Selasa, 12 Mei 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Potongan Kalimat Hati

April dimana awal mulanya kepo menjadi percaya

Percaya itu juga setengah

Memberi harapan juga tidak bersamaan dengan janji

Orangtua memberi target ketika janji itu harus keluar dari lidah yang tak bertulang ini

Perkataan itu bagaikan sebuah pedang

Dapat menyakiti seseorang luar maupun dalam

Maka jagalah baik-baik perkataan itu

Jagalah baik-baik hati orang disekitar

Yang disayangi jangan disakiti

Orang yang belum kenalpun juga jangan disakiti

Kebahagiaan tidak ditentukan dengan suatu hal yang terukur dalam diri

Tapi kebahagiaan itu ada karena Tuhan yang selalu menemani

Risau hati ini jikalau Tuhan pun pergi dari hati

Akibat sebuah perilaku anak adam yang dzalim terhadap dirinya

Tuhan pun berjanji mengeraskan hati seseorang dan Tuhan pun berjanji melunakkannya kepada
mereka yang Ia kehendaki

Hatipun sekeras batu, tidak ada lelah sedikitpun air yang dapat masuk melewatinya

Tapi Tuhan berkehendak lain

Tuhan pun menghancurkan batu itu bersama dengan terpuruknya manusia

Begitu baiknya Tuhan walaupun anak Adam berbuat dzalim

Menghancurkan batu itu melunakkannya agar anak Adam dapat mengingat kepada-Nya

By : Trianto Atmojo Sutrisno

Sabtu, 25 April 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Dear You



Tanpa basa basi, aku ingin ungkapkan semuanya. Kurasa ada yang salah dengan keadaan kita sekarang. Ada yang sedikit aneh. Semenjak hari itu, perasaanku kian lama kian gak wajar, dan aku mulai takut menghancurkan semuanya. Sebenarnya bukan untuk saat ini aja. Untuk sekian lama hari yang kita lewati kemarin. Nampaknya itu adalah hal yang.... Membuatku merasa bersalah padamu.

Awalnya, aku tak pernah tau bagaimana caranya kamu bisa sembunyikan semua perasaanmu dariku, sampai-sampai kau menutup rapih itu semua dan menjelaskannya di suatu hari. Ntahlah itu jelas benarnya atau hanya modus belaka. Yang jelas aku suka kamu bicara seperti itu. Kau tau? Aku memang suka padamu sejak lama, dan jelas lebih lama darimu. Tapi aku tak pernah bisa mau lepas dari ketakutan tentang masalalu ku sendiri. Ntah bagaimana kamu menganggapnya. Aku hanya takut menyakitimu. Perihal aku tak terlalu mempercayaimu, itu memang benar. Aku asyik dengan ketakutanku, sampai untuk mempercayaimu saja, aku belum bisa. Maafkan aku.

Kurasa, ini bukan awal yang baik. Melihatmu yang benar-benar baru putus dari mantanmu, dan melihatku yang selalu asyik dengan ketakutanku, membuatku makin khawatir. Khawatir, jikalau ini adalah sebuah pelampiasan dari diri masing-masing.

Kau tau, aku selalu bicara denganmu tentang ketakutanku, dan kamu selalu membantuku melewatinya. Ya, memang kamu awal dari semua pemberhentian kegalauanku, memang kamu yang ada disini saat aku mulai merasa hal itu lagi, memang kamu yang membuat semuanya berubah. Kamu.... kenapa harus kamu?

Kau tau, aku berharap ini hanya mimpi. Semua ketakutanku, semua prasangka burukku tentang kita, dan aku berharap, esok adalah hari baik untuk kita. Hari baik agar kita tetap menjadi kita.