Minggu, 09 Agustus 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Masalalu

Ini tentang bagaimana sulitnya menerima masalalu, bagaimana sulitnya telinga mendengar sebuah pengakuan, dan bagaimana hati ikhlas menjalankan.
Memang akan ada sedikit yang aneh saat pengakuan itu terlontar, tapi rasanya itu lebih baik daripada harus tahu dari oranglain.
Lebih baik terucap sekarang, bukan? daripada harus terucap nanti. Lebih baik belajar ikhlas dari sekarang, daripada pertengkaran muncul kemudian hari.
Dan pada akhirnya, kita sendiri yang harus sadar, dan harus menerima pengakuan tersebut. Bukankah Tuhan begitu adil?
Tidak ada karma didalamnya. Hanya saja, apa yang sudah kita tanam, akan kita tuai setelahnya. Dan Tuhan memang memberikan sesuatu sesuai dengan kadar dan porsi Hamba-Nya sendiri.
Terimalah hasil dari-Nya...
Sabtu, 04 Juli 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Kala Rindu Tak Terbendung

Apa yang bisa dilakukan? Kala rindu kunjung telah tiba, tapi kita tak bisa menatap satu sama lainnya.

Apa yang bisa dilakukan? Kala kita menatap langit yang sama, tapi tak bisa duduk berdampingan.

Apa yang bisa dilakukan? Selain menikmatinya sendiri tanpa pembalasan yang nyata.

Tak ada lagi, kita tak pernah bisa melakukannya lagi lebih dari ini. Takkan pernah bisa.

Sedemikian banyak waktu yang tercipta untuk kita, takkan pernah cukup bila itu bukan waktunya.

Aku tau, sabar adalah salah satu jalan yang harus sama-sama kita tempuh untuk ini.

Dan penantian hingga datangnya kamu adalah pekerjaanku yang mungkin akan sedikit membuatku bosan.

Oh, tapi tenang saja. Aku takkan pernah berlari untuk kau kejar, dan aku takkan bersembunyi untuk kau cari.

Kata salah seorang teman, Cinta itu tak pernah sebercanda itu. Maka dari itu, aku akan tetap menantimu.

Hei, tapi sampai kapankah? Kadang hati tak selalu sependapat dengan logika, bukan?

Cepatlah datang, bawalah kebahagiaan kepadaku dan bersegeralah membawaku pergi.

Bawa aku pergi ke tempat dimana hanya ada kebahagiaan disana,
tapi jangan lupa untuk selalu ingatkanku tentang kesedihan yang akan menghampiri.

Dan kita akan selalu hidup berdampingan, sampai kekekalanpun habis diambil oleh-Nya...
Jumat, 03 Juli 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Takdirkah ini? Atau sebuah penyia-nyiaan?


Nggak nyangka aja, pukul 20.00 gue kepikiran untuk liat nilai di WEBSITE kampus gue. Penasaran. Nilai apa sih yang udah keluar?
Atau sama sekali belum ada yang keluar? Ntahlah. Tapi faktanya yang ada, waktu gue buka... Jeng!!! Jeng!!!! Beberapa nilai sudah terpampang jelas di daftar nilai dan sedikit agak membuat gue shock dengan hasilnya.
Bukan karena gue bangga atau seneng dengan nilai yang gue dapat. Tapi karena nilai gue yang kurang memuaskan.
Iya, gue kecewa. Kecewa banget terutama sama diri gue sendiri. Gue nggak ngerti kenapa, apa ini takdir atau emang sebuah penyiaan yang nyata.
Intinya, gue kecewa sama diri gue yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang dikasih sama Dosen, sampai akhirnya gue dapet nilai C untuk yang ketiga kalinya.
Cukup puas, iya. Sangat cukup. Dan ini untuk yang terakhir kalinya. Gue gamau ulang lagi, cukup bermalas-malasan di semester ini. Nggak lagi untuk semester lima yang akan gue masuki besok.
Andai waktu bisa gue putar, gue bakal rajin masuk kelas, bakal rajin nerima pelajaran, bakal rajin belajar, tapi sayang... mereka sepertinya terlalu sayang sama gue, sampai gue dikasih nilai C untuk benar-benar mempelajarinya.
Ini keteledoran gue untuk yang terakhir kali...
Sabtu, 27 Juni 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

I'm giving up...

Hidupku kini banyak berubah. Tak lagi sedamai dulu, dan tak lagi seasyik dulu. Apa ada yang bisa mengatakan apa yang terjadi denganku sekarang? Ku mohon beri tahu agar aku bisa keluar dari waktu ini.

Hei, bagaimana rasanya jika dirimu hidup didalam rutinitas yang membosankan? Dan selalu banyak orang didalamnya yang terlalu monoton. Atau mungkin, kau tahu rasanya hidup dengan beban begitu berat dikedua pundakmu? Ohhh, andai ada yang bisa menceritakannya lebih dari apa yang ku ceritakan. Mungkin, aku akan sedikit menerima apa yang terjadi sekarang.

Kau mengerti? Tak ada lagi kata lain selain bosan yang ada. Menghabiskan waktu untuk diri sendiri pun tak bisa. Apalagi untuk teman dan keluarga. Hal yang sangat mustahil ku rasa.

Sering aku berfikir untuk lari sejauh-jauhnya. Bersembunyi ke tempat yang tak dimana banyak orang tahu keberadaanku, lari dari kenyataan tepatnya. Tapi apa daya? Tangan kaki pun tak sampai untuk menggapai, hati fikiran pun selalu berbalik lagi dan gelisah adalah pelabuhan terakhir dari semua rasa.

Aku tak pernah mengerti, bagaimana bisa mereka hidup didalam rutinitas yang sedemikian membosankannya, dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Ntah, apa aku yang salah menempatkan posisi, ataukah mereka yang memang suka dengan hal seperti itu.

Kau tahu? Saat-saat seperti inilah aku ingin menghabiskan segala waktuku dengan orang-orang yang kusayang. Ingin menumpahkan segala rasa yang selama ini tersimpan dan tertata cukup buruk di dalam hati. Ingin bermanja dalam dekapan kasih sayang-Nya dan kasih cinta-Nya yang membuatku sampai detik ini bisa berdiri dengan kokohnya. Ingin segera berhenti tepatnya.

Aku sudah sangat lelah. Faktanya, aku bukanlah orang yang nyaman dalam kondisi ini. ini bukan dunia ku lagi, ini bukan kenyamananku lagi, dan perlahan hatiku pun tidak akan ada disini lagi. Hilanggg....


Dan aku menyerah...
Kamis, 14 Mei 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Hujan Butuh Payung (Track “Moon River’’ cover by The Honey Trees)

Ini tentang hujan. “      Aku menatapnya dibalik jendela, rintiknya yang menyapa hangat memenuhi setiap sudut kaca. Begitulah yang terjadi ketika hujan telah turun. Mengguyur kota, membuat semua orang berlalu lalang, berlarian menghindarinya bahkan orang-orang yang senantiasa melawannya bermandikan air hingga basah kuyup. Membuat kendaraan silih bergantian memyeruakan bunyi klakson, jalanan menjadi macet, sampai para penjual di jalanan pun segera menyelamatkan jajanannya, ditutup atau besembunyi dalam teduhan yang dibuat seadanya. Munculah kaki kaki mungil yang bertelanjang, menawarkan tumpangan tanpa harus kehujanan untuk sekedar singgah, atau menyewanya sampai ke tempat yang dituju. Halte-halte menjadi penuh dengan orang-orang yang berjejal-jejal, entah untuk sekedar meneduh atau menunggu angkutan umum.  Sebagian akan begitu kawatir ketika hujan semakin deras, ditakutkan air akan terus naik, dan datanglah hal yang begitu tak diinginkan “banjir”, meski mereka sudah membiasakan diri bahwa seperti sudah seharusnya untuk bersahabat dengannya. Begitulah yang terjadi ketika hujan turun.

Ini masih tentang hujan. Aku masih saja menatapnya, kini dinginnya udara mulai masuk melalui celah-celah jendela. Aku sedikit menyunggingkan bibir, masih saja mereka masuk mencuri lubang-lubang udara kecil. Rasanya gemas ketika ingin menyentuhnya dengan jemariku sendiri. Tapi aku hanya bisa memandangnya jelas, dengan segala ingatan yang kubuat , ketika pertama kali hujan turun.

Bahkan ini terus kuulangi hingga detik ini ketika aku sekarang berada jauh di ibu kota. Segera kuputar alunan musik dengan track “Moon River Milik Henry Marciny”. Rasanya jauh lebih hangat memang, berirama dan senada dengan suara rintiknya. Aku menikmatinya dengan hembusan nafas panjang, begitulah ketika kenangan-kenangan itu mengalir, seakan mengguyur pandanganku, membuatku jatuh kembali ke dalam waktu yang telah lalu bahkan begitu jauh. Tanpa kusadari mataku terpejam, berjalan jauh ke belakang, lalu kuikuti alurnya, kulalui jalannya,hingga aku beretemu dengan sosoknya, dan sesaat seketika aku pun tersadar. Lalu semuanya buyar.

Kumatikan lagu itu, kututup tirai, kurebahkan tubuhku di atas ranjang, menarik selimut, memejamkan mata, kulupakan semuanya, seolah semuanya tidak terjadi apa-apa. Begitulah yang terjadi ketika hujan turun.

Terkadang aku begitu takut ketika tubuhku harus bermandikan air, karena aku akan selalu menyiagakan payung kecil di dalam tas kemana pun aku pergi. Tapi bahkan ada saat dimana aku senang dengan kedatangannya, yang entah mengapa, perasaan itu datang tiba-tiba seolah olah dia(hujan) hadir memang untukku. Selalu kubuat kesan terbaik ketika aku bersama siapa pun di saat hari sedang hujan, karena otak ku secara tidak langsung akan menyimpannya, percayalah itu akan menjadi kenangan untuk ku sendiri yang tidak mudah untuk dilupakan.

Bagiku hujan punya cerita sendiri. Bagiku hujan akan menjadi sesuatu, percayalah bahwa hujan memang butuh payung, butuh keberanian kalau pun kamu harus melawannya sendirian. Karena aku punya cara sendiri untuk menyikapinya. Tubuhku memang rentan, karena ketika diguyur hujan disitulah pertama kalinya sarang penyakit akan muncul. Setiap kali kulakukan hanyalah menatapnya dibalik jendela, tapi bahkan terkadang aku datang padanya, dengan sengaaja aku menikmatinya, setiap rintiknya yang jatuh diatas kepala, menyerap kedalam rambut, hingga ke ujung kaki yang mulai terasa dinginnya. 

Created by : Yuna Andria
Selasa, 12 Mei 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Potongan Kalimat Hati

April dimana awal mulanya kepo menjadi percaya

Percaya itu juga setengah

Memberi harapan juga tidak bersamaan dengan janji

Orangtua memberi target ketika janji itu harus keluar dari lidah yang tak bertulang ini

Perkataan itu bagaikan sebuah pedang

Dapat menyakiti seseorang luar maupun dalam

Maka jagalah baik-baik perkataan itu

Jagalah baik-baik hati orang disekitar

Yang disayangi jangan disakiti

Orang yang belum kenalpun juga jangan disakiti

Kebahagiaan tidak ditentukan dengan suatu hal yang terukur dalam diri

Tapi kebahagiaan itu ada karena Tuhan yang selalu menemani

Risau hati ini jikalau Tuhan pun pergi dari hati

Akibat sebuah perilaku anak adam yang dzalim terhadap dirinya

Tuhan pun berjanji mengeraskan hati seseorang dan Tuhan pun berjanji melunakkannya kepada
mereka yang Ia kehendaki

Hatipun sekeras batu, tidak ada lelah sedikitpun air yang dapat masuk melewatinya

Tapi Tuhan berkehendak lain

Tuhan pun menghancurkan batu itu bersama dengan terpuruknya manusia

Begitu baiknya Tuhan walaupun anak Adam berbuat dzalim

Menghancurkan batu itu melunakkannya agar anak Adam dapat mengingat kepada-Nya

By : Trianto Atmojo Sutrisno

Sabtu, 25 April 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

Dear You



Tanpa basa basi, aku ingin ungkapkan semuanya. Kurasa ada yang salah dengan keadaan kita sekarang. Ada yang sedikit aneh. Semenjak hari itu, perasaanku kian lama kian gak wajar, dan aku mulai takut menghancurkan semuanya. Sebenarnya bukan untuk saat ini aja. Untuk sekian lama hari yang kita lewati kemarin. Nampaknya itu adalah hal yang.... Membuatku merasa bersalah padamu.

Awalnya, aku tak pernah tau bagaimana caranya kamu bisa sembunyikan semua perasaanmu dariku, sampai-sampai kau menutup rapih itu semua dan menjelaskannya di suatu hari. Ntahlah itu jelas benarnya atau hanya modus belaka. Yang jelas aku suka kamu bicara seperti itu. Kau tau? Aku memang suka padamu sejak lama, dan jelas lebih lama darimu. Tapi aku tak pernah bisa mau lepas dari ketakutan tentang masalalu ku sendiri. Ntah bagaimana kamu menganggapnya. Aku hanya takut menyakitimu. Perihal aku tak terlalu mempercayaimu, itu memang benar. Aku asyik dengan ketakutanku, sampai untuk mempercayaimu saja, aku belum bisa. Maafkan aku.

Kurasa, ini bukan awal yang baik. Melihatmu yang benar-benar baru putus dari mantanmu, dan melihatku yang selalu asyik dengan ketakutanku, membuatku makin khawatir. Khawatir, jikalau ini adalah sebuah pelampiasan dari diri masing-masing.

Kau tau, aku selalu bicara denganmu tentang ketakutanku, dan kamu selalu membantuku melewatinya. Ya, memang kamu awal dari semua pemberhentian kegalauanku, memang kamu yang ada disini saat aku mulai merasa hal itu lagi, memang kamu yang membuat semuanya berubah. Kamu.... kenapa harus kamu?

Kau tau, aku berharap ini hanya mimpi. Semua ketakutanku, semua prasangka burukku tentang kita, dan aku berharap, esok adalah hari baik untuk kita. Hari baik agar kita tetap menjadi kita.
Jumat, 23 Januari 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

HILANG

Dear, You

Seharusnya ini tidak pernah boleh terjadi,
sama sekali tidak pernah boleh . . .
Titik ini sudah menjadi titik paling mendidih,
yang airnya perlahan hilang begitu saja~
Cukuplah dengan kata yang bernama hilang. . .
Dengannya, aku sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri, bahkan terlebih tanpamu rasanya itu membuatku semakin baik.
Dengannya, mungkin satu kebahagiaan paling sempurna akan datang bila waktunya telah tiba.
Dengannya, aku bisa lebih memperbaiki diri menuju manusia yang lebih baik.
Begitulah keadaan semestinya . . .
Maaf, tapi tak pernah bisa lepas darimu, adalah satu hal yang benar untuk wajarnya dan salahnya. Karena kamu... adalah kamu. Dan akan jadi tetap kamu, disini . . .

Lovely,
MF
Sabtu, 10 Januari 2015 | By: Mardhiah Fitriyani

TikTok


Waktu terus berputar, sampai kita temukan titik jenuh itu dan kembali ke masa lampau.

Merindukan yang lalu, memang sudah pasti.

Rindu akan hal-hal yang biasanya selalu dikerjakan berdua.

Hey! Mengapa yang kini ada membuat semakin lama kian tak nyaman?

Bukankahh waktu itu kita pernah menggoreskan cerita yang sama.

Bukankah waktu itu kita pernah merasa berbahagia bersama.

Lantas kemana larinya?

Ya ampun!!

Aku begitu lupa sampai sedikitpun tak mengingat bahwa kita ini bukan kita.

Dan itu cukup membuatku terbangun dan sadar,

kita hanyalah seorang teman...



Selamat berbahagia,
Tentunya, tanpaku kalian akan merasa
teramat sangat baik :)