Kamis, 14 Mei 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Hujan Butuh Payung (Track “Moon River’’ cover by The Honey Trees)

Ini tentang hujan. “      Aku menatapnya dibalik jendela, rintiknya yang menyapa hangat memenuhi setiap sudut kaca. Begitulah yang terjadi ketika hujan telah turun. Mengguyur kota, membuat semua orang berlalu lalang, berlarian menghindarinya bahkan orang-orang yang senantiasa melawannya bermandikan air hingga basah kuyup. Membuat kendaraan silih bergantian memyeruakan bunyi klakson, jalanan menjadi macet, sampai para penjual di jalanan pun segera menyelamatkan jajanannya, ditutup atau besembunyi dalam teduhan yang dibuat seadanya. Munculah kaki kaki mungil yang bertelanjang, menawarkan tumpangan tanpa harus kehujanan untuk sekedar singgah, atau menyewanya sampai ke tempat yang dituju. Halte-halte menjadi penuh dengan orang-orang yang berjejal-jejal, entah untuk sekedar meneduh atau menunggu angkutan umum.  Sebagian akan begitu kawatir ketika hujan semakin deras, ditakutkan air akan terus naik, dan datanglah hal yang begitu tak diinginkan “banjir”, meski mereka sudah membiasakan diri bahwa seperti sudah seharusnya untuk bersahabat dengannya. Begitulah yang terjadi ketika hujan turun.

Ini masih tentang hujan. Aku masih saja menatapnya, kini dinginnya udara mulai masuk melalui celah-celah jendela. Aku sedikit menyunggingkan bibir, masih saja mereka masuk mencuri lubang-lubang udara kecil. Rasanya gemas ketika ingin menyentuhnya dengan jemariku sendiri. Tapi aku hanya bisa memandangnya jelas, dengan segala ingatan yang kubuat , ketika pertama kali hujan turun.

Bahkan ini terus kuulangi hingga detik ini ketika aku sekarang berada jauh di ibu kota. Segera kuputar alunan musik dengan track “Moon River Milik Henry Marciny”. Rasanya jauh lebih hangat memang, berirama dan senada dengan suara rintiknya. Aku menikmatinya dengan hembusan nafas panjang, begitulah ketika kenangan-kenangan itu mengalir, seakan mengguyur pandanganku, membuatku jatuh kembali ke dalam waktu yang telah lalu bahkan begitu jauh. Tanpa kusadari mataku terpejam, berjalan jauh ke belakang, lalu kuikuti alurnya, kulalui jalannya,hingga aku beretemu dengan sosoknya, dan sesaat seketika aku pun tersadar. Lalu semuanya buyar.

Kumatikan lagu itu, kututup tirai, kurebahkan tubuhku di atas ranjang, menarik selimut, memejamkan mata, kulupakan semuanya, seolah semuanya tidak terjadi apa-apa. Begitulah yang terjadi ketika hujan turun.

Terkadang aku begitu takut ketika tubuhku harus bermandikan air, karena aku akan selalu menyiagakan payung kecil di dalam tas kemana pun aku pergi. Tapi bahkan ada saat dimana aku senang dengan kedatangannya, yang entah mengapa, perasaan itu datang tiba-tiba seolah olah dia(hujan) hadir memang untukku. Selalu kubuat kesan terbaik ketika aku bersama siapa pun di saat hari sedang hujan, karena otak ku secara tidak langsung akan menyimpannya, percayalah itu akan menjadi kenangan untuk ku sendiri yang tidak mudah untuk dilupakan.

Bagiku hujan punya cerita sendiri. Bagiku hujan akan menjadi sesuatu, percayalah bahwa hujan memang butuh payung, butuh keberanian kalau pun kamu harus melawannya sendirian. Karena aku punya cara sendiri untuk menyikapinya. Tubuhku memang rentan, karena ketika diguyur hujan disitulah pertama kalinya sarang penyakit akan muncul. Setiap kali kulakukan hanyalah menatapnya dibalik jendela, tapi bahkan terkadang aku datang padanya, dengan sengaaja aku menikmatinya, setiap rintiknya yang jatuh diatas kepala, menyerap kedalam rambut, hingga ke ujung kaki yang mulai terasa dinginnya. 

Created by : Yuna Andria
Selasa, 12 Mei 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Potongan Kalimat Hati

April dimana awal mulanya kepo menjadi percaya

Percaya itu juga setengah

Memberi harapan juga tidak bersamaan dengan janji

Orangtua memberi target ketika janji itu harus keluar dari lidah yang tak bertulang ini

Perkataan itu bagaikan sebuah pedang

Dapat menyakiti seseorang luar maupun dalam

Maka jagalah baik-baik perkataan itu

Jagalah baik-baik hati orang disekitar

Yang disayangi jangan disakiti

Orang yang belum kenalpun juga jangan disakiti

Kebahagiaan tidak ditentukan dengan suatu hal yang terukur dalam diri

Tapi kebahagiaan itu ada karena Tuhan yang selalu menemani

Risau hati ini jikalau Tuhan pun pergi dari hati

Akibat sebuah perilaku anak adam yang dzalim terhadap dirinya

Tuhan pun berjanji mengeraskan hati seseorang dan Tuhan pun berjanji melunakkannya kepada
mereka yang Ia kehendaki

Hatipun sekeras batu, tidak ada lelah sedikitpun air yang dapat masuk melewatinya

Tapi Tuhan berkehendak lain

Tuhan pun menghancurkan batu itu bersama dengan terpuruknya manusia

Begitu baiknya Tuhan walaupun anak Adam berbuat dzalim

Menghancurkan batu itu melunakkannya agar anak Adam dapat mengingat kepada-Nya

By : Trianto Atmojo Sutrisno