Ini tentang hujan. “ Aku menatapnya dibalik jendela, rintiknya
yang menyapa hangat memenuhi setiap sudut kaca. Begitulah yang terjadi ketika
hujan telah turun. Mengguyur kota, membuat semua orang berlalu lalang,
berlarian menghindarinya bahkan orang-orang yang senantiasa melawannya
bermandikan air hingga basah kuyup. Membuat kendaraan silih bergantian
memyeruakan bunyi klakson, jalanan menjadi macet, sampai para penjual di
jalanan pun segera menyelamatkan jajanannya, ditutup atau besembunyi dalam
teduhan yang dibuat seadanya. Munculah kaki kaki mungil yang bertelanjang,
menawarkan tumpangan tanpa harus kehujanan untuk sekedar singgah, atau
menyewanya sampai ke tempat yang dituju. Halte-halte menjadi penuh dengan
orang-orang yang berjejal-jejal, entah untuk sekedar meneduh atau menunggu
angkutan umum. Sebagian akan begitu
kawatir ketika hujan semakin deras, ditakutkan air akan terus naik, dan
datanglah hal yang begitu tak diinginkan “banjir”, meski mereka sudah
membiasakan diri bahwa seperti sudah seharusnya untuk bersahabat dengannya.
Begitulah yang terjadi ketika hujan turun.
Ini masih tentang hujan. Aku
masih saja menatapnya, kini dinginnya udara mulai masuk melalui celah-celah
jendela. Aku sedikit menyunggingkan bibir, masih saja mereka masuk mencuri
lubang-lubang udara kecil. Rasanya gemas ketika ingin menyentuhnya dengan
jemariku sendiri. Tapi aku hanya bisa memandangnya jelas, dengan segala ingatan
yang kubuat , ketika pertama kali hujan turun.
Bahkan ini terus kuulangi hingga
detik ini ketika aku sekarang berada jauh di ibu kota. Segera kuputar alunan
musik dengan track “Moon River Milik Henry Marciny”. Rasanya jauh lebih hangat
memang, berirama dan senada dengan suara rintiknya. Aku menikmatinya dengan
hembusan nafas panjang, begitulah ketika kenangan-kenangan itu mengalir, seakan
mengguyur pandanganku, membuatku jatuh kembali ke dalam waktu yang telah lalu
bahkan begitu jauh. Tanpa kusadari mataku terpejam, berjalan jauh ke belakang,
lalu kuikuti alurnya, kulalui jalannya,hingga aku beretemu dengan sosoknya, dan
sesaat seketika aku pun tersadar. Lalu semuanya buyar.
Kumatikan lagu itu, kututup
tirai, kurebahkan tubuhku di atas ranjang, menarik selimut, memejamkan mata,
kulupakan semuanya, seolah semuanya tidak terjadi apa-apa. Begitulah yang
terjadi ketika hujan turun.
Terkadang aku begitu takut ketika
tubuhku harus bermandikan air, karena aku akan selalu menyiagakan payung kecil
di dalam tas kemana pun aku pergi. Tapi bahkan ada saat dimana aku senang
dengan kedatangannya, yang entah mengapa, perasaan itu datang tiba-tiba seolah
olah dia(hujan) hadir memang untukku. Selalu kubuat kesan terbaik ketika aku
bersama siapa pun di saat hari sedang hujan, karena otak ku secara tidak langsung
akan menyimpannya, percayalah itu akan menjadi kenangan untuk ku sendiri yang
tidak mudah untuk dilupakan.
Bagiku hujan punya cerita
sendiri. Bagiku hujan akan menjadi sesuatu, percayalah bahwa hujan memang butuh
payung, butuh keberanian kalau pun kamu harus melawannya sendirian. Karena aku
punya cara sendiri untuk menyikapinya. Tubuhku memang rentan, karena ketika
diguyur hujan disitulah pertama kalinya sarang penyakit akan muncul. Setiap
kali kulakukan hanyalah menatapnya dibalik jendela, tapi bahkan terkadang aku
datang padanya, dengan sengaaja aku menikmatinya, setiap rintiknya yang jatuh
diatas kepala, menyerap kedalam rambut, hingga ke ujung kaki yang mulai terasa
dinginnya.
Created by : Yuna Andria