Masih sering menertawakan awal oktober tiga tahun (lalu)...
Pukul 10 petang kiranya saat itu. Aku mencoba tuk mengupas sisa-sisa perjalanan yang pernah kita lalui, kemarin... lucu, aneh, gila sepertinya, karna saat itu kau sudah punya kekasih dan aku mencoba mendekatimu dengan sikap diamku. Berjalan begitu saja seperti air yang mengalir. Hingga akhirnya sampai disatu tempat yang bernama hati, disanalah aku dan kamu mulai bermuara dalam situasi bernama cinta. Kedekatan kita saat itu tidak hanya sebatas adik dan kakak. Bahkan saat senior diatasku pun mendekatimu, kau tetap tunjukkan sikap yang berbeda yang tak kau tunjukkan terhadapku. Ada apa ini?
Akhir oktober hampir berlalu, dan kau berubah. Ya, tak ada alasan sedikitpun yang kau lontarkan saat itu. Kau berubah drastis dan aku sama sekali tak mengerti apa yang sedang kau rencanakan dan kau lakukan. Aku berusaha mengolah pikiran agar tak selalu tertuju padamu, tapi gagal. Aku diam-diam menengok ke sosial media milikmu, berharap ada sepucuk kabar baik darimu dan kau tak perlakukan ku sedingin kemarin. Tapi nihil hasilnya. Aku kebingungan.
November datang, selepas aku pulang dari Bali saat itu, aku merasa ada yang tak seperti biasanya, aku mulai merindumu, kehadiranmu, suaramu, ah ada apa ini? Aku mulai jatuh cinta padamu. Hey! Ini bukan hanya sekedar sayang, tapi cinta.
Minggu kedua dibulan yang sama. Kau mulai kembali hadir disini, kita berbincang, kita saling menatap, kita saling melempar senyum satu sama lain. Ingatkah juga tentang “kasay dan desay”? hahaha, itu lucu ya! Dibalik panggilannya tersembunyi rasa yang tak pernah kita sangka hingga akhirnya kita menyatu ditanggal yang cantik. Tanggal 11, bulan 11, tahun 2011 dan semalam sebelumnya, aku sempat berharap, kau pasti tau itu.
Kembali lagi ke pesan itu. Pesan itu selalu jadi peninggalan awal kita memulai semuanya. Walau singkat, namun itu sangat berarti untukku, ntah untukmu bagaimana. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur, dengan santainya aku membuka halaman demi halaman pesan oktober tiga tahun lalu darimu. Aku mulai terkekeh, dan bertanya “bagaimana bisa akhirnya kami menyatu didalam percakapan sesederhana itu?”. Aku mulai menggelengkan kepala. Cinta tak bisa diartikan sesempit percakapan sederhana kemarin. Aku sign out dari sosmed yang kumiliki. Lalu otakku mulai menerjemahkan keberadaanmu saat itu. Kau yang selalu kulihat selepas ba’da Dzuhur dan Ashar untuk menunaikan shalat, kau yang selalu kulihat sering terlambat masuk sekolah dan dihukum dilapangan. Ahh, ternyata aku diam-diam memerhatikanmu. Sudahlah cukup. Aku tak ingin kembali menjatuhkan airmataku hanya untuk orang yang jarang menoleh padaku.
Di pesan oktober tiga tahun itulah aku mengungkapkan semuanya, termasuk perasaan yang sudah cukup lama tersimpan. Di pesan oktober tiga tahun itulah yang membawa kita sampai ditempat dimana kita berada sekarang. Dan di pesan oktober tiga tahun itulah, aku sering menertawakan “kita” yang menyatu karna obrolan singkat di pesan oktober tiga tahun yang lalu.
Dariku yang masih menyimpanmu diruang yang bernama,
Hati...
Selamat Malam, untukmu...
