anastasia itu dengan sangat serius. Ia malah
menjawabnya dengan bercanda,
"Sebenarnya saya tidak pernah berpikiran menemukan jodoh saya di sini. Jodoh saya sudah diatur Tuhan. Kalau Tuhan menentukan jodoh saya ternyata adalah perempuan Rusia yang cerdas, setia dan menjaga kesucian, seperti Doktor Anastasia kenapa tidak? Hahaha!"
Jawaban Ayyas membuat merah wajah Doktor Anastasia. Ia merasa tersanjung. Namun, Doktor Anastasia bukanlah gadis remaja yang tidak menguasai dirinya. Ia langsung tersenyum dan berkata,
"Jadi kau menilai aku sebagai perempuan yang cerdas, setia dan menjaga kesucian?"
"Begini Doktor, di dalam kaidah hokum Islam, ada kaidah yang berbunyi al ashlu baqau ma kaana ala maa kaana. Maksudnya, hukum sesuatu itu pada pokoknya dilihat dari asalnya. Seorang gadis pada asalnya adalah cerdas, sebab ia adalah manusia yang diberi akal. Pada asalnya adalah setia, sebab setia adalah salah satu watak utama nurani manusia. Dan pasti pada asalnya
dia suci, sebab semua manusia pada asalnya lahir dalam keadaan suci. Ini konsep Islam. Mungkin berbeda kalau dalam konsepnya agama Nasrani
yang Doktor peluk. Menurut kaidah hokum Islam, selama kita tidak menemukan hal-hal yang merubah dari hukum asal, maka yang dipakai adalah hukum asalnya. Karena selama ini saya tidak melihat misalnya Doktor Anastasia berzina atau melakukan perbuatan cabul dan yang sejenisnya, ya saya anggap Doktor masih menjaga kesucian.
Kecuali kalau di kemudian hari ada fakta dan kenyataan yang lain, maka penilaian itu bisa berubah."
"Kau ternyata bisa lebih bijak dari Aristoteles. Alangkah bahagianya gadis yang kelak menjadi istrimu." Sanjung Doktor Anastasia tulus, tanpa pretensi.
"Siapa pun dia yang jadi istriku, semoga kelak aku bisa membahagiakannya, dan menggenggam tangannya erat-erat memasuki pintu surga, tempat paling indah untuk orang-orang yang memadu cinta semata-mata karena mencari ridha Allah Subhanahu Wa Taala."
"Semoga Ayyas," sahut Doktor Anastasia,
"Dan semoga yang kelak menjadi istrimu itu adalah aku, Anastasia Palazzo," lanjutnya dalam hati. Seuntai senyum terbersit dari bibir Doktor Anastasia. Senyum yang manis sekali, yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mencintai dengan hati. Sayang, Ayyas tak melihat senyum itu. Ia sedikit menundukkan wajahnya untuk menjaga pandangan.

***

Bumi Cinta (Part 37)

Bumi Cinta Part. 37 Kalimat Syahadat
Karya : Habiburrahman El Shirazy

Hari itu hari Jumat. Musim dingin masih bertahan. Salju sudah dua hari tidak turun, tetapi di mana-mana salju masih nampak membungkus apa saja. Masjid Prospek Mira penuh sesak oleh jamaah shalat Jumat. Nampak wajah-wajah dari pelbagai bangsa. Ada Rusia, Tatar, Kazakh, Kirgis, Turkmen, Chechnya, Azerbaijan, Kirgish, Melayu, dan Arab.

Sebelum khutbah Jumat dimulai, takmir masjid mengumumkan akan adanya seorang perempuan muda Rusia yang akan mengucapkan dua kalimat syahadat siang itu. Prosesi pengucapan kalimat syahadat akan dipimpin oleh Imam Hasan Sadulayev. Juga diumumkan setelah shalat Jumat akan ada prosesi akad nikah antara perempuan Rusia yang baru masuk Islam dengan seorang pemuda Muslim dari Indonesia. Jamaah diminta untuk tidak bubar dulu setelah shalat Jumat.

Kumandang takbir dan tahmid seketika membahana di dalam masjid setelah jamaah mendengar pengumuman itu.

Takmir masjid juga mengumumkan hal-hal penting lainnya. Setelah itu sang takmir mempersilakan perempuan muda Rusia bernama Yelena Aleksandrovna untuk maju ke barisan paling depan di bagian shaf perempuan.

Seorang perempuan muda bergerak maju dari barisan ketiga menuju barisan pertama di bagian perempuan. Kaum perempuan yang mengikuti shalat Jumat memang tidak terlalu banyak. Perempuan muda itu nampak anggun dibalut oleh pakaian serba putih, juga jilbab putih. Imam Hasan Sadulayev memberikan pidato singkat sebelum membimbing Yelena mengucapkan dua

kalimat syahadat.

Setelah pidato Imam Hasan Sadulayev menanyakan kepada Yelena, untuk meyakinkan bahwa dia masuk Islam bukan karena ada paksaan atau karena keadaan yang memaksanya masuk Islam.

Yelena menjawab bahwa dia masuk Islam sama sekali bukan dipaksa seseorang, bukan juga karena ada keadaan tertentu yang memaksanya masuk Islam. Ia masuk Islam sungguh-sungguh karena kesadaran dan keinsyafan, serta karena panggilan-jiwanya yang cenderung kepada Islam.

Mendengar jawaban Yelena, takbir dan tahmid kembali menggema di dalam masjid.

Di bagian pria, tepatnya di barisan pertama tidak jauh dari Imam Sadulayev berdiri, seorang pemuda berkaca mata dan berwajah Asia Tenggara nampak duduk menunduk dengan mata berkaca-kaca. Teringat masa lalunya yang kelam ia menangis dalam istighfar. Dan teringat akan kasih sayang Allah yang memberinya petunjuk untuk bertobat dan membersihkan jiwanya dengan ibadah. Ia terisak dalam keharuan dan kesyukuran. Allah kembali melimpahinya dengan kasih sayang tiada terkira. Sebentar lagi ia akan mendengar perempuan yang telah dilamarnya untuk dijadikan pendamping hidupnya mengucapkan kalimat syahadat.

Imam Hasan Sadulayev, kemudian meminta kepada adiknya yaitu Aminet Sadulayevna untuk membimbing Yelena Aleksandrovna mengucapkan dua kalimat syahadat. Seluruh jamaah yang hadir shalat Jumat akan menjadi saksi masuk Islamnya Yelena. Dengan suara yang jernih dan berwibawa Aminet membimbing Yelena mengucapkan kalimat syahadat kata perkata.

"Asyahadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah."

Aminet membimbing Yelena mengucapkan dua kalimat syahadat itu tiga kali. Setelah itu Aminet membimbing Yelena untuk mengucapkan arti dua kalimat syahadat itu dalam bahasa Rusia.

Begitu Yelena selesai mengucapkan syahadatnya.

Imam Hasan Sadulayev seketika bertahmid dan mengumandangkan takbir dengan kedua mata basah oleh airmata. Seluruh jamaah mengikutinya.

Tak sedikit di antara mereka yang meneteskan airmata karena tersentuh suasana yang agung itu. Prosesi seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah prosesi yang sangat agung, lebih agung dari terbitnya matahari menyinari dunia.

Imam Hasan kemudian mengajak jamaah berdoa bersama untuk Yelena yang baru masuk Islam, agar diberi tambahan kekuatan oleh Allah untuk teguh memegang hidayah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya.

Pemuda berkaca mata yang tak lain adalah Devid, mengangkat kedua tangannya dan mengamini setiap kalimat yang diucapkan Imam Hasan Sadulayev dengan airmata terus meleleh di pipinya. Di sampingnya, Ayyas juga tidak bisa menahan harunya. Ia tahu persis siapa Devid dan siapa Yelena sebelumnya. Devid kini telah menjadi ahli rukuk dan sujud.

Dan Yelena yang pernah tidak mengakui adanya Tuhan, kini bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Yelena menjadi manusia baru yang bersih dan fitri. Seluruh dosa dan masa lalunya

yang kelam terhapus oleh dua kalimat syahadat yang ia ucapkan dengan tubuh bergetar.

Selesai berdoa, Imam Hasan Sadulayev naik ke mimbar. Azan dikumandangkan. Lalu khotbah Jumat dimulai. Sang Imam menjelaskan tentang keajaiban tobat. Menurut Sang Imam, setiap anak manusia pasti pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, kecuali para nabi dan rasul yang sudah pasti dijaga oleh Allah dari dosa dan kesalahan. Dan jalan terbaik bagi orang yang memiliki dosa adalah bertobat, memohon ampun kepada Allah. Orang-orang yang mau bertobat dengan sebenar-benar tobat adalah manusia-manusia yang dipilih dan dikasihi oleh Allah.

Imam Hasan Sadulayev kemudian menceritakan seorang pendosa yang ada pada umat terdahulu, yang mendapat kemuliaan dari Allah yang luar biasa karena mau bertobat. Imam Hasan Sadulayev menjelaskan,

"Termasuk dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah adalah perbuatan zina. Para nabi dan rasul juga murka pada orang-orang yang melakukan perbuatan keji itu. Alkisah, pada umat terdahulu ada seorang perempuan yang menjadikan zina sebagai profesinya. Dia mendapatkan uang dengan melacurkan dirinya. Kecantikannya yang menawan sangat terkenal dan membuat dirinya terkenal ke pelbagai daerah. Banyak lelaki yang tergila-gila padanya dan ingin menikmati kecantikannya. Di saat yang sama ada seorang

pemuda ahli ibadah. Pemuda itu juga mendengar pesona perempuan itu dan hati pemuda itu juga condong kepadanya. Pemuda itu juga berangan-angan ingin menikmati kecantikan perempuan itu. Karena bayaran perempuan itu sangat mahal, pemuda itu bekerja keras siang malam demi mendapatkan uang agar nanti bisa membayar perempuan itu. Setelah berbulan-bulan bekerja

pemuda itu mendapatkan uang yang cukup banyak.

Uang yang cukup untuk membayar kecantikan perempuan itu. Pemuda itu lalu

mendatangi perempuan itu.

"Tentu saja perempuan itu senang didatangi pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tampan. Ia merasa bangga bahwa kecantikan dan pesona dirinya ternyata mampu mengalahkan kezuhudan dan keteguhan iman seorang pemuda ahli ibadah. Ia menyambut pemuda itu dengan sebaik-baik sambutan. Ketika mereka berdua sudah berada di sebuah ruang yang sangat nyaman. Jendela telah ditutup dan pintu telah terkunci rapat, dan pemuda itu bisa melakukan apa yang telah dilakukan banyak lelaki pada perempuan itu, tiba-tiba pemuda itu teringat kepada Allah. Bahwa Allah melihatnya. Bahwa Allah memurkai perbuatan maksiat yang sedang dan yang akan dilakukannya.

Wajahnya tiba-tiba pucat. Ia sangat takut kepada Allah. Perempuan itu kaget melihat wajah pemuda itu yang tiba-tiba pucat pasi seperti tidak dialiri darah. Perempuan itu menduga bahwa pemuda itu sangat gugup karena tidak pernah

memiliki pengalaman berduaan dengan seorang perempuan. Maka perempuan itu berusaha menenangkan pemuda itu.

"Akan tetapi pemuda itu justru semakin pucat, tubuhnya mengigil dan bergetar hebat. Dengan terbata-bata pemuda itu berkata kepada perempuan itu, 'Ini, di kantong ini ada ratusan dinar, yang aku kumpulkan dengan bekerja mati-matian berbulan-bulan. Aku bekerja keras demi bisa menikmati dirimu. Kini aku sudah ada di hadapanmu, kalau aku mau aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Akan tetapi jika aku melakukannya maka Allah

akan murka kepadaku, dan Allah pasti menyiapkan nerakanya yang menyala-nyala untukku. Aku takut kepada Allah. Aku tidak mau kenikmatan sesaat yang semu akan menghancurkan kenikmatan abadi di surganya Allah. Ini ambillah uang ini. Dan biarkan aku meninggalkan tempat ini sebelum Allah murka dan mencabut nyawaku dalam keadaan syuul khatimah'

"Pemuda itu meletakkan kantong uangnya di hadapan perempuan jelita itu, lalu melangkah ke pintu. Sang perempuan duduk terpaku di pinggir ranjangnya. Ia kaget bercampur takjub dengan sikap dan apa yang didengarnya. Selama ini tidak ada lelaki yang bisa mengendalikan kesadarannya jika sudah berduaan dengannya. Tetapi pemuda itu bisa bersikap dan berkata setegar itu. Rasa takut pemuda itu kepada Allah

mengalahkan segala sihir pesona kecantikan yang dimilikinya. Dirinya samasekali tidak ada harganya di mata pemuda itu.

"Sang pemuda melangkah meninggalkan tempat itu dengan airmata berderjinlerai. Ia menangis takut kepada Allah. Pemuda itu malu pada dirinya

sendiri. Ia lalu pergi meninggalkan kota itu dan kembali ke kampung asalnya. Di kampungnya siang malam ia beribadah, karena merasa telah melakukan dosa besar meskipun belum sampai zina. Tetapi ia merasa telah melakukan

dosa yang sangat besar, sebab telah mendekati zina. Bahkan ia sempat berazam untuk zina dengan pelacur cantik itu. Ia bahkan sampai bekerja berbulan-bulan demi mendapatkan uang agar bisa berzina dengan perempuan itu. Pemuda itu terus menangis penuh penyesalan. Ia beribadah sebanyak-banyaknya karena ingin menghapus dosanya. Dan pemuda itu akhirnya meninggal dunia dalam keadaan menangis dan beribadah kepada Allah Swt.

"Perempuan itu, sejak kejadian itu ia sadar. Bahwa dirinya selama ini telah melakukan dosa besar yang dimurkai oleh Allah. Pemuda itu menyadarkan dirinya akan adanya Allah yang memurkai orang-orang yang berbuat maksiat.

Pemuda itu menyadarkan dirinya bahwa ada neraka yang disediakan untuk orang-orang yang menantang Allah. Pemuda itu menyadarkan bahwa ada kehidupan yang sesungguhnya setelah kehidupan di dunia ini. Perempuan itu sejak itu bertobat. Siang malam ia menangis kepada Allah. Ia lalu berazam dan bertekad kuat untuk mencari pemuda itu. Ia ingin menjadikan pemuda itu sebagai suaminya yang akan membimbingnya beribadah kepada Allah.

"Berbulan-bulan ia mencari pemuda itu, tapi tidak bertemu. Setelah sekian lama ia akhirnya tahu bahwa pemuda itu telah pulang ke kampong halamannya. Perempuan itu langsung menyusulnya.

Dan alangkah sedihnya ketika ia tahu bahwa pemuda itu telah meninggal dunia dalam keadaan bertobat penuh penyesalan kepada Allah.

"Pemuda itu memiliki saudara yang juga ahli ibadah. Perempuan bekas pelacur yang kini telah jadi ahli ibadah itu akhirnya menikah dengan ahli ibadah, saudara pemuda tadi. Perempuan itu telah melakukan tobat yang sungguh-sungguh tobat. Tobat yang mampu membuat pintu langit terbuka

untuk doa dan zikirnya. Dari pernikahan dengan ahli ibadah itu, perempuan bekas pelacur itu melahirkan banyak anak yang semuanya diangkat oleh Allah menjadi nabi. Dari rahim perempuan itu yang kini berisi kalimat-kalimat thayyibah lahir manusia-manusia mulia yang dipilih oleh Allah sebagai nabinya.

"Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada umat terdahulu. Menjelaskan kepada kita bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, jika ia mau bertobat dengan sungguh-sungguh seperti perempuan itu, maka Allah akan menerima orang itu dengan penuh pengampunan dan kasih sayang. Bahkan Allah akan tetap memuliakan hamba-hamba-Nya yang mau bertobat kepadanya.

"Maka kepada siapapun yang merasa pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, juga kepada diri saya sendiri, saya wasiatkan untuk segera bertobat dengan sebenar-benar tobat. Dengan tobat dan kembali kepada Allah sepenuh jiwa dan raga, kita berharap Allah senantiasa menyelimuti kita dengan selimut rahmat dan kasih sayang-Nya. Amin"

Khutbah Imam Hasan Sadulayev sangat menyentuh. Terutama bagi Devid dan Yelena.

Juga bagi banyak orang yang merasa sedang memikul dosa yang tidak ringan. Bagi mereka, khutbah itu seperti air penyejuk bagi orang yang kehausan di padang sahara. Dengan airmata meleleh Devid berdoa agar tobatnya diterima Allah dan agar dirinya diberi keberkahan seperti keluarga perempuan yang jadi ahli ibadah setelah bertobat itu. Yelena lebih deras airmatanya, ia merasa dirinya nyaris sama dengan perempuan yang dikisahkan oleh Imam Hasan Sadulayev. Ia bertekad dalam hati akan berislam sebaikbaiknya.

Ia akan belajar tentang Islam sekuat tenaga, dan ia akan menjaga kesuciannya dan terus beribadah kepada Allah seperti perempuan itu, agar kelak anak-anak yang ia lahirkan dari rahimnya jika dikehendaki oleh Allah menjadi

manusia-manusia yang baik dan dikasihi Allah.

Selesai shalat Jumat, akad pernikahan dilangsungkan. Yang dinikahkan adalah Devid mendapatkan Yelena. Ayyas dan beberapa pejabat KBRI Moskwa menyaksikan prosesi akad pernikahan itu. Ayyas tidak kuasa menahan airmatanya ketika melihat Devid menangis tersedu-sedu dalam pelukan Imam Hasan Sadulayev setelah akad. Ayyas mendoakan teman lamanya itu agar benar-benar menjadi orang beriman sejati. Ia juga mendoakan agar dosa teman lamanya itu benar-benar diampuni oleh Allah.

Ayyas juga terharu ketika sekilas melihat Yelena dengan penampilan yang jauh berbeda dengan yang pernah dilihatnya dulu. Yelena kini berpakaian putih anggun tertutup auratnya.

Sama sekali tidak ada bekas atau kesan bahwa Yelena pernah menjadi pelacur kelas atas di Moskwa. Kini Yelena nampak bercahaya seumpama kapas putih yang tidak dinodai apa-apa.

Ayyas berdoa agar Yelena yang pernah menjadi tetangga kamarnya itu benar-benar mampu menjadi Muslimah yang baik, dan menjadi ibu yang salehah yang nanti akan melahirkan keturunan yang saleh, keturunan yang meninggikan kalimat Allah di atas bumi Allah, bumi cinta orang-orang saleh yang menjadikan hidupnya sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah.




***




Untuk sementara Devid tinggal bersama Yelena di apartemen Yelena. Bibi Margareta masih menyertai mereka. Mereka tetap memperlakukan Bibi Margareta layaknya bibi sendiri.

Keyakinan yang berbeda sama sekali tidak memengaruhi keharmonisan hubungan mereka dengan Bibi Margareta.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Yelena merasakan keindahan menghirup udara sebagai manusia. Ia merasa benar-benar terlepas dari belenggu-belenggu berhala dan perbudakan yang selama ini menjeratnya. Ia merasa benar-benar merdeka. Ia merasa menjadi manusia yang sempurna kemanusiaannya dengan hanya menyembah kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Ia telah menemukan jalan hidup yang dicarinya. Dan kini, dengan statusnya sebagai seorang istri, ia mendapatkan kehormatannya kembali sebagai perempuan yang memiliki harga dan nilai yang sesungguhnya. Lebih dari itu ia seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Bunga-bunga kini bermekaran di dalam hatinya. Musim semi belum tiba, tetapi ia merasa suasana yang ia rasakan adalah suasana musim semi paling indah yang belum pernah ia rasakan. Setiap kali shalat bersama suaminya, lalu ia mencium tangan suaminya, ia merasakan kenikmatan cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Untuk sementara sampai Devid menyelesaikan kuliahnya mereka berdua akan tinggal di Rusia.

Bisa di Moskwa bisa juga di St. Petersburg. Akan tetapi setelah Devid menyelesaikan kuliahnya ia berjanji dalam hati akan mengikuti suaminya ke

mana pun ia pergi. Ia rela jika kemudian suaminya memutuskan harus hidup di Indonesia.

Bagi orang-orang yang beriman, di mana pun ia bisa rukuk dan sujud kepada Allah, maka ia menemukan bumi cinta. Dan sesungguhnya dunia ini adalah bumi cinta bagi para pecinta Allah Ta ala. Bumi cinta yang akan mengantarkan kepada bumi cinta yang lebih abadi dan lebih mulia yaitu surganya Allah.

Sementara Devid juga merasakan hal yang hampir sama dengan yang dirasakan Yelena.

Mendapatkan istri seperti Yelena, ia seumpama mendapatkan bidadari yang selalu merindukannya dan selalu tersenyum kepadanya. Ia telah melupakan semua masa lalunya dan masa lalu istrinya. Dengan menggenggam erat tangan istrinya, ia ingin terus maju melangkah dalam pengembaraan mencapai ridha Allah yang tertinggi di bumi cinta ini.

Ia tahu bahwa Yelena telah memiliki seorang anak dengan suami terdahulunya. Ia tahu bahwa istrinya sangat merindukan anaknya itu. Maka ia tidak segan untuk membahagiakan istrinya, dengan mengantarkannya menemui anaknya yang ada di kota Kazan, yang letaknya ribuan kilometer di sebelah timur kota Moskwa.

Yang membuat Devid bahagia, anak istrinya itu ternyata , juga Muslim. Setelah tahu persis kisah hidup Yelena, ia semakin bertambah keimanannya akan kekuasaan Allah. Suami Yelena yang pertama ternyata adalah seorang Muslim yang baik. Yelenalah yang sebenarnya tidak baik sampai harus diusir suami yang pertama.

Setelah menyelesaikan S1 Sastra Inggris dari St. Petersburg, Yelena bekerja di sebuah agen wisata di kota Kazan, ibu kota Tatarstan yang masih dalam kekuasaan Rusia. Di sana Yelena berkenalan dengan seorang anak muda pemilik sebuah restoran. Anak muda itu bernama Majidov. Singkat cerita Yelena menikah dengan Majidov. Saat itu Yelena mengaku brrjanji siap mengikuti keyakinan Majidov setelah menikah.

Ternyata Yelena mengingkari janjinya, ia tetap tidak mau mengikuti keyakinan Majidov. Bahkan Yelena malah mau masuk agama Budha.

Berkali-kali Majidov mengingatkan janjinya. Yelena tetap saja mengingkari janjinya.

Bahkan Yelena akhirnya suatu pagi mengatakan kepada suaminya bahwa ia mulai meragukan adanya Tuhan. Suaminya kaget dan marah. Yelena tidak mau mengalah, ia lalu berterus terang bahwa ia merasa dikungkung oleh

banyak aturan yang dibuat suaminya. Suaminya kemudian memberinya pilihan yang tidak bisa ditawar, yaitu mengikuti aturan mainnya dan

Yelena memenuhi janjinya, atau Yelena keluar dari rumahnya yang berarti telah diceraikannya dan boleh hidup semaunya. Yelena memilih cerai

dan keluar dari rumah itu.

Yelena merasa seperti diusir suaminya, padahal sesungguhnya ia sendiri yang menentukan pilihannya.

Yelena mengadu nasib ke Moskwa, dan sejak itu Yelena hidup dengan memperturutkan hawa nafsunya. Sampai akhirnya ia hidup dalam genggaman Olga Nikolayenko dan tidak bisa keluar darinya sampai Olga Nikolayenko binasa. Yelena merasa ada yang salah dalam hidupnya. Dan ia mulai mendapatkan pencerahan pelan-pelan secara tidak langsung dengan datangnya Ayyas yang tinggal satu apartemen dengannya. Puncaknya adalah ketika ia nyaris mati kedinginan dan ditolong Ayyas.

Sejak itu ia merasakan kasih sayang Tuhan, dan ia mulai mencari tahu cara terbaik berbakti kepada Tuhan. Ia terus merenung dan mengumpulkan informasi, juga banyak belajar diam-diam.

Sampai akhirnya ia yakin cara terbaik adalah dengan berislam. Hanya ia belum menemukan waktu yang tepat. Ia sempat kembali ke Kazan dan diam-diam mencari tahu keadaan mantan suami dan anaknya. Ternyata suaminya

telah menikah lagi dengan putri seorang imam masjid kota Kazan, maka ia merasa tidak mungkin lagi kembali kepada suaminya.

Yelena sempat bingung harus bagaimana menentukan langkah. Ia sempat berpikiran mau menemui Ayyas dan meminta saran darinya. Belum sampai ia menemui Ayyas, Devid datang mengulurkan tangannya untuk menikah dan berjalan bersama di jalan yang lurus. Maka tak ada keraguan sedikit pun bagi Yelena untuk menyetujuinya.

Devid tidak ragu mengajak Yelena menemui keluarga mantan suaminya. Devid datang sebagai seorang Muslim yang terhormat dan disambut oleh Majidov, mantan suami Yelena dengan penuh penghormatan. Majidov nampak kaget dengan penampilan dan perubahan Yelena. Majidov nampak menjaga sekali pandangannya. Demikian juga Yelena. Di ruang tamu rumah Majidov,

Devid duduk di samping Yelena dan Majidov duduk di samping istrinya yang bernama Fatheya.

Kepada Devid, Majidov berkata, "Tuan Devid, Anda sungguh lelaki yang beruntung. Tidak seberuntung diri saya. Dulu saya menikahi Yelena dengan tujuan bisa mendapat pahala karena akan bisa mengajaknya berjalan di jalan yang diridhai Allah, yaitu memeluk Islam. Saya berani menikahinya sampai saya menolak tawaran guru saya untuk menikahi putrinya karena saya yakin

bisa mendapatkan pahala agung itu, apalagi Yelena berjanji akan mengikuti jalan hidup saya sepenuhnya setelah menikah. Ternyata saya gagal.

"Sampai punya anak satu, tetap saja saya tidak bisa mengajaknya berjalan di jalan yang benar. Setelah beberapa tahun bersabar saya tetap juga gagal. Akhirnya, karena ditambah sebab lain yang tidak termaafkan, saya bersikap tegas memberinya dua pilihan. Bertobat dan mengikuti aturan main saya atau cerai dan keluar dari rumah.

Dia memilih yang kedua. Saya sangat sedih karena merasa gagal berumah tangga dan berdakwah.

"Setelah sekian lama-terpuruk dalam kesedihan, guru saya membangkitkan semangat hidup saya, bahkan tetap menawari saya untuk menikahi putrinya. Bagi saya tak ada pilihan lain kecuali menuruti nasihat dan tawaran guru saya.

Ternyata jodoh saya adalah putri guru saya.

"Dan sungguh di luar prasangka saya, akhirnya Yelena menemukan jalan yang lurus itu, justru di tangan orang asing, yaitu di tangan Anda Tuan Devid. Sungguh Anda sangat beruntung.

Hidayah Allah memang mutlak wewenang Allah untuk diberikan kepada siapa, dan dengan cara bagaimana. Hanya Allah yang tahu.

"Saya turut bahagia atas pernikahan kalian di jalan Allah, semoga Allah senantiasa memberkahi rumah tangga kalian. Adapun Omarov, setelah saya mengetahui ibu kandungnya kini mengagungkan nama Allah, maka saya tidak

khawatir jika Omarov akan memilih tinggal dengan ibu kandungnya yaitu Yelena."

Kalimat Majidov sangat menyejukkan Devid dan Yelena. Tak lama kemudian si kecil Omarov yang lahir dari perkawinan Yelena dengan Majidov pulang dari sekolah. Anak kecil itu tidak begitu memerhatikan siapa yang ada di ruang tamu. Ia kelihatannya sudah mulai lupa dengan ibu kandungnya. Akan tetapi dengan sangat bijak Majidov menjelaskan kepada Omarov bahwa ibu kandungnya, yaitu Yelena, datang menjenguknya.

Omarov nampak agak bingung. Ia memerhatikan Yelena dengan seksama dari ujung kepala dari ujung kaki. Yelena memandangi anaknya dengan mata berkaca-kaca. Tiga tahun lebih ia berpisah dengan Omarov. Saat Omarov masih bingung, Yelena tidak kuasa untuk tidak menghambur dan memeluk anaknya itu dengan penuh kasih sayang dan dengan deraian airmata.

Semua yang ada di ruangan itu melihat kejadian itu dengan hati basah dan mata berkaca-kaca.

Awalnya Fatheya, istri Majidov agak cemburu mengetahui yang datang Yelena. Akan tetapi kelembutan dan ketulusan sikap Yelena telah menyingkirkan rasa cemburu Fatheya dan menggantinya dengan simpati yang mendalam.

Keberadaan Yelena bukan untuk dicemburui, apalagi Yelena sudah menikah dan punya suami. Keberadaan Yelena justru untuk didukung dan disambut hangat sebagai saudara dan keluarga.

Karena dipeluk Yelena dengan sepenuh jiwa dengan deraian airmata, dan suara haru terisak-isak,

Omarov menangis juga. Jiwa murni anak itu merasakan getaran rindu dan cinta yang disalurkan oleh ibu kandungnya. Beberapa saat kemudian, keluarlah dari mulut Omarov,

"Oh Mama!"

Seketika Yelena tambah terisak mendengarnya. Omarov masih memanggilnya

"Mama". Yelena lalu menciumi anaknya itu sejadi-jadinya dengan airmata terus meleleh.

"Kau sudah bisa shalat Nak?" Tanya Yelena sambil terisak. Omarov menganggukkan kepala.

"Kau sudah bisa membaca Al-Quran?" Si Kecil Omarov kembali menganggukkan kepala.

"Bagus. Kau anak yang baik. Teruslah mengaji. Berbaktilah pada ayahmu dan ibumu yang satu lagi ya." Omarov mengangguk.

Yelena memutuskan agar Omarov tetap bersama Majidov. Ia tidak khawatir samasekali Omarov akan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Sebab ia yakin Fatheya akan melimpahkan cinta dan kasih sayang yang melimpah kepada Omarov. Ia bisa merasakan dari wajah anaknya yang cerah dan tubuhnya yang sehat berisi.

Yelena hanya meminta agar Omarov diberi kesempatan berkunjung ke rumahnya jika menghendakinya. Majidov dan Fatheya berjanji akan memenuhi keinginan Yelena. Fatheya bahkan berjanji, minimal satu tahun sekali ia, akan mengajak Omarov mengunjungi Yelena selama Yelena masih tinggal di Rusia. Jika Yelena akhirnya tinggal di Indonesia bersama Devid, maka ia tidak bisa menjanjikannya.

Yelena dan Devid meninggalkan rumah Majidov dengan mata berkaca-kaca. Terutama Yelena. Ia merasa masih ingin berlama-lama bersama anaknya. Tetapi ia tahu bahwa ia tetap harus berpisah dengan Omarov. Ia berdoa agar

Omarov selalu dijaga oleh Allah dan diberkahi langkah hidupnya, sehingga akhirnya kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan bermanfaat bagi dunia serta diridhai Allah Ta'ala.




***




Dalam perjalanan menuju Moskwa, di atas pesawat Devid bertanya kepada Yelena,

"Istriku, tadi Majidov mengatakan bahwa akhirnya ia menceraikanmu karena kau tidak memenuhi janjimu dan karena ditambah sebab lain yang tidak termaafkan. Dia tidak menjelaskan sebab lain yang tidak termaafkan. Kalau boleh tahu apa itu sebab lain yang tidak termaafkan?"

Mendengar pertanyaan Devid, Yelena malah terisak-isak.

"Kenapa kau malah menangis? Apakah aku menyinggung perasaanmu? Kalau aku tidak boleh tahu tidak apa-apa. Aku tidak memaksa. Itu masa lalumu, kau boleh menyimpannya untuk dirimu saja."

Yelena menyeka airmatanya dan menjawab dengan suara serak,

"Tidak, kau tidak menyinggungku. Aku sudah berjanji tidak akan menutupi apa pun darimu. Aku tidak mengkhawatirkan apa pun. Itu adalah masa lalu. Kalau pun dikenang kembali adalah untuk diambil pelajarannya. Sesungguhnya ketika Majidov tadi mengucapkan kalimat itu, aku juga tersentak. Sebab, dulu saat dia memberikan pilihan, kalimat itu samasekali tidak ia ucapkan. Aku merasa bahwa perbuatanku tidak diketahuinya. Ternyata dia mengetahuinya. Sebab lain yang tak termaafkan adalah aku berselingkuh dengan orang lain. Aku sangat rapat menjaga hubunganku dengannya. Aku mengkhianati Majidov. Kukira Majidov tidak tahu.

Ternyata tahu. Karena ia tahu maka ia memberikan ultimatumnya, agar aku mengikuti segala aturan mainnya. Itulah yang terjadi."

"Jadi ketika Majidov memberimu dua pilihan, sebenarnya dia masih memaafkan kamu selama kamu memenuhi janjimu dan mengikuti aturannya."

"Iya. Tetapi diriku memang telah buta saat itu. Aku menganggap ultimatum Majidov sebagai arogansi kelelakiannya dan kesewenang-wenangannya. Maka aku terima tantangannya, aku memilih cerai dan kabur."

"Apakah kau menyesal?"

"Tentu saja. Itu adalah dosa yang harus disesali untuk tidak diulangi."

"Apakah kau menyesal menikah denganku?"

"Justru aku akan sangat menyesal kalau tidak memenuhi ajakanmu untuk menikah. Percayalah, Yelena yang jahiliyyah telah binasa, dan kini yang menjadi istrimu adalah Yelena yang lain. Yelena yang siap mati-matian menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya."

Devid tidak kuasa untuk tidak mencium kening istrinya dengan penuh cinta. Bagi orang yang saling cinta-mencintai tidak ada yang lebih indah dari pernikahan suci di jalan yang diridhai Ilahi.

Demikian Rasulullah pernah menjelaskan dalam sebuah hadisnya. Pernikahan adalah jalan paling indah untuk ditempuh bagi lelaki dan perempuan yang saling mencintai. Itu adalah yang ditempuh oleh para rasul dan para shalihin yang suci.

Yelena menerima ciuman suaminya dengan rasa bahagia yang luar biasa. Ciuman itu kini ia rasakan bukan sebagai sesuatu yang mengotori jiwanya, justru kini ia rasakan sebagai sesuatu yang membersihkan dan menguatkan jiwanya.

Sebab itu adalah ciuman yang halal yang mendatangkan datangnya rahmat dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.