Senin, 24 Maret 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Mengapa Aku Hanya Bisa Diam?

Aku menyesal mengapa kejadian ini terus berulang, dan menyesal bagaimana bisa aku terus menerus seperti ini di dalam perjalanan ku..
Tak banyak yang bisa aku lakukan.
aku hanya bisa diam dan merasa bahwa kini sekujur tubuhku sedang menggigil.
Aku mengerti betul apa yang sedang terjadi padaku saat ini.
Rasa yang masih bergantung padamu, membuatku sering menolak kenyataan yang seharusnya kuhadapi.
Rasa yang sampai detik ini masih bergejolak dalam hati, aku cemburu...
Duduk disini, dibangku tempat biasa kita menghabiskan waktu perjumpaan kita.
Disini...
di tempat terbuka, dibawah pancaran bulan dan di temani hiasan bintang, aku kembali menulis tentangmu..
Tak banyak kabar yang aku peroleh darimu sekarang.
Dan aku terpaksa mengobrak abrik jejaring yang semestinya tak lagi ku tahu keadaannya, dan itu membuatku merasa sedikit gelisah.
Ku buka account milikmu, tanpa bicara sedikitpun, tanpa kau tahu rasa yang aku rasakan saat ini, aku tersenyum..
Lagi .. lagi .. dan lagi ...
Mengapa hanya diam yang bisa aku lakukan ...
Sementara rasa sakit ini terus memojokkanku dan menggerogoti tubuhku ..
Mengapa aku hanya bisa diam dan menerimanya begitu saja?
Sementara tak ada satupun orang yang mengerti bahasa tubuhku ..
Mengapa, aku tak berusaha saja untuk bicara saat rasa itu kembali lagi...
Rabu, 05 Februari 2014 | By: Mardhiah Fitriyani

Terimakasih atas persembunyian yang indah ini...


malam semakin larut. tiba-tiba terfikir lagi dalam benakku untuk menuliskan cerita yang lagi lagi tentangmu.
ntah kenapa, ceritamu tak pernah habis untuk ku tuliskan di blog kesayanganku ini. apalagi ditambah kamu yang masih bertengger dalam kepalaku.
padahal kita sudah jarang bersua, kita tak saling menghubungi, tapi kamu... selalu ada disini.
aku kah yang melemahkan diriku sendiri? aku hanya tak bisa.
banyak sekali mereka yang melemparkan kata "bodoh"-nya untukku yang demi mempertahankanmu.
tapi aku tak pernah hiraukan. aku terlalu yakin, kau akan kembali walau dalam waktu yang tak dekat.
hahaha, ini terlihat sangat konyol.
kehadiranmu tak pernah terdefinisikan oleh waktu. bahkan saat aku bermimpi.
kau hanya seperti angan-angan yang tak pernah bisa aku gapai, kau hanya seperti pelangi yang datang dikala hujan turun, kau... kenapa begini?
kamu hanya datang dan pergi sesuka hatimu. hanya kembali menoleh saat kamu benar-benar membutuhkanku, tapi tidak saat kamu bersama dengannya.

beberapa waktu ini, kita mulai kembali berbincang, kau kembali menyelipkan lembar kenangan,
walau aku tahu itu kau lakukan dalam persembunyianmu dan aku tak bisa melakukannya lebih...
hihihi, sebenarnya apa yang sedang kita sembunyikan dari mereka sekarang?
aku selalu ingat kau tetap ada bersamanya, melukiskan hari indah untuknya yang sebenarnya meninggalkan bercak tinta dihatiku.
tapi disisi lain, kau pintar menyembunyikan kebersamaan kita bersama cerita-cerita yang akan kembali tertuang ditulisan berikutnya.
huufftt, terimakasih telah menyembunyikanku dibalik orang lain.
terimakasih atas senyum hanyat yang masih kau lemparkan, dan terimakasih atas kunjungan tiap bulan yang sanggup membayar rinduku.
ini terasa sangat nyaman walaupun sedikit menyakitkan.
berapa lama kah kau akan bertahan dalam keadaan seperti ini?
dan berapa lama lagikah aku harus menunggu?